
Repelita Simalungun – Seorang mahasiswi Institut Pertanian Bogor (IPB), Feny Siregar, menjadi korban pengeroyokan brutal oleh sekuriti PT Toba Pulp Lestari (TPL) saat melakukan penelitian skripsi di Desa Sihaporas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Insiden terjadi pada Senin, 22 September 2025, ketika Feny tengah mendokumentasikan konflik agraria antara masyarakat adat Lamtoras dan pihak perusahaan.
Feny merupakan mahasiswa semester IX Fakultas Ekologi Manusia IPB yang sedang menyusun skripsi tentang konflik lahan.
Saat itu, ia berada di posko masyarakat adat bersama warga dan seorang anak penyandang disabilitas bernama Dimas Ambarita.
Situasi yang awalnya damai berubah mencekam ketika delapan truk berisi ratusan pekerja dan sekuriti PT TPL menyerbu lokasi.
Feny yang mengenakan jaket almamater IPB langsung menjadi sasaran kekerasan setelah ketahuan merekam aksi pemukulan terhadap warga.
“Saya dikejar-kejar pekerja TPL. Mungkin karena saya mengenakan jaket kampus IPB,” ujar Feny saat dirawat di RS Harapan, Pematangsiantar.
Ia dipukuli dengan kayu saat mencoba melindungi Dimas yang juga menjadi korban kekerasan.
Kepala Feny mengalami pembengkakan akibat pukulan benda tumpul.
Para pelaku juga memaksa Feny menghapus semua dokumentasi berupa foto dan video dari ponselnya.
Tak hanya itu, posko kayu tempat Feny berlindung dibakar oleh massa.
Jaket almamater IPB milik Feny diduga ikut hangus dalam pembakaran tersebut.
Feny sempat dituduh sebagai provokator dari LSM oleh para penyerang.
Padahal ia telah menjelaskan bahwa dirinya adalah mahasiswa yang sedang melakukan penelitian akademik.
“Waktu mereka memukuli saya, mereka bilang, ‘Kau provokator kan. Kau bukan mahasiswa, tapi dari LSM kan,’” kata Feny.
Kekerasan terhadap Feny dan Dimas memicu kecaman dari masyarakat sipil dan akademisi.
Aktivis lingkungan menyebut insiden ini sebagai bentuk serangan terhadap kebebasan akademik.
“Jaket almamater yang dibakar itu simbol pengetahuan. Ini bukan hanya serangan fisik,” ujar seorang aktivis.
Hingga kini, pihak PT TPL belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.
Publik mendesak agar aparat penegak hukum segera mengusut kasus ini dan memberikan perlindungan kepada mahasiswa dan peneliti di wilayah konflik.
Editor: 91224 R-ID Elok

