Repelita Jakarta - Penutupan Selat Hormuz yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak dunia secara drastis mengingat jalur tersebut menjadi salah satu arteri utama distribusi energi global.
Profesor Doktor Syafruddin Karimi dari Universitas Andalas menyatakan bahwa pasar energi global sangat peka terhadap segala bentuk gangguan di Selat Hormuz karena mayoritas perdagangan minyak melalui jalur laut dunia bergantung pada rute tersebut.
Penutupan Selat Hormuz langsung meningkatkan premi risiko energi di pasar internasional sebab pelaku pasar menginterpretasikan gangguan tersebut sebagai ancaman serius terhadap kestabilan pasokan minyak dunia.
Menurut data dari Energy Information Administration arus minyak yang melintasi Selat Hormuz pada periode tahun dua ribu dua puluh empat hingga kuartal pertama dua ribu dua puluh lima mencapai lebih dari seperempat total perdagangan minyak laut dunia serta sekitar seperlima dari konsumsi minyak secara keseluruhan di tingkat global.
Ketika perusahaan pengangkut tanker pedagang serta operator pelayaran memilih menahan pengiriman akibat situasi tersebut pasokan minyak tidak langsung hilang melainkan tertahan dalam rantai logistik sehingga tetap memicu kenaikan biaya energi ongkos produksi distribusi dan akhirnya memperkuat tekanan inflasi di berbagai negara pengimpor.
Dalam jangka pendek harga minyak diperkirakan melonjak tajam karena respons pasar lebih didorong oleh persepsi potensi gangguan pasokan daripada menunggu terjadinya kelangkaan fisik yang sebenarnya.
Penutupan Hormuz berpotensi mendorong harga minyak kembali mendekati rentang sembilan puluh hingga seratus dolar Amerika per barel apabila gangguan tersebut berlangsung pada tingkat yang signifikan.
Dalam jangka menengah besaran kenaikan harga akan sangat ditentukan oleh lamanya durasi gangguan kemampuan pengalihan arus pasokan alternatif serta respons dari negara-negara produsen utama selama biaya asuransi dan risiko keselamatan tetap berada pada level tinggi volatilitas harga akan terus berlanjut meskipun sebagian pasokan berhasil dialihkan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran melakukan penutupan terhadap jalur perdagangan minyak penting yang berada di selatan wilayah Iran yaitu Selat Hormuz sebagai respons langsung atas serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel yang dianggap mengecewakan pimpinan tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Brigadir Jenderal Garda Revolusi Islam Iran Ibrahim Jabari menyatakan bahwa saat ini penutupan Selat Hormuz sedang dilaksanakan oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran pada Minggu satu Maret dua ribu dua puluh enam.
Pejabat misi Angkatan Laut Uni Eropa Apsides mengonfirmasi bahwa informasi mengenai penutupan Selat Hormuz telah disebarkan secara luas termasuk melalui transmisi radio VHF dari Garda Revolusi Iran yang secara tegas melarang seluruh kapal untuk melintasi kawasan tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

