Blok Politik Pelajar Batalkan Aksi Jokowi End Game: Karena Ancaman dan Teror Sejak Malam Hari

503

Blok Politik Pelajar (BPP) akhirnya membatalkan aksi Jokowi End Game yang rencananya digelar di depan Istana Kepresidenan, Jakarta, Sabtu 24 Juli 2021.

Pembatalan BPP melakukan aksi Jokowi End Game karena berbagai alasan, diantaranya terkait ancaman dan teror yang menimpa para penggagas.

Bahkan di akun media sosial twitter @bpp_org menyebarkan rilis soal pembatalan aksi Jokowi End Game menyebut ada 3 orang penggagas BPP yang mendapatkan intimidasi.

Dalam rilis singkat BPP mengungkap selain alasan dibatalkan juga karena situasi yang tak memungkinkan.

“Jauhkan titik aksi yang tersebar di sosial media. Untuk teman-teman yang memiliki informasi mengenai kabar penangkapan, bisa DM Instagram kami, akan kami bantu advokasi hukum,” tulis akun tersebut.

Kemudian, aksi konvoi Blok Politik Pelajar (BPP) dibatalkan karena lokasi start Konvoi sudah dikepung aparat TNI/Polri.

“3 orang penggagas BPP mendapatkan intimidasi, ancaman dan terror sejak malam hari tadi. Beberapa tempat tinggalnya didatangi orang tidak dikenal. Hingga kehilangan akses terhadap akun Whatsapp,” ungkapnya.

Selain itu, BPP juga menduga ada aparat di sekitar Trisakti sedang membagikan bansos untuk warga.

“Jangan mudah percaya dan terprovokasi oleh kabar simpang siur di server Discord, terutama mengenai kerusuhan,” paparnya.

 

Selain itu, dalam rilis tersebut menghimbau para peserta aksi untuk belajar menjadi cair agar tidak terpusat pada satu titik.

“Jangan punya titik lokasi khusus, ingat ini bukan aksi pamungkas, ini aksi serentak berhari-hari,” katanya.

Terkait dengan itu, dalam pernyataan rilis BPP semakin terpusat semakin polisi senang, semakin menyebar, semakin alat taktis bingung ditempatkan.

Rilis singkat Blok Politik Pelajar atas situasi hari ini.  

 

“24 Juli 2021 merupakan hari awal dari musim perlawanan ini. Jika hari ini gagal, kembali dahulu, atur strategi lagi,” katanya.

Seperti diketahui, BPP merupakan organisasi tanpa bentuk yang digagas oleh Delpedro Marhaen salah satu mahasiswa Universitas Tarumanegara.

Nama Delpedro ramai diperbincangkan karena mendukung BEM UI yang mengkritik Presiden Jokowi sebagai King Of Lips Service.

Bahkan, Delpedro sempat berdebat dengan akademisi sekaligus influencer pemerintah Ade Armando.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here