Dikira Jokowi Panik Dikepung Aksi Mahasiswa, Padahal Cerdik Ngatur Strategi

1560

JAKARTA – Aksi mahasiswa kembali akan digelar hari ini, Selasa (24//9/2019). Bukan hanya di Jakarta, tapi juga di sejumlah daerah di Indonesia.

Aksi tersebut didasari penolakan RUU KPK yang dinilai melemahkan lembaga antirasuah tersebut dan RKUHP yang dinilai penuh dengan kontroversi.

Pengamat politik dari Universitas Dr. Soetomo Surabaya, Redi Panuju meyakini, aksi mahasiswa itu tidak akan bertahan lama.

Alasannya, pemerintah pasti tidak akan mau menanggung beban politik yang terlalu besar.

Demikian disampaikan Redi Panuju dikutip PojokSatu.id dari RMOLJatim, Selasa (24/9).

“Gerakan mahasiswa tak akan lama, bukan bertahan lama, sebab Presiden Jokowi tak mau menanggung ongkos politik bila diam seribu bahasa,” katanya.

Di sisi lain, aksi mahasiswa itu lantas memunculkan tagar #TurunkanJokowi di media sosial.

Banyak pihak menyebut, orang nomor satu di Indonesia itu tengah dalam kondisi panik karena dikepung aksi mahasiswa yang masif di berbagai daerah.

Akan tetapi, Redi tak sependapat dengan hal itu. Ia menilai, Presiden Jokowi bukanlah sosok yang menyikapi problem dengan kepanikan.

Sebaliknya, menurutnya, suami Iriana itu merupakan sosok yang pandai mengatur strategi.

Redi menilai, Jokowi dalam mitos Jawa termasuk golongan orang yang ‘nyolong petek’ (mencuri perhatian).

“Artinya orang cerdik dan pandai, tapi tidak kelihatan,” jelasnya.

Selain itu, gaya Jokowi yang terlihat lemah dan tak berdaya bukan merupakan sifat asli di dalamnya.

“Kelihatannya tak berdaya, lemah, tapi sebetulnya sangat powerfull, kuat. Beliau sosok yang piawai menggoreng isu,” pungkasnya.

#TurunkanJokowi vs #GejayanMemanggil

Sebelumnya, tagar #TurunkanJokowi ramai dan menjadi trending topic di media sosial sejak semalam hingga Selasa (24/9) pagi.

Analis Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi pun membongkar otak di balik tagar tersebut.

Ismail Fahmi melakukan analisis singkat #TurunkanJokowi dengan membandingkan pola tagar tersebut dengan #GejayanMemanggil yang juga sempat trending topic.

“Dari data tren 22-24 September kedua tagar, tampak #GejayanMemanggil lebih dahulu muncul dengan volume yang tinggi,” kata Ismail Fahmi di akun Twitternya, @ismailfahmi, Selasa (24/9).

“Tagar #TurunkanJokowi baru muncul jam 11:00 tgl 23 Sept. Dan tiba-tiba naik pesat pukul 21:00. Menjelang tengah malam,” tambahnya.

Ismail menambahkan, dibandingkan dengan #GejayanMemanggil, volume #TurunkanJokowi masih jauh lebih kecil.

“Kita lihat peta SNA #TurunkanJokowi. Sangat jelas ada satu cluster besar. Dengan akun-akun yang berbeda dari akun penggerak #GejayanMemanggil,” tambahnya.

Dikatakan Ismail, untuk mengetahui apakah #TurunkanJokowi bikinan mahasiswa, bisa dilihat dari SNA perbandingan tagar tersebut dengan #GejayanMemanggil.

“Ternyata ada dua cluster besar. Tagar #TurunkanJokowi ternyata bukan bagian dari mereka yang mengangkat #GejayanMemanggil. Seperti buatan oposisi,” katanya.

Ismail pun menunjukkan top influencer untuk tagar #TurunkanJokowi.

“Kita zoom SNA kedua tagar tersebut. Di antara kedua cluster tampak relasi yang kuat. Menandakan dukungan oposisi yang besar kepada gerakan mahasiswa #GejayanMemanggil,” lanjutnya.

Namun oposisi ternyata juga punya tagar baru #TurunkanJokowi. Akun mahasiswa tidak mengamplifikasi tagar ini.

“Closing. Gerakan mahasiswa seperti ini bakal mudah disusupi. Narasi baru di luar tuntutan mahasiswa bisa muncul baik di media sosial, atau saat orasi di lapangan. Mahasiswa perlu waspada, cerdas, dan tetap damai,” tandas Ismail.

(ruh/one/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 75 = 76