Repelita Jakarta - Perseteruan antara konten kreator sekaligus CEO Malaka Project Ferry Irwandi dengan pengamat perilaku dan grafolog Gusti Ayu Dewi semakin memanas setelah Ferry mengunggah foto pistol bersanding dengan kotak rokok yang diduga berasal dari percakapan grup WhatsApp.
Ferry menyatakan percakapan di grup WA tersebut merupakan bagian dari upaya menjatuhkan dirinya dan menegaskan akan membahas masalah ini langsung di media sosial tanpa menunggu stasiun televisi.
Dalam narasinya, Ferry menyinggung percakapan di WAG yang melibatkan Gusti Ayu Dewi bersama sejumlah pejabat dan komisaris, yang menurutnya ingin menjatuhkan dirinya, termasuk komentar tentang FPI dan berbagai prediksi tentang dirinya.
Ferry meminta pihak berwenang memeriksa keaslian senjata api yang dipamerkan dalam chat dan menegaskan masih banyak ratusan chat lain di grup berbeda yang bisa dibuka untuk membuktikan tudingannya.
Gusti Ayu Dewi menanggapi, meminta Ferry tidak memelintir masalah dan menegaskan dirinya hanya menyoroti narasi provokatif Ferry di ruang publik tanpa menyerang pribadi, sambil menunggu klarifikasi terkait pejabat yang disebut dalam chat tersebut.
Perseteruan ini bermula dari tuduhan Gusti bahwa Ferry memanipulasi video viral penangkapan anggota TNI oleh Brimob, yang menurut Gusti bisa memicu keresahan publik.
Ferry menolak tuduhan itu dan membuka bukti komunikasi di WAG untuk menunjukkan bahwa dirinya diserang secara sistematis oleh Gusti dan pihak terkait, sambil menantang Gusti untuk membicarakan semua masalah secara terbuka.
Gusti Ayu Dewi merupakan pakar grafologi ternama di Indonesia, telah menganalisis tulisan tangan tokoh nasional dan selebritas, serta aktif di konferensi internasional dan pembinaan profesional grafologi.
Ia juga mendirikan Indonesian School of Graphologist (ISOG) dan menempuh studi Magister Informatika di Universitas Nusa Putra untuk menggabungkan keahliannya di bidang grafologi dan kecerdasan buatan.
Konflik ini berkembang menjadi sengketa publik yang memanas di media sosial, dengan Ferry menantang Gusti untuk bertemu langsung, sementara Gusti menegaskan haknya untuk mengkritisi narasi publik tanpa menyerang pribadi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

