Alissa Wahid tiba-tiba bongkar kemungkinan orang NU bakal dibantai, ada apa?

1106
Alissa Wahid, putri Gus Dur.

Putri sulung dari mantan Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid tiba-tiba mengungkapkan kemungkinan orang-orang Nahdlatul Ulama (NU) atau yang akrab disebut Nahdliyin bakal dibantai.

Alissa Wahid menjelaskan, pembicaraan itu terkait peristiwa beberapa dekade silam, di mana Gus Dur memutuskan untuk keluar dari Istana lantaran berbagai masalah politik di Indonesia, khususnya kondisi demokrasi yang mencekam.

Melalui kicauan di akun media sosial Twitter miliknya, Alissa mengomentari sebuah unggahan dari warganet yang mengingat kembali momen ketika para santri di pesantrennya memutuskan untuk datang ke Jakarta membela Gus Dur.

Masih ingat jaman itu saya baru kls 1 MTs/SMP kelas 1 di pesantren, Kyai Kami dawuh untuk mendata siapa-siapa santri senior yg mau ikut ke Jakarta membela Gus Dur, dan tergabung jadi pasukan berani mati, Alfatihah untuk Gusdur,” tulis akun @IbeL_Lfc, dikutip Hops pada Jumat, 23 Juli 2021.

Gus Dur rela keluar dari Istana demi menjaga persatuan bangsa

Alissa Wahid, putri Gus Dur
Alissa Wahid, putri Gus Dur. Foto Instagram @alissa_wahid

Menanggapi hal tersebut Alissa menambahkan, kala itu, demi menjaga keutuhan bangsa dan negara, Gus Dur rela memilih untuk keluar dari istana.

Demi bangsa, demi negara, dan demi santri-santri serta pembelanya, Gus Dur memilih keluar dari istana,” ungkap Alissa.

Kemudian, Alissa menjelaskan sejumlah peristiwa yang terjadi sebelum Gus Dur memutuskan keluar dari Istana.

Saat itu Gus Dur sedang berupaya melawan sejumlah penguasa dari partai-partai politik yang dianggap sudah membajak demokrasi di tanah air.

Namun, ketika mengetahui puluhan ribu santri bakal membela Gus Dur ke Jakarta, dia pun memutuskan untuk memilih ke luar Istana ketimbang terjadi perpecahan.

Beberapa hari sebelumnya, Gus Dur masih berkeras mau melawan partai-partai politik yang menurut Beliau sedang membajak demokrasi. Tapi begitu menerima laporan 3000an santri sudah di Jakarta dan puluhan ribu sedang dalam perjalanan, Beliau memilih utk keluar dari istana,” katanya.

Bagi Gus Dur idelisme demokrasi wajib diperjuangkan!

Lambang NU. Foto: kholidintok.net
Lambang NU. Foto: kholidintok.net

Alissa memaparkan, saat itu Gus Dur dengan tegas mempertahankan prinsipnya dan menolak tawaran kerja sama dari sejumlah kelompok politik.

Dia pun dengan keras mempertahankan idealisme demokrasinya. Namun kondisi politik di Indonesia justru semakin memanas tatkala Gus Dur memutuskan untuk memberhentikan Wiranto.

Kata Gus Dur, kebenaran tidak bisa di-voting. Tawaran kongkalikong politik yang datang dari berbagai kelompok pun ditolaknya. Pokoknya berjuang mempertahankan idealisme demokrasi. Memanas setelah memberhentikan pak Wiranto. Lawan-lawannya makin solid,” ujarnya.

Gus Dur siap dengan semua konsekuensi perlawanan itu, dengan kekuatan politik yang tidak seberapa. Yang paling berat memang keukeuhnya beliau menjauhkan militer dan oligarki sisa Orba dari kedaulatan sipil,” sambungnya.

Lebih lanjut, Alissa juga menjelaskan akibat yang bisa ditimbulkan apabila saat itu Gus Dur tak memilih untuk keluar dari Istana.

Menurut dia kemungkinan yang bakal terjadi mulai dari bentrokan berdarah hingga terulang kembali tragedi 1965 silam.

Yang berangkat sudah bawa segala senjata yang mereka punya. Bentrokan bisa tidak terhindarkan. Teringan: bentrokan berdarah antara kelompok pendukung Gus Dur dengan kelompok oposan. Terberat: setelah konflik, terulang tragedi ikutan dari peristiwa’65 tetapi orang NU yang akan dibabat,” imbuhnya.

Alissa Wahid tiba-tiba bongkar kemungkinan orang NU bakal dibantai

Sumber Berita / Artikel Asli : HOPS

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here