Banyak Orang Makin Miskin itu Nyata

368
Kecewa PPKM diperpanjang Ketua AKAR Gan Bonddilie terkapar di depan Balai Kota Bandung setelah mencoba bunuh diri/RMOLJabar

SAYA membaca status Facebook menemukan orang menjual perabotan rumah tangganya untuk membeli beras. Sudah tidak ada lagi barang apa yang harus dijual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.

Itulah barang-barang terakhir miliknya yang bisa dijual.

Tiba-tiba ada pesan masuk ke handphone. Saya baca. Bunyi pesannya memberi tahu tentang kondisinya yang sakit demam sejak kemarin, tidak ada uang untuk beli obat.

Ada beberapa pesan yang masuk ke handphone dari orang yang berbeda, bunyinya hampir mirip.

Saya termenung: ini Jakarta loh! Bagaimana dengan di daerah?

Saya tidak memiliki data primer. Hanya membaca di media atau di medsos. Kondisinya tidak jauh berbeda. Data BPS 2020 juga begitu: kemiskinan meningkat. Kemungkinan makin meningkat di 2021.

Kita dalam kondisi ibarat buah simalakama pada masa pandemi virus corona baru (Covid-19). Tidak dilakukan pembatasan sosial akan terjadi “booming” covid-19.

Namun demikian, pada saat yang sama akses warga atas ekonomi terganggu. Banyak yang kehantam secara ekonomi: tidak bisa dagang, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan lain sebagainya.

Kemiskinan makin bertambah harus ada yang tanggungjawab. Ya, pemerintah, sesuai UUD pasal 27 dan 34. Ada bantuan sosial (Bansos), tidak mencukupi. Jauh dari standar hidup minimal.

Itupun jika menerima Bansos, jika tidak? Bahkan Bansos dikorup. Itu fakta!

Selama ini kita mudah menemukan data jumlah kematian karena Covid-19. Publikasi dan berita setiap hari update.

Tapi kita tidak menemui satupun berita, terutama di media mainstream. Berita kematian karena orang tidak bisa makan karena pembatasan sosial atau orang bunuh diri karena stres menghadapi tekanan ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Atau apakah model kematian seperti itu tidak ada selama pandemi ini, sehingga tidak diberitakan?

Elite kita itu terlalu elit. Berjarak dengan rakyatnya. Jangankan mendengar nafas rakyat, mendengar teriakannya pun tidak. Hilang rasa!

Mungkin, mungkin lho ya, mereka tidak pernah menerima pesan ke handphone-nya orang yang tidak makan, tidak bisa beli obat, tidak bisa bayar sekolah anaknya, atau tidak bisa bayar listrik.

Bagaimana mereka menerima pesan model begituan ke handphone-nya, mereka tidak bergaul dengan orang kelas seperti itu.

Makin sulit kita menemukan elite pejabat negara kita yang benar-benar menjadi pelayan rakyatnya.

Contoh Khalifah Umar yang memanggul sendiri beras untuk rakyatnya yang tidak makan atau Bunda Theressa yang melayani kaum papa di Kalkutta, India, itu terlalu mewah.

Bagi kita cukup kekuasaan digunakan untuk keberpihakan terhadap rakyatnya dan punya empati (silahkan terjemahkan sendiri).

Rakyat tidak makan adalah bentuk kekerasan negara, oleh sosiolog Johan Galtung disebut “violence by state”. Negara bisa digugat.rmol.id

Muhamad Yusuf Kosim
Penulis adalah Direktur Eksekutif Periskop Data

Sumber Berita / Artikel Asli : RMOL

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here