Aktivis 98 Desak Jokowi Tangkap Dalang Dibalik Naiknya Sejumlah Alkes, Pelakunya..

215
Jokowi

 JAKARTA- Ketua Umum Relawan Jokowi Mania (Joman) Emmanuel Ebenezer menduga dalang di balik naiknya sejumlah harga alkes ada aktor politiknya.

Karena itu, ia mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) menangkap para elite politik menjadi mafia mencari untung dari Covid-19.

“Ini tidak boleh tebang pilih, hanya membersihkan kriminal level bawah, tangkap dong aktor dalang mafianya,” ujarnya kepada Pojoksatu.id di Jakarta, Selasa (13/7/2021).

Pria akrab dipanggil Noel itu mengatakan, penangkapan hanya terjadi pada penjual alkes dan obat-obatan yang hanya menjual eceran.

“Di beberapa kasus, polisi hanya menangkap penjual eceran. Paling banyak yang dijual cuma puluhan barang,” ucapnya.

Ia meyakini ada kelompok tertentu yang mengambil keuntungan besar, para mafia ini pasti terpimpin, mengorganisir dan mengatur.

“Kita melihatnya seperti itu ada yang membeking dari belakang,” tutur Noel.

Aktivis 98 itu juga meminta kepada pemerintah untuk segera menyalurkan kepada rakyat anggaran Covid-19 yang sebesar 800 Terliun lebih.

“Kita juga meminta agar dana pandemik langsung disalurkan ke rakyat. Total dana pandemik 2020 saja mencapai 800 T. Tahun ini bisa melebihi dari itu,” ungkapnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya meringkus penjual obat Covid-19 ilegal. Kedua pelaku berinisial MPP dan M menjual jenis obat oseltamivir pospat dengan harga melangit.

“Jenis obatnya, oseltamivir pospat yang 75 miligram,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di PMJ, Jakarta Selatan, Jumat (9/7/2021).

Yusri mengungkapkan, awalnya M membeli obat tersebut kepada MPP satu kotak yang isinya 10, dengan harga satuannya senilai Rp260 ribu.
Harga jual tersebut diluar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

“Jadi satu kotak total harga Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp2,6 juta,” ujar Yusri.

Kemudian M pun menjualnya lewat media sosial dengan harga 4 kali lipat.

“Sedangkan dijual ke masyarakat mencapai Rp8,4-8,5 juta. Naik empat kali lipat,” ungkap Yusri.

Atas perbuatannya, kedua tersangka disangkakan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 Pasal 107 Juncto Pasal 29.

Undang-Undang RI nomor 8 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang RI Nomor 19 Perubahan Undang-Undang Nomor 11 tentang Informasi Transaksi Elektronik dengan ancaman 5-10 tahun penjara.

Sumber Berita / Artikel Asli : (muf/pojoksatu)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here