Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Risalah Syuriyah Bocor: Gus Yahya Diultimatum 3 Hari Mundur atau Dicopot Paksa, PBNU di Ambang Perpecahan

 PBNU Gonjang-ganjing Diterpa Isu Pemakzulan, Ini Profil Gus Yahya yang Terancam Dilengserkan

Repelita Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sedang dilanda gejolak internal yang semakin rumit setelah munculnya dokumen rahasia dari rapat pengurus tingkat tinggi yang menyerukan pergantian kepemimpinan secara mendadak terhadap KH Yahya Cholil Staquf, yang lebih dikenal sebagai Gus Yahya, dari kursi Ketua Umum untuk masa jabatan hingga tahun 2027.

Kondisi ini menimbulkan kebingungan besar di kalangan anggota organisasi Nahdlatul Ulama secara keseluruhan, mengingat Gus Yahya sebelumnya sering kali menjadi sasaran serangan verbal dari rekan sesama tokoh internal akibat deretan kebijakan strategisnya yang dianggap memicu kontroversi hebat dan berpotensi merugikan reputasi jangka panjang lembaga yang telah mapan ini.

Sekarang, rumor tentang rencana penggusuran paksa terhadap Gus Yahya semakin menjadi-jadi seiring dengan penyebaran luas sebuah arsip resmi dari sesi pertemuan Pengurus Harian Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang digelar di Hotel Aston City Jakarta pada hari Kamis, 20 November 2025.

Sesi tersebut memunculkan serangkaian saran strategis yang esensial terkait pengaturan kerangka kerja asosiasi Nahdlatul Ulama beserta pengelolaan beragam konflik yang timbul di wilayah internal lembaga secara menyeluruh.

Sesi yang dimoderatori secara langsung oleh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Miftachul Akhyar, dihadiri oleh 37 individu dari jumlah keseluruhan 53 peserta Pengurus Harian Syuriyah dan dilaksanakan mulai jam 17.00 sampai 20.00 waktu setempat.

Pada bagian inti pembahasan, Pengurus Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama secara teliti mengupas isu penunjukan seorang pakar tamu dalam rangkaian kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama yang dicurigai memiliki ikatan dengan jaringan Zionisme di tingkat dunia.

Kelompok itu menyimpulkan bahwa inisiatif semacam itu jelas-jelas bertabrakan dengan fondasi utama Qanun Asasi Nahdlatul Ulama serta orientasi pergerakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam mempertahankan prinsip-prinsip kemanusiaan yang inklusif.

Pengurus Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama turut menilai bahwa pelaksanaan rangkaian Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama tidak memenuhi persyaratan Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Nomor 13 Tahun 2025, khususnya pada poin-poin ketat mengenai prosedur pelepasan dan pengisian ulang tugas pejabat organisasi.

Tambahan pula, Pengurus Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyisihkan perhatian intensif pada sistem pengawasan anggaran organisasi, dengan evaluasi bahwa sejumlah kebiasaan yang berlaku harus dievaluasi secara komprehensif supaya selaras mutlak dengan norma-norma keagamaan, ketentuan pemerintah, dan pedoman internal Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama.

Merujuk pada keseluruhan analisis mendalam itu, Pengurus Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mendelegasikan kuasa penetapan akhir kepada Rais Aam bersama dua Wakil Rais Aam, yang selanjutnya lewat tahap musyawarah menghasilkan putusan-putusan berikutnya.

KH Yahya Cholil Staquf diharuskan menyatakan pengunduran diri dari peran Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama paling tidak dalam rentang tiga hari pasca-penerbitan putusan ini secara formal.

Bila dalam jangka waktu tiga hari itu tidak tersaji deklarasi mundur, Pengurus Harian Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memiliki hak untuk secara tegas menetapkan pemecatan KH Yahya Cholil Staquf dari jabatan Ketua Umum.

Di balik hiruk-pikuk isu itu, Saifullah Yusuf yang lebih akrab dengan sebutan Gus Ipul sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengajak semua tingkatan pengurus Nahdlatul Ulama mulai dari pusat hingga basis paling bawah untuk mempertahankan kewaspadaan emosional dan memastikan lingkungan tetap stabil.

Ini dinamika organisasi yang sedang berjalan. Saya minta semua pengurus dan warga NU tetap tenang, tidak terbawa arus berita yang menyesatkan, dan tidak memperbesar kesalahpahaman, sampaikan Gus Ipul dalam keterbukaan resminya pada Jumat, 21 November 2025.

Ia menyoroti perlunya seluruh komponen pengurus Nahdlatul Ulama di seluruh strata terus merajut kekompakan, memelihara ikatan persaudaraan, serta mengendalikan diri dari gerakan atau pernyataan yang mampu memperkeruhkan keadaan lebih lanjut.

Ikuti seluruh perkembangan hanya melalui informasi resmi yang disampaikan jajaran Syuriah PBNU. Jangan terpengaruh kabar yang tidak jelas sumbernya, tekankan dia secara tegas.

Gus Ipul menguraikan bahwa keseluruhan alur proses internal organisasi kini berada di bawah otoritas pemimpin puncak dalam susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, yaitu Pengurus Syuriyah yang dibina Rais Aam dan dua wakilnya.

Kita serahkan sepenuhnya kepada Rais Aam dan para wakilnya. InsyaAllah semua akan diselesaikan dengan baik, proporsional, dan sesuai adab organisasi, lanjutkannya.

Gus Ipul juga mendorong seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk menggandeng lebih banyak ibadah salawat dan menjaga keseimbangan batin di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Mari tetap menjaga suasana teduh. Perbanyak sholawat, jangan ikut menyebarkan kabar yang tidak pasti, imbaunya.

Gus Ipul meyakinkan bahwa berbagai pergolakan dalam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama bakal disikapi melalui jalur organisasi yang sahih dan dengan sikap hati-hati maksimal supaya menghindari konsekuensi merugikan dalam jangka waktu yang panjang.

KH Yahya Cholil Staquf, yang biasa disebut Gus Yahya, pertama kali menghembuskan nafas pada tanggal 16 Februari 1966 di wilayah Rembang, Jawa Tengah.

Ia dikenali luas sebagai salah satu tokoh agama berpengaruh di tanah air dan kini bertanggung jawab atas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk periode pelayanan 2022 sampai 2027.

Sebelum naik ke posisi ketua utama, ia memikul tugas sebagai Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama selama rentang 2015 hingga 2021.

Gus Yahya berasal dari garis keturunan pesantren yang kokoh dalam warisan pengetahuan keislaman.

Ia merupakan anak dari ulama karismatik KH M. Cholil Bisri, keponakan KH A. Mustofa Bisri yang akrab dengan Gus Mus, serta saudara kandung Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Selain memimpin struktur organisasi, ia turut membimbing Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin yang terletak di Leteh, Rembang.

Gus Yahya menjalani pendidikan dasar di lingkungan pesantren di bawah arahan KH Ali Maksum melalui Madrasah Al-Munawwir Krapyak di Bantul.

Kemudian ia menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Yogyakarta. Untuk tingkat sarjana, ia memilih bidang Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, sambil terlibat aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.

Pada tahun 1986 hingga 1987, ia menjabat sebagai Ketua Umum Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Yogyakarta.

Kontribusi Gus Yahya dalam Nahdlatul Ulama berlangsung dalam kurun waktu yang panjang dan berkelanjutan.

Ia menjabat sebagai Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dari tahun 2015 sampai 2020, sebelum mendapatkan kepercayaan untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui Muktamar ke-34 di Lampung.

Ia menggantikan Prof KH Said Aqil Siroj yang menjalani dua periode penuh.

Di bawah arahan kepemimpinannya, Nahdlatul Ulama difokuskan untuk memperteguh diplomasi keagamaan, rekonsiliasi antar kelompok sosial, serta program-program yang berorientasi pada kemajuan peradaban.

Gus Yahya memiliki pengalaman mendalam dalam ranah pemerintahan sejak usia muda. Ia pernah bertugas sebagai juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid yang dikenal sebagai Gus Dur.

Pada tanggal 31 Mei 2018, Presiden Joko Widodo mengangkatnya menjadi bagian dari Dewan Pertimbangan Presiden.

Peran Gus Yahya di forum internasional sangat menonjol dalam topik perdamaian dan percakapan antar keyakinan. Pada tahun 2014, ia ikut membentuk institusi keagamaan Bait ar-Rahmah di California, Amerika Serikat, yang mengkhususkan diri pada kajian Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Ia juga berperan sebagai pakar dalam Dewan Eksekutif Agama-Agama Amerika Serikat-Indonesia, sebuah kolaborasi dua negara yang disepakati oleh Presiden Barack Obama dan Presiden Jokowi pada tahun 2015. Gus Yahya sering kali menjadi utusan Gerakan Pemuda Ansor dan Partai Kebangkitan Bangsa dalam jaringan politik global seperti Centrist Democrat International dan European People’s Party.

Gus Yahya beberapa kali menjadi narasumber utama di acara-acara dunia. Pada Juni 2018, ia menyampaikan pandangan di forum American Jewish Committee di Israel.

Ia mempresentasikan gagasan rahmah sebagai pendekatan penyelesaian konflik berbasis agama di seluruh dunia dan mendorong pemahaman keyakinan yang harmonis.

Pada Juli 2021, ia kembali meraih pengakuan internasional melalui orasi penutupnya di International Religious Freedom Summit di Washington, DC. Dalam presentasinya yang berjudul The Rising Tide of Religious Nationalism, ia menguraikan dinamika negara-negara yang berhadapan dengan ancaman budaya dan memunculkan arus nasionalisme berbasis agama.

Ia memperingatkan bahwa keadaan seperti itu berpotensi memicu bentrokan skala global jika tidak ditangani dengan bijaksana.

Dalam beragam platform, Gus Yahya secara konsisten mengadvokasi diplomasi etis dan dialog antaragama.

Ia menekankan bahwa masyarakat global memerlukan instrumen baru untuk meredam kompetisi nilai-nilai dan mencegah munculnya tindak kekerasan atas dasar identitas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved