Angkernya Pulau Jawa, hingga Lahir Perjanjian Sabdo Palon, Kesepakatan Syekh Subakir dan Ki Semar Badrayana

425

Pulau Jawa dikenal angker pada zaman dahulu, hingga Syekh Subakir yang diutus menyebarkan Agama Islam harus menghadapai tantangan hingga membuat perjanjiian Sabdo Palon dengan roh halus penguasa wilayah yakni Ki Semar Badrayana.

Perjanjian Sabdo Palon itu dibuat sebagai kesepakatan antara Syekh Subakir yang datang ke menyebarkan Agama Islam ke Pulau Jawa yang terkenal angker, dengan roh halus penguasa wilayah Ki Semar Badrayana.

Diceritakan pada masa dahulu, Pulau Jawa terkenal angker yang dikuasai roh halus Ki Semar Badrayana kedatangan Syekh Subakir yang diutus sultan Turki Sultan Muhammad I untuk syiar Agama Islam.

Setelah keduanya terlibat perempuran dan sama-sama kuat, Syekh Subakir dan Ki Semar Badrayana akhirnya membuat kesepakatan melalui sebuah perjanjian yang disebut Sabdo Palon.

Namun kedatangan Syekh Subakir dalam melakukan syiar Islam di Pulau Jawa saat itu, harus mendapat rintangan hingga harus membuat perjanjian dengan Ki Semar Badrayana sebagai roh halus sebagai danyang atau penguasa wilayah.

Dikutip kabarbanten.pikiran-rakyat.com dari berbagai sumber, Syekh Subakir dikenal sebagai orang yang berhasil menumbali Pulau Jawa yang terkenal angker dan wingit pada dahulu kala.

Saat itu, Sultan Turki Sultan Muhammad I mendapatkan petunjuk untuk melakukan penyebaran Islam di Pulau Jawa.  Sebuah tempat di tanah Jawa, yang dalam pengaruh magis begitu kuat.

Mulai dari jin hingga setan,  menghuni setiap sudut tanah Jawa yang saat itu masih berbentuk hutan belantara. Diutuslah rombongan para alim ulama mendatangi Pulau Jawa untuk syiar Islam.

Namun alangkah terkejutnya Sultan Muhammad I, karena hampir seluruh rombongan tersebut tewas akibat perbuatan para lelembut penduduk tanah Jawa yang tidak mau menerima ajaran Islam.

Namun petunjuk harus dijalankan, sehingga utusan berikutnya dikirim ke Pulau Jawa yang angker itu. Sosok utusan itu terkenal alim, ahli ruqyah, memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan dunia ghaib.

Bahkan, sosok ini memiliki keahlian dalam membabat tanah yang angker. Dialah Syekh Subakir, yang memiliki nama asli Syekh Tambuh Aly bin Syekh Baqir.

Berasal dari tanah Persia atau yang sekarang lebih dikenal dengan Negara Iran, yang langsung berlayar ke Pulau Jawa atas perintah Sultan Muhammad I.

Dalam perjalannanya menuju Pulau Jawa, Syekh Subakir terlebih dahulu mampir ke Praja Keling yakni sebuah daerah yang diduga terletak di India.

Di daerah itu, Syekh Subakir membawa 20 ribu penduduk di Praja Keling untuk ikut dan tinggal menempati Pulau Jawa.

Sesampainya di Pulau Jawa, Syekh Subakir langsung menuju ke Gunung Tidar yang diyakini sebagai titik pusat dari tanah Jawa. Di puncak gunung ini, Syekh Subakir memasang tumbal berupa batu hitam yang sudah dirajah.

Batu tersebut dikenal dengan nama Aji Kalacakra, untuk menetralisir daya magis negatif dari bangsa jin. Selama tiga hari tiga malam, batu tersebut mengeluarkan hawa sangat panas hingga para lelembut terpaksa menyingkir ke Laut Selatan Jawa.

Kejadian itu kemudian sampai mengusik ketenangan Ki Semar Badrayana, sang danyang tanah Jawa, yang selama ribuan tahun khusyuk bertapa.

Pertempuran pun akhirnya tak terhindarkan, antara Syekh Subakir dengan Ki Semar selama 40 hari 40 malam. Namun selama pertempuran itu, keduanya sama-sama kuat.

Sampai akhirnya Ki Semar Badrayana menawarkan perundingan kepada Syekh Subakir,  yang mana menghasilkan sebuah kesepakatan perjanjian yang terkenal dengan sebutan perjanjian Sabdo Palon.

Setelah Syekh Subakir menyampaikan maksud kedatangan ke tanah Jawa guna menyebarkan ajaran Islam, Ki Semar Badrayana pun memperbolehkannya dengan beberapa syarat.

Berikut empat perjanjian Sabdo Palon, antara Syekh Subakir dan Ki Semar Badrayana:

Pertama, penyebaran ajaran Islam tidak boleh dilakukan dengan cara paksaan apalagi dengan jalan peperangan.

Penyebaran Islam di tanah Jawa harus dilakukan dengan cara halus dan memberikan keleluasaan bagi penduduk Jawa untuk memilih masuk ke dalam agama Islam atau tetap meyakini kepercayaan sebelumnya.

Kedua, akulturasi antara Islam dengan budaya Jawa dalam pendirian tempat peribadatan. Meskipun tempat peribadatan tersebut dari luar memiliki gaya asli Jawa, namun di dalamnya ajaran-ajaran Islam disebarluaskan.

Ketiga, kerajaan Islam diperbolehkan berdiri di tanah Jawa. Tapi, raja pertama haruslah anak campuran. Maksudnya orang tua sang raja memiliki campuran agama. jika bapak Hindu, ibu Islam. Sebaliknya jika bapak Islam, ibu Hindu.

Keempat, tidak boleh mengubah orang Jawa menjadi orang yang kearab-araban. Biarkanlah padi tetap ditanam di sawah dan kurma tetap ditanam di padang pasir.

rang Jawa harus tetap menjadi Jawa dengan segala budi pekerti dan kepribadian asli orang Jawa. Jika orang Jawa sampai hilang ‘Jawanya’, 500 tahun lagi Ki Semar berjanji akan muncul lagi dengan membuat goro-goro.

Itulah perjanjian Sabdo Palon antara Syekh Subakir dan Ki Semar Badrayana di Pulau Jawa, pulau yang menurut ramalan Jayabaya akan terbelah dua dikaitkan dengan erupsi Gunung Semeru.***.

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here