![UI Students for Justice in Palestine 🇵🇸 on X: "[Petisi: Dukung Pencopotan Yahya Cholil Staquf dari Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia] Halo, Civitas dan Alumni UI! Menyikapi kelanjutan dari dinamika tokoh terafiliasi](https://pbs.twimg.com/media/G0pIF31aMAE5l7l.jpg:large)
Repelita Jakarta - Petisi pencopotan Yahya Cholil Staquf dari Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia muncul sebagai respons atas kehadiran akademikus pro-zionis Peter Berkowitz dalam acara kampus.
Kepala Hubungan Masyarakat UI, Arie Afriansyah, menyatakan bahwa petisi tersebut berada di luar kewenangan institusi kampus.
Ia menegaskan bahwa Universitas Indonesia tidak memiliki keterlibatan dalam inisiatif tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Arie saat dihubungi pada Senin, 15 September 2025.
Meski demikian, Arie menyebut UI tetap menghormati kebebasan berpendapat dan berekspresi di lingkungan akademik.
Ia menambahkan bahwa ekspresi tersebut harus tetap berada dalam koridor hukum yang berlaku.
Petisi tersebut digagas oleh Komunitas Kolektif Mahasiswa Universitas Indonesia yang Peduli Keadilan di Palestina dan dibuat pada 12 September 2025.
Judul petisi yang diusung adalah “Dukung Pencopotan Yahya Cholil Staquf dari Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia”.
Berdasarkan data per Senin, 15 September 2025, tercatat sebanyak 2.017 mahasiswa telah menandatangani petisi tersebut.
Yahya Cholil Staquf, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, belum memberikan tanggapan resmi terkait petisi tersebut.
Salah satu alasan utama munculnya petisi adalah keputusan Gus Yahya mengundang Peter Berkowitz sebagai pembicara dalam acara UI pada 23 Agustus 2025.
Gus Yahya diketahui menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat UI untuk periode 2024 hingga 2029.
Dalam narasi petisi, disebutkan bahwa permintaan maaf atas undangan tersebut dianggap belum cukup untuk menanggung konsekuensi yang ditimbulkan.
Petisi juga bertujuan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Latar belakang petisi menyebutkan bahwa langkah tersebut merupakan upaya untuk menjaga nama baik Universitas Indonesia dari afiliasi terhadap zionisme.
Kelompok Universitas Indonesia Student for Justice in Palestine atau UI SJP turut menyoroti rekam jejak Gus Yahya.
Menurut UI SJP, Gus Yahya memiliki keterkaitan dengan tokoh dan agenda zionisme yang tercermin dari beberapa aktivitas sebelumnya.
Selain mengundang Peter Berkowitz di dua kesempatan berbeda, Gus Yahya juga disebut pernah ikut dalam rombongan PBNU yang bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, pada tahun 2018.
UI SJP menyatakan bahwa tindakan dan rekam jejak Gus Yahya telah mencoreng sembilan nilai utama Universitas Indonesia.
Mereka menilai bahwa undangan terhadap Peter Berkowitz telah merusak nilai keadilan dan kemartabatan yang dijunjung tinggi oleh kampus.
UI SJP juga menyebut bahwa kejadian tersebut mencederai prinsip tri dharma perguruan tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat yang seharusnya menjauh dari tokoh pro-genosida.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

