Eks Petinggi Eijkman Beberkan 4 Sebab Vaksin Merah Putih Molor

394
Vaksin Merah Putih

Mantan Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Dr Amin Soebandrio mengungkapkan target vaksin Merah Putih dipastikan mundur dari rencana semula.

Semula Eijkman menargetkan uji praklinis selama tiga bulan pertengahan 2021. Kini mungkin mundur hingga ke awal 2023.

Selain karena faktor peleburan Eijkman ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), juga berkurangnya tenaga peneliti serta pendanaan.

“Iya, vaksin Merah Putih mengalami keterlambatan (antara lain) karena masalah funding (dana),” kata Amin Soebandrio, Rabu (5/1/2021).

Sejak Januari 2021, dia melanjutkan, tim riset Eijkman sudah mengusulkan untuk pengadaan alat.

Tapi hingga Desember lalu tak kunjung mendapatkan respons karena terbatasnya dana.

Dari pihak terkait mengarahkan agar tim memanfaatkan peralatan laboratorium milik LIPI di Cibinong, Bogor.

“Tapi para peneliti kesulitan bolak-balik dari Jl Diponegoro ke Cibinong, itu butuh 2-3 jam perjalanan,” kata Amin Soebandrio.

Alasan lain yang membuat molor dari target adalah permintaan pihak industri agar bibit vaksin yang sudah diserahkan pada Januari 2021 dilakukan optimasi di beberapa aspek.

Amin mencontohkan perlunya tambahan yield atau bibit vaksin menjadi banyak untuk proses industri bisa berjalan efisien.

Mereka juga meminta agar tim Eijkman meningkatkan kemurnian, dan imunisitasnya agar bisa dilanjutkan ke proses industrinya.

“Semua permintaan sudah selesai dipenuhi per Desember kemarin,” kata doktor bidang imunogenetik dari Universitas Kobe, Jepang, itu.

Selain dana dan alat, progress pengerjaan vaksin terdampak karena ada 3-4 penelitinya yang melanjutkan kuliah program doktoral di luar negeri mulai akhir 2021.

Sekarang, dengan peleburan Eijkman ke BRIN, otomatis beberapa asisten tim riset yang merupakan tenaga kontrak tak lagi bisa membantu.

Dari pihak industri pun akan meminta pembicaraan (negosiasi) ulang dengan BRIN terkait pendanaan tahap selanjutnya.

Masing-masing pihak akan minta klarifikasi kewajiban masing-masing.

Karena yang butuh dana banyak, kata Amin Soebandrio, adalah pada fase uji praklinis, sekitar Rp 50 miliar, dan Rp 400 miliar untuk uji klinis tahap I hingga III.

Hitungan kasarnya, untuk satu subjek butuh Rp 20 juta dikalikan 20 ribu orang seperti saran dari BPOM. Jadi totalnya sekitar Rp 450-500 miliar.

Dengan dana sebesar itu, harga produksi vaksin Merah Putih per dosis cuma berkisar Rp 1.500.

Asumsinya, jumlah vaksin yang dibutuhkan mencapai 400 juta dosis.

“Bila ongkos itu dinaikkan 10 kali lipat sebagai harga jual, masih sekitar Rp 10-15 ribu per dosis. Padahal vaksin yang tersedia di pasaran sekarang ini rata-rata di atas Rp 100 ribu,” papar Amin Subandrio, yang tercatat sebagai Guru Besar Kehormatan Fakultas Kedokteran Universitas Sydney.

Sumber Berita / Artikel Asli : Detik

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here