Dunia di Ambang Siaga Omicron, Raksasa Farmasi AstraZeneca, Pfizer dan Moderna Berpacu Temukan Vaksin Terkuat

483

Para ilmuwan berpacu melawan waktu “merevisi” vaksin yang ada saat ini agar bisa meawan varian Covid baru yang menyebar dengan cepat.

Strain bernama Omicron yang ditetapkan sebagai varian kategori berisiko tertinggi oleh Organisasi Kesehatan Dunia itu, telah mencapai Inggris, Belgia, dan Kanada setelah ditemukan di Afrika Selatan.

Badan kesehatan PBB sempat memicu kepanikan usai memperingatkan bahwa bukti awal menunjukkan mutasi teranyar Covid memiliki peningkatan risiko infeksi ulang dan lebih menular daripada jenis lainnya.

Ilmuwan Inggris sebelumnya mengatakan Omicron bisa jadi resisten terhadap vaksin.

Menteri Kesehatan Sajid Javid yang melarang penerbangan dari Afrika Selatan, Botswana, Lesotho, Eswatini, Zimbabwe dan Namibia kemarin, mengatakan ada ‘keprihatinan internasional yang besar’ terkait mutasi terbaru virus Covid.

Dikutip Galamedia dari DailyMail, pekan ini, menanggapi perkembangan terakhir Omicron, sejumlah perusahaan farmasi menyatakan mereka mulai merevisi vaksin agar adaptif dengan kemampuan melawan varian baru.

AstraZeneca bekerja sama dengan Universitas Oxford mengklaim telah mengembangkan vaksin yang memungkinkannya merespons cepat varian baru.

Mereka juga dan sudah melakukan penelitian di lokasi di mana varian ini diidentifikasi.

Sementara Pfizer dan BioNTech mengatakan jika ada varian yang dapat lolos dari efek vaksin, maka mereka akan mengembangkan dan memproduksi vaksin yang dibuat khusus untuk varian tersebut dalam waktu sekitar 100 hari, tergantung pada persetujuan penggunaan sesuai regulasi.

 

Novavax mengatakan pihaknya sudah memulai pengembangan protein rekombinan baru berdasarkan urutan genetik B.1.1.529 dan akan memulai pengujian serta  pembuatan dalam beberapa minggu ke depan.

Sedangkan Moderna menyebut sejak awal 2021 mereka telah mengembangkan strategi komprehensif untuk mengantisipasi varian baru.

Strategi ini mencakup tiga tingkat respons jika dosis penguat 50 mikrogram mRNA-1273 yang saat ini disahkan terbukti tidak cukup untuk meningkatkan kekebalan yang berkurang terhadap varian Omicron.

Profesor Sir Andrew Pollard, direktur Oxford Vaccine Group menyatakan optimismenya bahwa vaksin yang ada bisa efektif mencegah penyakit serius dari varian Omicron.

Berbicara kepada program Today BBC Radio 4, ia menambahkan sebagian besar mutasi berada di wilayah sama di mana pada varian Covid lainnya teridentifikasi.

Uni Eropa, AS, dan Kanada mengikuti langkah Inggris memberlakukan pembatasan perjalanan bagi pendatang dari Afrika Selatan sebelum WHO memasukkan B.1.1.529 ke dalam kategori varian berisiko tertinggi.

Pollard mengatakan pengembangan vaksin baru untuk memerangi Omicron dapat dimulai dengan sangat cepat jika memang diperlukan.

Marc Van Ranst, ahli virus dari Rega Institute Belgia mengatakan sampel varian Omicron seorang pelancong yang kembali dari Mesir pada 11 November menunjukkan gejala dirasakan penderita 11 hari kemudian.

Meski demikian, Profesor Brendan Wren dari London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan agar semua pihak tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan.

 

Ia menambahkan para ilmuwan akan dapat memodifikasi vaksin yang dapat melawan serangan varian baru.

“Dalam pertempuran melawan virus, umat manusia akan menang  dan kami siap. Ini bukan kali varian pertama ataupun yang terakhir,” tulisnya di DailyMail.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Galamedia

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

57 − = 48