Ade Armando Jangan Lagi Mendikotomi Tionghoa Dan Pribumi

514
Ade Armando

Ade Armando membalas ajakan Lieus Sungkharisma untuk sama-sama menjaga persatuan dengan menabuh genderang kebencian lebih dalam antar suku dan agama. Ironisnya selaku sosok intelektual malah menyerang pribadi Lieus dengan provokatif dan agitatif. Dengan judul “Jangan mau ditindas “pribumi”. Alamaak.

Sungguh hilang akal manakala ajakan membangun perdamaian malah menyerang pribadi Lieus yang selama menjadi aktivis sangat menyelami dan mengerti apa arti menjaga kerukunan sesama anak bangsa.

Dalam suatu bangsa yang majemuk bahkan bila didalamnya ada bersarang kelompok radikal kiri kanan termasuk musuh ideologi bangsa, adalah tugas kita bersama untuk tidak memicu konfrontasi kesukuan maupun agama.

Terlihat jelas Ade Armando tidak memahami tentang Tionghoa Indonesia yang sudah mempribumi dan menyatu bergandengan tangan dengan apa yang disebut pribumi itu sendiri oleh AA.

Tampaknya sejak semula tujuan AA semakin jelas ingin ada riuh friksi SARA karena bila tidak tentu dia bukan mempertentangan sumbangsih warga Tionghoa dengan warga yang disebutnya pribumi itu. Bukankah lebih baik menunjukan dengan lugas bahwa sejarah juga mencatat sumbangsih pribumi yang besar bagi rakyat dan negara. Banyak dan bukan “prank”.

Warga Tionghoa meskipun kelompok pengusaha papan atas sekalipun dalam memberi bantuan bagi masyarakat adalah karena panggilan suara hati nurani dan bukan sama sekali karena merasa akan ditindas atau tertindas oleh tujuh juta penerima paket bantuan itu atau lainnya. Pun bukan karena Islam atau Kristen atau bahkan pribumi versus Tionghoa. sebagaimana istilah itu dipakai Ade Armando.

Sebagai bagian anak bangsa dengan filosofi kebhinekaan Pancasila sangat tidak relevan memprovokasi bahkan memperuncing nuansa kebencian bernarasi SARA. Sangat sulit bila kebencian dihati sendiri malah menyeret-nyeret komunitas Tionghoa dan memanas-manasinya bak pahlawan kesasar.

Apapun motif Ade Armando dibalik upaya pembenaran yang semakin tidak benar itu, ada cara pandang AA yang terlalu sempit bila menempatkan suatu elemen kecil anti China yang terbangun akibat sikap sejarah masa lalu sebagai ancaman diskriminasi apalagi disintegrasi.

Justru pasca reformasi kehadiran suasana kebersamaan semakin cair di pranata sosial kemasyarakatan Tionghoa dengan non Tionghoa. Jangan merusak ‘susu sebelanga’ dengan setitik ‘nila’ kebencian melalui corong suara di medsos hanya karena hasrat memecah belah dan menakuti-nakuti kalangan Tionghoa terhadap pribumi Islam.

Radikalisme dan intoleransi itu tak sebanding diumbar-umbar terus menerus manakala kenyataan mayoritas tidak menunjukan krisis semacam itu. Jadi Ade Armando harap jangan lagi mendikotomi kehadiran Tionghoa atau agama dengan dengan Pribumi dan Islam tapi bangunlah saling pengertian dan kerukunan bersama…

Adian Radiatus

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here