
Repelita Jakarta - Akademisi Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan kerusuhan yang terjadi pada Agustus 2025 untuk melakukan perombakan kabinet.
“Pertama menurut saya, ini adalah respons terhadap kondisi Agustus kelabu itu,” ujar Slamet, dikutip dari YouTube Abraham Samad SpakUp, Jumat (12/9/2025).
Ia menjelaskan, aksi demo dan kerusuhan dimanfaatkan oleh Prabowo sehingga langkah reshuffle dapat dipahami sebagai akibat dari peristiwa tersebut.
Slamet menyinggung keberadaan Geng Solo dalam kabinet Prabowo, di mana terdapat sejumlah menteri yang merupakan warisan pemerintahan Presiden ke-7, Joko Widodo.
“17 menteri warisan Jokowi dan juga relawan yang masuk di dalam kabinet Geng Solo ini, akan menjadi musuh dalam selimut Presiden Prabowo Subianto,” jelasnya.
Momentum kerusuhan Agustus 2025 dianggapnya menjadi pintu masuk bagi Presiden Prabowo untuk melakukan evaluasi besar-besaran terhadap kabinet.
“Jadi, kerusuhan Agustus 2025 ini itu menjadi alasan bagi Prabowo, sudah waktunya melakukan evaluasi besar-besaran terhadap kabinetnya,” tambah Slamet.
Ia meyakini perombakan kabinet tidak akan berhenti pada satu kali saja dalam satu tahun periode pemerintahan Prabowo.
“Ini tidak berhenti di periode ini. Akan ada reshuffle kedua, akan ada reshuffle ketiga di satu tahun itu,” ujarnya.
Menurut Slamet, perombakan kabinet selanjutnya akan lebih besar-besaran dibanding sebelumnya.
Walaupun begitu, ia menekankan bahwa reshuffle ini bukan semata untuk menata kabinet, melainkan terkait kondisi politik internal di kabinet Prabowo.
“Ini alih-alih menata kabinet, tapi sesungguhnya Prabowo sedang melakukan kondisi politik di kabinetnya. Di internalnya,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa kebutuhan strategis di level tertinggi, khususnya Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, menjadi fokus utama perombakan ini, dengan menyoroti posisi Budi Gunawan. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

