
Repelita Jakarta - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengecam keras pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang menurutnya menempatkan Timur Tengah di ambang ketidakstabilan serius dan berkelanjutan.
"Saya mengecam pembunuhan Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran," kata Anwar dalam keterangan resmi yang disampaikan di Kuala Lumpur, Minggu, 1 Maret 2026.
"Tindakan ini menempatkan Timur Tengah di ambang ketidakstabilan yang serius dan berkelanjutan," tegasnya seperti dikutip oleh Antara dari pernyataan resmi tersebut.
Ia juga menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada pemerintah dan seluruh rakyat Iran yang sedang berduka atas kepergian pemimpin tertingginya.
Anwar mengatakan bahwa pihak-pihak yang menyambut gembira kematian Khamenei perlu menyadari konsekuensi jangka panjang dari tindakan provokatif tersebut.
Ia menekankan bahwa ancaman yang bersifat eksistensial terhadap sebuah negara jarang sekali menghasilkan reaksi yang dapat diprediksi oleh para pengambil kebijakan.
Menurut Anwar, penargetan secara sengaja terhadap seorang kepala negara menetapkan preseden yang sangat berbahaya dalam hubungan internasional.
Tindakan tersebut melemahkan norma serta prinsip yang selama ini menopang tatanan internasional berdasarkan hukum dan kedaulatan negara.
"Pada saat yang sama, saya mendesak otoritas Iran untuk menahan diri dan tidak terpancing melakukan eskalasi yang lebih luas," ujarnya menambahkan.
Malaysia sependapat dengan pernyataan negara-negara lain yang menyerukan agar semua pihak menghentikan eskalasi lebih lanjut di kawasan.
Anwar menyatakan bahwa perhatian utama Malaysia saat ini adalah keselamatan warga negaranya yang berada di Iran, negara-negara Teluk, dan kawasan Timur Tengah yang lebih luas.
Ia meyakinkan seluruh warga Malaysia di wilayah terdampak konflik bahwa pemerintah terus mengambil langkah yang diperlukan untuk memastikan perlindungan mereka.
"Perwakilan kami telah diberikan mandat dan sumber daya penuh untuk membantu warga Malaysia yang membutuhkan bantuan evakuasi," kata Anwar menegaskan.
Pemerintah Malaysia juga tengah mengevaluasi secara cermat dampak ekonomi dari konflik tersebut terhadap kepentingan nasional mereka.
Evaluasi mencakup risiko terhadap ruang udara regional dan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran kritis dunia.
Menurut Anwar, sektor perdagangan dan keamanan energi Malaysia terdampak langsung oleh gejolak yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Malaysia akan bertindak sebagaimana diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya di tengah situasi yang semakin tidak menentu.
Malaysia secara resmi menyerukan gencatan senjata segera, perlindungan warga sipil, dan kembalinya dialog yang sungguh-sungguh di antara pihak yang bertikai.
Anwar menekankan bahwa penyelesaian krisis tidak dapat dicapai melalui kekerasan dan agresi militer semata.
Menurutnya, penyelesaian damai memerlukan diplomasi yang intensif, pengendalian diri dari semua pihak, dan kemauan politik yang kuat untuk berdamai.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

