Cerita Ruslan Buton Tangkap TKA China, Dirayu Mayor TNI Sekantong Uang Suruh Lepaskan

577
Ruslan Buton

Nama Ruslan Buton pernah menghebohkan publik beberapa waktu lalu. Ketika itu, eks Kapten TNI itu pernah membuat surat terbuka pada Jokowi untuk mundur sebagai presiden RI. Belakangan Ruslon dipenjara akibat surat tersebut.

Kini, sosoknya nampak di saluran Youtube Refly Harun. Ruslan Buton dengan menggunakan baret khas TNI, mencurahkan banyak cerita seputar dirinya. Salah satunya ketika dia bertugas menjadi anggota TNI, menjaga pos di Pulau Tali Abo. Seperti apa ceritanya?

Kisah itu dimulai ketika suatu siang di 2017, saat berjaga di pos, dia melihat banyak sekali TKA China masuk ke perkampungan warga. Dengan menggunakan topi kuning, mereka membuat penasaran Ruslan.

Dia lantas bertanya pada kepala desa setempat soal aktivitas mereka. Ada 5 orang China yang dicegat Ruslan, namun herannya mereka hanya mengeluarkan bahasa isyarat. Diajak berbicara bahasa Inggris saja juga tak bisa.

“Saya tanya, kalian dari mana? Tak menjawab hanya pakai isyarat juga. Saya minta tunjukkan paspor dan visa, tak ada. Saya heran kalau mereka tenaga ahli, enggak mungkin mereka enggak bisa bahasa Inggris, bahasa pasar minimal mereka bisa, ini enggak bisa,” katanya, dikutip Hops.id, Senin 6 September 2021.

“Saya yakin mereka pekerja kasar,” katanya.

Ruslan Buton ditemui Mayor TNI

Apa boleh buat, Ruslan langsung mengamankan kelima TKA China tersebut. Benar saja, tak butuh waktu lama, ada tim dari lokasi pekerja yang mendatanginya. Di antaranya seorang perwira TNI berpangkat mayor, dan seorang Polisi berpangkat AKBP bersama personel-personelnya.

Ruslan ditemui di pos, tempat di mana dia menangkap 5 TKA China ilegal. Ketika itu, Ruslan Buton mengaku sudah siap menghadapi mereka, lantaran sudah berkomunikasi lebih dulu dengan pihak imigrasi terkait identitas kelima orang yang ditangkapnya.

“Saya juga enggak bodoh, setelah saya tangkap saya tanya (telepon) ke imirasi Ternate, kata mereka enggak ada datanya, Berarti kan itu ilegal. Saya jadi punya kekuatan hukum untuk menghadapi mereka,” katanya.

Ruslan lantas dibujuk para tim baik personel aparat untuk melepas ke-lima TKA China itu. Ruslan yang pernah diamankan gegara membunuh preman itu, berkeras tak mau melepasnya.

“Syaratnya cuma satu, tunjukkan identitas keimigrasiannya, paspor, visa, baru saya lepas,” katanya.

Malamnya, si Mayor TNI itu kemudian menemuinya lagi di pos. Ruslan lantas dirayu dengan sekantong uang. Uang itu dikeluarkan usai perdebatan alot tak menemui hasil.

“Dia panggil saya ke pojokan. Intinya mereka minta lepaskan mereka, ‘kayak enggak kenal aja’. Tentunya ada embel-embel uang satu plastik dikeluarkan.”

“Bang mohon maaf (ke mayor), saya butuh uang iya, tapi saya enggak terima karena ini menyangkut negara. Saya enggak mau jadi pengkhianat bangsa. Abang mau jualan atau cari makan di sana oke, dan kalau abang kasih uang tapi tak ada kaitannya dengan mereka saya terima. Tapi kalau karena mereka enggak mau,” katanya.

Akhirnya dilepas

Besoknya, tim dan Mayor TNI itu akhirnya kembali lagi. Dia datang lengkap dengan data-data baru imigrasi. Ruslan menduga, dia sudah berkontak dengan pihak imigrasi.

Tiba-tiba pihak imigrasi lalu menelepon Ruslan. Dan bilang kalau dokumen kelima TKA China itu ada, dan dalam masa perpanjangan.

“Mau bagaimana lagi, saya enggak punya kekuatan hukum. Padahal mereka tunjukkan fotokopi dokumen mereka cuma kunjungan wisata kok bisa kerja. Akhirnya saya lepas. Itu waktu heboh sepekan sebelum saya hilangkan nyawa preman,” katanya.

Ruslan juga mengaku tiap personel TNI yang bertugas di pos sana, pasti selalu bersilaturahmi dengan petugas pos TKA China. Tiap bulan, mereka bahkan dikatakan dapat bantuan Rp2 juta per bulan.

“Saya adalah satu-satunya orang petugas yang bertugas di sana tapi tak pernah silaturahmi ke sana. Saya enggak minta, tapi tetap dikasih bantuan. Uangnya saya ambil, toh saya enggak minta, yang penting saya tetap tak mau ikuti arahan mereka,” katanya.

Sumber Berita / Artikel Asli : HOPS

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here