
Repelita Teheran - Ruang rapat Dewan Pertahanan Iran menjadi sasaran serangan paling mematikan dalam sejarah militer modern negara itu pada Sabtu tanggal dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam.
Rudal yang menghantam pertemuan strategis tersebut menewaskan sejumlah pejabat tinggi termasuk Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Jenderal Seyyed Abdolrahim Mousavi.
Melalui saluran resmi Telegram Korps Garda Revolusi Islam mengumumkan gugurnya Mousavi saat menjalankan tugas negara bersama pimpinan militer lainnya.
Selain Mousavi beberapa tokoh penting lain juga dikonfirmasi tewas dalam serangan gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Di antaranya Panglima IRGC Jenderal Mohammad Pakpour Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani serta Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Jenderal Aziz Nasirzadeh.
Mereka dilaporkan berada dalam satu ruangan ketika ledakan dahsyat terjadi sehingga menewaskan elite militer yang selama ini mengendalikan strategi keamanan nasional.
Serangan itu menghantam pusat pengambilan keputusan pertahanan Iran secara langsung dan menimbulkan kerugian besar di kalangan petinggi keamanan.
Di tengah duka nasional muncul laporan mengenai wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social.
Trump mengklaim operasi militer berhasil menargetkan pucuk kepemimpinan Iran dan menyebutnya sebagai kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negara mereka.
Ia menambahkan bahwa kerja sama intelijen antara Amerika Serikat dan Israel memungkinkan pelacakan target penting dengan presisi tinggi.
Beberapa laporan menyebut anggota keluarga inti Khamenei juga menjadi korban dalam gempuran tersebut meski informasi resmi dari otoritas Iran masih terbatas.
Operasi militer yang diberi sandi Epic Fury oleh pihak Amerika Serikat bertujuan melemahkan struktur komando tertinggi Iran secara sistematis.
Korps Garda Revolusi Islam menegaskan bahwa kematian para pejabat tersebut tidak akan menggoyahkan komitmen negara untuk tetap berdiri teguh.
IRGC menyatakan Iran akan menggagalkan setiap upaya yang dianggap sebagai konspirasi musuh dan terus mempertahankan kedaulatan nasional.
Sebagai respons langsung Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke target yang terkait dengan kepentingan Amerika Serikat serta Israel di kawasan.
Sasaran mencakup pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah Teluk serta beberapa lokasi strategis di Israel.
Komando Pusat militer Amerika Serikat menyatakan sebagian besar proyektil berhasil dicegat dan tidak ada korban jiwa dari pihak mereka.
Meski demikian eskalasi ini menandai fase paling berbahaya dalam konflik terbuka antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel dengan risiko meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

