Covid-19 Masih Menggila, Guru Besar Ilmu Fisika Teori: Butuh Pemimpinan yang Sadar Akan Sains

356
Guru Besar Bidang Ilmu Fisika Teori Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Agus Purwanto

Pandemi Covid-19 yang berlangsung hingga saat ini menjadi cermin yang menunjukkan bahwa umat Islam masih berjarak dengan sains.

Tesis tersebut dibuktikan dengan sebagian masyarakat yang masih tidak percaya bahwa virus ini nyata, meski ratusan ribu jiwa telah melayang.

Melihat fenomena ini, Guru Besar Bidang Ilmu Fisika Teori Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Agus Purwanto menyebut Covid-19 ini mengajarkan tentang pentingnya sains.

Virus corona dengan berbagai varian barunya menular dengan cepat, agar tidak tertular baiknya selalu taat prokes (protokol kesehatan).

Di Indonesia pada bulan Juni sampai Juli 2021 terjadi peningkatan sangat pesat angka tertular covid-19, jumlah korban meninggal hariannya tertinggi di dunia.

Akibatnya Indonesia sempat disebut sebagai negara paling berbahaya di dunia.

“Data juga memperlihatkan bahwa ada ratusan ulama, kyai atau ustadz meninggal karena Covid, artinya Covid tidak menyeleksi apakah calon korban itu orang taat beragama atau tidak,” kata Prof Agus Purwanto seperti dilansir muhammadiyah.or.id. Minggu, 1 Agustus 2021.

Meski tidak bisa dianggap berhasil, namun kebijakan pembatasan mobilitas masih bisa digunakan sebagai salah satu cara pencegahan.

Prof Agus menyarankan, terkait dengan kebijakan pembatasan mobilitas harus setali tiga uang dengan efeknya. Artinya jangan hanya tegas dalam pembatasan namun lemah dalam penjaminan hidup masyarakat.

“Demikian pula untuk vaksinasi, diperlukan gerakan masif dan terpadu vaksinasi bagi masyarakat. Nyatanya tidak sedikit masyarakat tidak paham pentingnya vaksinasi, di sini diperlukan kepercayaan dari pemimpin, bahwa pemimpin memang mau menyelamatkan masyarakatnya bukan sedang mencari keuntungan dengan jualan vaksin,” ungkapnya.

 

Prof Agus menyarankan supaya masyarakat diedukasi tentang pentingnya sains dan bertindak secara sains.

Selain itu, juga dibutuhkan pemimpin yang sadar akan sains, sehingga produk kebijakannya tidak asal-asalan dan bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Lebih-lebih membenturkan dan mengatasnamakan agama untuk menolak sains.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Galamedia

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here