Eks Menkes Siti Fadilah dan Prof Amin Soebandrio Berdebat Gara-gara Sebut COVID-19 Senjata Biologis

671
Kolase foto Eks Menkes Siti Fadilah Supari dan Kepala LBM Eijkman Prof Amin Soebandrio /instagram @siti_fadilah_supari @aminsoebandrio

Mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari dan Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman/Pakar Mikrobiologi Klinik Prof Amin Soebandrio terlihat berdebat soal COVID-19 merupakan bioweapon (senjata biologis).

Perdebatan antara Eks Menkes Siti Fadilah dan Prof Amin Subandrio bermula tentang keanehan lonjakan COVID-19 yang menyebar secara explosive di beberapa negara termasuk Indonesia.

“Nah itu yang sangat penting prof, karena kalau anda (Prof Amin Soebandrio) tidak bisa menerangkan ini (COVID-19) berasal dari mana dan kemana, ini akan ada suatu spekulasi,” kata Eks Menkes di kanal YouTube-nya Siti Fadilah Supari Channel yang dikutip IsuBogor.com, Sabtu 7 Agustus 2021.

Lebih lanjut, Siti Fadilah kepada Prof Amin Soebandrio menyebutkan jika tidak ada yang bisa menjelaskan ke publik tentang asal muasal COVID-19 ini bukanlah suatu perjalanan pandemik biasa, akan terus menimbulkan spekulasi.

“Tapi mungkin juga bioweapon (senjata biologis) jika melihat gejalanya. Karena hal itulah yang memisahkan antara Bioweapon dengan pandemik yang aasli,” kata Siti Fadilah menerangkan kepada Prof Amin Soebandrio.

Kemudian, lanjut Siti Fadilah, jika memang virus ini senjata biologis, maka strategi pemerintah dalam menangani pandemik harus berbeda.

“Kalau sekarang dianggap pandemik biasa, strateginya ya memang seperti ini (PSBB hingga PPKM). Tapi jika strategi seperti ini, jumlah kasusnya masih terus banyak, kita harus tidak boleh ragu-ragu untuk beralih ke sesuatu hipotesis bahwa ini kemungkinan besar adalah bioweapon,” ungkap Siti Fadilah.

Tak hanya itu, Siti Fadilah mengajak Prof Amin Soebandrio untuk membayangkan jika pemerintah tidak tahu kapan terjadinya serangan dan dari negara mana hingga berapa beratnya.

“Lah bagaimana kita bisa mengantisipasi. Nah ini sesuatu yang sangat penting sebetulnya, mestinya Eijkman tidak usah diminta harus bisa memberikan pendapat-pendapatnya, karena Eijkman itu sudah international level bangetlah,” kata Siti Fadilah yang mengaku percaya sekali dengan lembaga yang dipimpin Prof Amin Soebandrio.

Dalam kesempatan itu, Prof Amin Soebandrio sebelumnya menyampaikan terima kasih terlebih dahulu kepda Siti Fadilah.

“Terima kasih atas kepercayaannya dokter Fadilah (Siti Fadilah). Jadi saat ini memang Eijkman menjadi laboratorium terbanyak memberi kontribusi untuk genome sequence dari 3000 an sekarang genome sequence dari Indonesia,” ungkap Prof Amin Soebandrio.

Menurutnya, memang benar Indonesia harus menggunakan informasi genetik virus itu untuk melakukan tracing dan tracking.

“Artinya tidak hanya melihat pergerakan atau mengidentifikasi siapa saja yang pernah kontak dengan seseorang yang positif. Tapi juga untuk melihat apakah memang ada pola-pola tertentu dari virus itu,” kata Prof Amin Soebandrio yang sempat dipotong Siti Fadilah mempertanyakan dari mana asal virus COVID-19 ini.

“Nanti akan ketemu langsung itu, walaupun kadang-kadang tidak usah dengan pola, tapi dengan pola-pola penyebaran itu sudah kelihatan (bioweapon),” ungkap Siti Fadilah yang kemudian dipotong kembali oleh Prof Amin Soebandrio.

“Ya, kan kita mesti, kita mesti membuktikan secara ilmiah,” kata Prof Amin Soebandrio sambil tertawa.

Tak mau kalah, Siti Fadilah langsung mendebat kembali bahwa perlunya bukti ilmiah itu secara definitely sudah ilmiah juga.

“Tapi untuk definitely kita harus pakai data-data genetic warfare dari mana itu perjalanannya, kemana. Sebab sampai sekarang itu tidak pernah. Yang di Wuhan (China) itu juga tidak jelas dari mana dan seperti apa, padahal itu penting,” jelas Siti Fadilah.

Prof Amin Soebandrio langsung menegaskan bahwa sebetulnya secara teoritis jika Indonesia memiliki sequences-nya itu akan dengan mudah mengetahui virus ini.

“Apakah ada kaitannya dengan virus di lab tertentu. Itu kan sudah diterapkan sejak lama yang namanya Microbiologic Forensic atau Forensik Mikrobiologi, jadi kita menggunakan sequence itu termasuk pola mutasinya sebagai sidik jari,” kata Prof Amin Soebandrio.

Sehingga, lanjut Prof Amin Soebandrio dengan menggunakan forensik mikrobiologi, maka bisa terlihat apakah mutasi ini terjadi secara random atau terpola.

“Kalau terpola berartikan by desain, by desain itu dibikin oleh katakanlah yang tadi dokter Fadilah sebutkan ada intensional use dari mikroba, tapi itu biasanya akan kelihat dari mutasi-mutasinya secara terpola,” ungkap Prof Amin.

Kembali Siti Fadilah menyanggahnya dan meminta LBM Eijkman meneliti tentang pola penyebaran virus COVID-19 ini.

“Itu harus diteliti loh prof, sangat berguna bagi masyarakat kita. Biar pemerintah itu bisa membuat kebijakan yang pas,” kata Siti Fadilah.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here