Emil Salim: Dulu Hujan Deras Disambut Gembira, Kini DItakuti

426
Emil Salim

Sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim penghujan. Beberapa wilayah dilanda banjir, bahkan tempat yang sebelumnya belum pernah mengalami.

Musibah banjir dan tanah longsor di musim hujan mendapat tanggapan dari cendekiawan, Prof. Emil Salim.

Prof. Emil Salim menceritakan, dahulu hujan disambut dengan gembira, terutama oleh anak-anak.

“Dulu jika hujan deras turun, kami anak-anak penuh gembira bermandi telanjang dan semua menyambutnya gembira,” ujar Emil Salim sebagaimana dikutip SeputarTangsel.Com dari akun Twitter @emilsalim2010, Selasa 7 Desember 2021.

Menurut profesor yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup Indonesia, dulu masyarakat menilai hujan berarti air. Ada tanah, air, dan padi. Ketiganya merupakan pangkal kemakmuran bangsa Indonesia.

Sayangnya, saat ini kondisinya jauh berbeda. Hujan sering membawa musibah banjir dan tanah longsor.

“Itu pengalaman dulu. Kini hujan ditakuti, karena membawa banjir, longsor, dan petaka,” ungkap Emil Salim.

Cuitan Prof. Dr. Emil Salim yang juga seorang ekonom disukai oleh lebih dari seribu netizen. Beberapa di antaranya membalas di kolom komentar. Mereka setuju dengan penilaian sang profesor.

“Betul,Prof .. Nggak di kota, nggak di desa terjadi banjir, karena pembangunan tidak boleh berhenti akibat deforestasi,” ujar @Bordiantar4.

“Hutan Indonesia di awal tahun 70-an dibabat habis, kayu diekspor, hutan diterlantarkan, Akibatnya hujan menjadi malapetaka, banjir dan longsor,” ujar @HendiUnpad74.

Ani Hasibuan, salah seorang dokter yang juga aktivis sosial, mempertanyakan berapa lama eksploitasi dilakukan hingga mendatangkan bencana.

“Izin bertanya, Bapak. Apakah bencana banjir yang terus-menerus terjadi ini, hasil eksploitasi dalam 10 tahun terakhir atau sesungguhnya adalah hasil dalam 50 tahun terakhir?” tanya Ani Hasibuan dikutip SeputarTangsel.Com dari akun Twitter @tondimuh9, Rabu 8 Desember 2021.

“Seberapa lama dan massif eksploitasi dilakukan sehingga mendatangkan bencana kontinyu? Syukron dan sehat selalu, Bapak. Tabik,” sambung Ani Hasibuan. ***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

46 + = 49