Eijkman Dilebur, Eijkman Babak Belur

282
Eijkman

Kabar tentang rencana peleburan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBM Eijkman) sudah muncul sejak delapan bulan lalu. Belakangan setelah benar-benar dilebur di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), namanya diubah menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman (PRBM Eijkman).

Peleburan merupakan konsekuensi dari Pasal 48 Undang-undang nomor 11 tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pasal tersebut mengatur tentang pembentukan BRIN.

Peraturan Presiden kemudian diterbitkan sebagai aturan turunan UU tersebut seperti Perpres nomor 33 tahun 2021 dan Perpes nomor 78 tahun 2021 untuk memastikan arah riset sesuai haluan Pancasila.

Perpres itu berdampak pada 39 institut/lembaga penelitian milik Negara, termasuk yang bernaung di bawah kementrian. Eijkman tidak terkecuali. Meski kerap dipandang sebagai lab independen atau bahkan non-pemerintah, Eijkman tetap dianggap merupakan unit riset negara karena bernaung di bawah Kemenristek (dibubarkan sejak 2021).

Dalam 30 tahun keberadaannya, menurut Ketua BRIN LT Handoko dalam wawancara dengan Program Newscast CNN Indonesia Selasa (05/01), Eijkman bermasalah dalam pengelolaan kelembagaannya. Handoko tak merinci apa masalah yang dimaksud.

“Eijkman itu memakai dana APBN, memakai uang negara, melalui Kemristek. Jadi itu tidak bisa dibenarkan, praktik seperti itu. Kalau kita pakai uang negara ya harus mengikuti pemerintah,” kata Handoko.

“Itu problem lama sejak 30 tahun lalu. Kita semua tahu itu, yang lebih dalam. Kelembagaannya problem,” lanjutnya.

Yang tak banyak diduga adalah tata cara peleburan yang akhirnya membuat Eijkman porak-poranda. Banyak pegawai tak siap karena kabar penentuan status pegawai dianggap belum jelas sebelumnya.

“Kami (sempat) mendengar kabar soal ini. Tetapi dari mulut ke mulut, orang per orang. Itu kan bikin bingung. Sementara keputusan kelembagaan kan mestinya resmi, dengan bersurat, supaya bisa kita pegang sebagai dasar,” kata Profesor Herawati Supolo-Sudoyo, Kepala Laboratorium Genome Diversity Eijkman.

Menyelamatkan Staf

Hera dan para peneliti senior Eijkman dibuat terperangah ketika Kepala BRIN menunjuk Dr Wien Kusharyanto menggantikan kepala Eijkman, Prof Amin Subandrio September lalu. Penggantian itu menurut Hera dilakukan tanpa pemberitahuan di tengah fokus Eijkman pada vaksin Merah Putih dan sederet proyek riset lain.

Puncaknya pada Oktober pegawai mendapat pemberitahuan BRIN tentang syarat peleburan terkait status sekitar 160 pegawai Eijkman. Mereka yang belum berstatus ASN diminta mengikuti beberapa skema ASN yang ditawarkan BRIN agar tak diberhentikan.

Skema ini menurut Kepala BRIN Laksana Tri Handoko adalah cara agar pegawai tak kehilangan pekerjaan.

“Yang diberhentikan itu kemudian harus diberhentikan karena kita tidak bisa merekrut orang seenaknya sendiri. Tetapi itu kan kami kemudian memberikan opsi: jadi itu dari 71 periset yang non-PNS. Yang honorer sudah 3 kami minta untuk ikut penerimaan ASN bulan Oktober kemarin dan semua tidak ada yang mundur. Bulan Desember sudah keluar hasilnya dan semua diterima.”

Tetap saja masih ada lebih dari 110 orang dengan status non-ASN. Asisten peneliti, yang merupakan tulang punggung kegiatan lab dan sebagian besar adalah pegawai dengan pendidikan S2, diminta mengurus bukti penerimaan studi S3 agar dapat menjadi ASN. Tetapi kepada mereka diberikan waktu pengurusan hanya sebulan. Beberapa akun di laman Twitter menceritakan pengalaman sebagai pegawai Eijkman dan kemustahilan memenuhi syarat skema penerimaan ASN ini.

Akademi Ilmuwan Indonesia, ALMI, dalam rilis yang terbit Rabu (06/01) mengkritisi tata cara tersebut. Keputusan melebur Eijkman, menurut ALMI, “diambil dan diterapkan tanpa kebijakan transisi dengan waktu dan informasi yang memadai. Hal ini menyebabkan diskontinuitas sebuah tim riset kelas dunia yang solid.”

Sejak ramai diberitakan soal kisruh dan perombakan Eijkman, alumni Eijkman menurut Hera Supolo mendapat berbagai tawaran dari universitas, kementerian dan kalangan industri dalam dan luar negeri.

“Beberapa universitas mengulurkan tangan, menawarkan bantuan: UGM, UI. Tapi dengan waktu satu bulan, ini sangat sulit jadi tidak dimungkinkan,” kata Hera.

Dalam upaya menyelamatkan serangkaian penelitian yang masih bisa diselamatkan, para peneliti senior telah bertemu dengan pimpinan RSCM yang selama ini merupakan pemilik lahan laboratorium sekaligus pemakai sebagian jasa laboratorium Eijkman. Pertemuan menyepakati setidaknya sebagian kegiatan lab tetap berada di kawasan.

“Sudah disepakati alat dan lab yang dipakai untuk kepentingan RSCM, seperti Lab Genetika Klinik, Lab Nutrisi, bisa tetap dipertahankan di RSCM. Jadi kami yang masih bisa bekerja ya tetap bekerja karena proyek kan harus tetap jalan,” tambahnya.

Korban pertama peleburan selain pegawai adalah nasib surveilans genom SARS-CoV 2 di Indonesia. Eijkman dengan Lab BSL-3 nya sudah terbukti dengan kemampuan deteksi patogen pada manusia lengkap dengan tenaga cakap untuk mengoperasikannya.

Sejak pandemi sudah ribuan genom Covid disekuens oleh lab Eijkman melalui proyek Waspada Covid (WasCov). Proyek ini sangat penting menandai pandemi di Indonesia karena merupakan yang pertama mengidentifikasi kasus Covid pada Februari 2020 setelah Pemerintah selama dua bulan membantah penularannya di Indonesia.

Tim WasCov Eijkman mengucapkan selamat tinggal melalui posting di Twitter awal pekan lalu, tanpa merinci alasannya.

Kehilangan tim surveilans dan sekuens genom Covid di Eijkman juga meninggalkan pertanyaan mengingat rencana menjadikan Indonesia sebagai salah satu hub untuk surveilans pandemi global yang rencananya akan diresmikan pada pertemuan G20 tahun ini di Indonesia.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1621051535763-0’); });

Habibie, Ejikman dan Cita-cita Lab Kelas Dunia

Saat menghidupkan kembali Eijkman yang sempat mati suri sejak era 1960an, cita-cita Bachruddin Jusuf Habibie tahun 1992 adalah menciptakan laboratorium riset kesehatan kelas dunia.

Menristek era Orde Baru yang kemudian menggantikan Suharto sebagai presiden ini punya mimpi besar menjadikan Jakarta sebagai hub untuk riset kesehatan berbasis biologi molekuler.

Awal ’90an ditandai dengan munculnya berbagai industri bioteknologi di seluruh dunia, termasuk dengan dibukanya Institute for Molecular Cell and Biology (IMCB) di Singapura yang diresmikan tahun 1987. Pemerintah Singapura menargetkan IMCB sebagai sentra pengembangan dan dukungan untuk kapasitas R&D bidang biomedis.

“Nah Pak Habibie bercita-cita Indonesia punya lab dengan kualitas begitu. Pokoknya kita harus jadi pesaingnya, karena menyadari bahwa ke depan bioteknologi akan sangat penting,” kata Herawati Supolo-Sudoyo.

Hera saat itu tengah menempuh studi doktoral di Universitas Monash Australia di bawah bimbingan seorang profesor kelahiran Medan, yang juga kepala Lab Biomolekuler di Monash, Sangkot Marzuki.

Seperti Suharto membujuknya agar pulang kampung dari Jerman, Habibie kemudian membujuk Sangkot yang sudah 17 tahun berkarier di Monash, agar mau pulang dan memimpin laboratorium biomolekuler di Jakarta.

Habibie memutuskan tetap menggunakan nama Eijkman sebagai branding untuk laboratorium baru yang akan dipimpin Sangkot. Nama itu dianggap bersejarah dan bernilai karena Hadiah Nobel Christiaan Eijkman tahun 1928 diperoleh saat meneliti di Batavia.

Habibie juga yang meminta pada Menteri Kesehatan saat itu agar Gedung Eijkman yang berada di bawah naungan RSCM dipinjamkan untuk kegiatan laboratorium ini.

Pendeknya, Habibie memberi dukungan all in.

“Laboratorium Eijkman saja alatnya lebih lengkap dan lebih canggih dari yang dimiliki Monash waktu itu,” kata Hera dengan senyum bangga.

Peralihan kekuasaan akibat benturan hebat Krisis Moneter 1997-1998 kemudian memaksa Eijkman mengerem berbagai proyek yang sedang berjalan. IMCB sempat menawarkan ‘menyelamatkan’ para peneliti Eijkman bedol desa ke Singapura. Tawaran ini dianggap sebagai bentuk pengakuan atas kualitas para peneliti Eijkman meski kemudian tak diterima.

Jangan diutak-atik

Pengakuan terhadap Eijkman makin kukuh hampir 25 tahun sesudahnya. Di laman resmi Eijkman.go.id terdapat 45 nama lembaga internasional dan 25 nama lembaga lokal yang menjadi mitra proyek penelitian Eijkman.

“Eijkman memang world class,” komentar pendek Ahmad Rusjdan Utomo, ahli biologi molekuler dan pengajar biomedik di Universitas Yarsi.

Keunggulan Eijkman di arena lab biomolekuler di Indonesia menurut Ahmad adalah karena mapannya kultur penelitian yang ideal.

“Mereka sudah punya pohon penelitian dimana para penelitinya istiqomah dengan pohon tersebut, seperti ‘pohon penelitian’ malaria, demam berdarah, genetik antropologi/evolusi, hepatitis dll,” puji Ahmad.

Rekrutmen Sangkot oleh Habibie, menurut Ahmad adalah kunci kualitas lab Eijkman. Ketika Sangkot membawa serta tim sekaligus kultur penelitian dari Monash, standar kualitas penelitiannya kemudian ditumbuhkembangkan di Indonesia. Akibatnya mitra peneliti dan funding agency yang kenal Prof Sangkot mempercayai reputasinya.

Ahmad menyayangkan reputasi dan kinerja Eijkman ini harus diganggu dalam proses integrasi dengan BRIN karena alasan sistem kepegawaian.

“Harusnya BRIN fokus mempertahankan dan meningkatkan kinerja tim peneliti yang existing jangan diutak-atik gara-gara kepegawaian,” kata Ahmad.

Utak-atik lembaga ini juga membuat mitra riset Eijkman kalang-kabut. Kepada CNN Indonesia, salah satu mitra penelitian Eijkman mengatakan memilih mengalihkan kerja sama risetnya pada salah satu universitas negeri di Indonesia.

Riset pada lembaga pendidikan tinggi (Dikti) dianggap lebih aman dari campur tangan agenda BRIN/pemerintah karena berada di bawah naungan Kemendikbud.

Senada dengan Ahmad, ALMI mencatat peleburan Eijkman berpotensi menghapus infrastruktur kelembagaan LBM Eijkman yang telah membangun dan menerapkan salah satu kultur akademik terbaik di Indonesia.

Sampai saat ini belum jelas bagaimana PRBM Eijkman akan bekerja setelah integrasi.

BRIN menyediakan Gedung Genomik di Cibinong Science Center Jawa Barat sebagai lokasi baru Lab PRBM Eijkman. Lab tersebut diklaim memiliki kesamaan alat dan fasilitas untuk riset kesehatan dan manusia seperti yang dilakukan Eijkman selama ini.

Sumber Berita / Artikel Asli : cnnindonesia.

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here