Berani Kritik KSAD Dudung Soal Tuhan Bukan Orang Arab, Shamsi Ali Kena ‘Semprot’ Ade Armando

486
Denny Siregar dan Ade Armando. (Voa Islam)

Dosen ilmu komunikasi Universitas Indonesia (UI), Ade Armando ikut menanggapi pernyataan kontroversial Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman soal ‘Tuhan bukan orang Arab‘.

Pernyataan tersebut dilontarkan Jenderal Dudung dengan menyebut ‘Tuhan bukan orang Arab‘  saat menjadi bintang tamu di podcast Deddy Corbuzier, beberapa waktu lalu.

“Kalau saya berdoa setelah salat, doa saya simpel aja, ya Tuhan pakai bahasa Indonesia saja, karena Tuhan kita bukan orang Arab,” ujar Dudung.

 

Dinilai kontroversial, perrnyataan itu pun menuai kritik dari sejumlah pihak. Salah satunya oleh Imam Masjid New York Shamsi Ali.

Shamsi Ali mengkoreksi pernyataan Jenderal Dudung kalau Tuhan bukan orang sehingga tidak bisa dibatasi dengan etnis atau bangsa tertentu.

 

Membela pernyataan Jenderal Dudung, Ade Armando pun menyebut bahwa para pengkritik Dudung merupakan orang yang cacat logika.

Menurut Ade, Jenderal Dudung jelas tidak pernah bilang ‘Tuhan bukan orang Arab.’ Apa yang disampaikan merupakan silogisme kategorik yang merupakan pelajaran logika dasar. Menurutnya, untuk sampai pada konklusi (kesimpulan) kita harus mempelajari premis mayor dan minornya.

“Contoh, premis mayornya, semua makanan yang mengandung babi haram. Premis minornya, bacon adalah babi. Maka konklusinya bacon haram. Sekarang kita gunakan silogisme ini dalam pernyataan Dudung. Premis mayornya Allah bukan manusia, premis minornya orang Arab adalah manusia. Konklusinya, orang Arab pasti bukan Allah. Atau Allah pasti bukan orang, sederhanakan?” tegas Ade Armando dalam kanal Youtube CokroTV dikutip dari ERA.id, Jumat 3 Desember 2021.

 

Atas logika itu, Ade Armando mempertanyakan di mana letak kesalahan Jenderal Dudung. Menurutnya, mantan Panglima Komando Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) itu justru memastikan secara tegas bahwa Tuhan melampaui etnis dan ras tertentu.

“Gimana sih (Shamsi Ali), kan memang Dudung bilang doa itu tidak harus dikaitkan dengan etnis atau ras apapun. Dudung bilang Tuhan itu berada di atas bangsa dan ras, jadi berkomunikasi dengan Tuhan tidaklah harus dengan bahasa bangsa tertentu. Kurang jelas apa lagi sih pernyataan Dudung kok malah dipandang keliru?,” ujar Ade Armando.

Lebih lanjut, Ade menambahkan, ada kekacauan berpikir yang datang dari para imam Islam ini sehingga tidak mampu membaca secara sederhana apa yang dimaksud oleh Dudung.

Ade menganggap Jenderal Dudung hanya ingin mengatakan bahwa berkomunikasi dengan Tuhan itu sederhana, menggunakan bahasa yang biasa kita gunakan.

“Tidak usah capek-capek berdoa dengan bahasa yang tidak kita kenal. Tuhan itu Maha Besar dan maha tahu dia tentu paham kalau kita berbicara pada-NYA dengan bahasa sendiri,” katanya.

“Perlu dicatat ya, bahwa Dudung mengatakan doa berbahasa Indonesia itu dia ucapkan selesai salat. Jadi doa dalam salatnya dalam bahasa Arab tapi doa sesudah salatnya dalam bahasa Indonesia,” sambung Ade Armando.

Meski begitu, menurut Ade Armando, apa yang disampaikan imam pengkritik Dudung merupakan cerminan dari pertarungan wacana Islam di Indonesia.

“Shamsi Ali dan kawan-kawan itu nampaknya datang dari kemarahan ketika ada tokoh seperti Dudung yang dianggap memisahkan identitas ka-Araban pada Islam,” ujarnya.

Dikatakan Ade, Shamsi Ali adalah personal yang percaya pada pentingnya membangun umat Islam Indonesia yang melandaskan pada syariat untuk membangun negara Islam di masa depan.

Oleh sebab itu, sambung Ade, umat Islam menurut mereka harus kembali ke agama Islam yaitu Islam yang berkembang di tanah leluhur yakni Arab.

Sumber Berita / Artikel  Asli : terkini. 

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

50 + = 51