6 Pengakuan dr Lois Owien kepada Polisi, Bola Panas Kini di Tangan IDI, Berani Memproses?

698
Dokter Lois Owien

JAKARTA – Ada sederet pengakuan yang disampaikan dr Lois Owien kepada penyidik Bareskrim Polri dalam kasus penyebaran informasi hoax Covid-19.

Pertama, semua pernyataannya bukan didasarkan atas hasil riset dan merupakan opini pribadi.

Itu diungkap Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Pol Slamet Uliandi kepada wartawan, Selasa (13/7/2021).

“Segala opini terduga yang terkait Covid, diakuinya merupakan opini pribadi yang tidak berlandaskan riset,” ungkap Slamet.

Lois juga mengakui membangun asumsi tentang kematian pasien Covid-19.

“Ada asumsi yang ia bangun, seperti kematian karena Covid-19 disebabkan interaksi obat yang digunakan dalam penanganan pasien,” sambungnya.

Ketiga terkait tidak percaya pada kebenaran adanya Covid-19.

“Kemudian, opini terduga terkait tidak percaya Covid-19, sama sekali tidak memiliki landasan hukum,” tuturnya.

Keempat, terkait penggunaan berbagai alat tes seperti tes PCR dan Swab Antigen sebagai pendeteksi Covid-19.

“Juga merupakan asumsi yang tidak berlandaskan riset,” jelasnya.

Kelima, dr Lois Owien mengakui bahwa semua pernyataan yang ia unggah melalui media sosial, masih membutuhkan penjelasan medis.

Akan tetapi, hal itu kemudian menjadi bias dan memicu perdebatan di tengah masyarakat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan hal tersebut, penyidik kemudian membebaskan dr Lois Owien.

Sebab, dr Lois berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya dan menghilangkan barang bukti.

“bahwa yang bersangkutan, tidak akan mengulangi perbuatannya dan tidak akan menghilangkan barang bukti mengingat seluruh barang bukti sudah kami miliki,” bebernya.

Pengakuan keenam, dr Lois mengakui bahwa perbuatannya tidak dapat dibenarkan secara kode etik profesi kedokteran.

Selanjutnya, dr Lois juga menyanggupi tidak akan melarikan diri.

“Oleh karena itu saya memutuskan untuk tidak menahan yang bersangkutan,” tuturnya.

Bola Panas di Tangan IDI

Selain itu, dalam kasus ini, penyidik lebih mengedepankan restoratif justice seusai intruksi Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Yakni konsep Polri menuju Presisi yang berkeadilan.

“(Intinya) Agar permasalahan opini seperti ini tidak menjadi perbuatan yang dapat terulang di masyarakat,” ujarnya.

Jendral, bintang satu ini juga menuturkan, dalam menyelesaikan kasus yang menjerat dr. Lois itu, pihaknya mengedepankan upaya preventif.

Namun upaya pemenjaraan terhadap tersangka merupakan langkah terakhir bila yang bersangkutan mengulangi perbuatannya.

Meski begitu, Polri memberikan catatan bahwa terduga bisa diproses lebih lanjut secara kewenangan profesi kedokteran.

“Pemenjaraan bukan upaya satu-satunya, melainkan upaya terakhir dalam penegakan hukum, atau diistilahkan ultimum remidium,” tegasnya.

“Sehingga, Polri dalam hal ini mengendepankan upaya preventif,” tandas Slamet Uliandi.

Sumber Berita / Artikel Asli:  (ruh/pojoksatu)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here