
Repelita Jakarta - Mantan anggota DPR, Ahmad Sahroni, mengalami peristiwa dramatis saat rumahnya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dijarah massa pada Sabtu, 30 Agustus 2025.
Saat kerusuhan mulai terjadi, Sahroni bersama staf dan tamu berada di dalam kediamannya.
Massa mulai merangsek masuk dari bagian pagar dengan melempari batu dan berupaya membuka gerbang.
Ketika situasi makin genting, Sahroni dan sekitar tujuh orang lainnya menuju ke rooftop untuk mencari perlindungan.
Dalam kondisi sempit dan terlindungi sebagian, mereka kemudian mengevakuasi diri ke sebuah toilet kecil di area rooftop agar tidak langsung terkena kerumunan massa.
Toilet itu menjadi tempat persembunyian selama kurang lebih tujuh jam.
Sahroni tidak memiliki akses untuk keluar atau berkomunikasi karena kondisi pintu dan ventilasi terbatas serta situasi sangat berbahaya.
Menurut staf pribadinya, sekitar pukul 15.30 WIB massa mulai melempari rumah dengan batu dan suara benturan keras terdengar oleh penghuni.
Di dalam rumah saat itu terdapat total sekitar delapan orang yang kemudian bergerak ke bagian atas rumah untuk berlindung.
Seiring malam menjelang, situasi di luar semakin tak terkendali.
Sekitar pukul 22.00 WIB, kondisi mulai agak mereda, memungkinkan mereka keluar dari tempat persembunyian.
Setelah itu, Sahroni dikabarkan memanjat atap rumah tetangga sebagai jalan keluar alternatif.
Dari atap tersebut, ia berupaya mencari telepon atau sambungan agar bisa menghubungi keluarga atau pihak luar untuk meminta bantuan.
Upaya kabur melewati rooftop menjadi satu-satunya jalan yang dianggap aman karena akses jalan biasa telah dipenuhi massa.
Situasi rumah Sahroni pasca-kerusuhan sangat porak-poranda.
Banyak barang berharga raib digondol massa, termasuk elektronik, dokumen penting, dan koleksi pribadi.
Beberapa bagian rumah rusak akibat lemparan batu, pintu dirusak, dan jendela pecah.
Kabar bahwa Sahroni kabur ke Singapura sempat beredar di media sosial, namun stafnya membantah keras klaim tersebut.
Staf menyebut bahwa Sahroni tetap berada di dalam rumah sejak awal kejadian dan tidak meninggalkan lokasi.
Setelah berhasil keluar dari persembunyian, Sahroni dan timnya melaporkan kasus penjarahan ke Polres Metro Jakarta Utara.
Pihak kepolisian menjadikan laporan tersebut sebagai bahan penyelidikan lebih lanjut.
Beberapa media dan kanal berita menayangkan video kronologi kejadian dan rekaman situasi kerusuhan di sekitar rumahnya.
Video tersebut memperlihatkan kerumunan massa, huru-hara di halaman rumah, dan suasana rooftop saat persembunyian.
Kejadian ini menjadi perhatian publik dan media, dengan beragam komentar tentang keamanan tokoh publik dan perlindungan terhadap ancaman massa.
Beberapa pengamat menyebut bahwa insiden semacam ini menunjukkan bahwa situasi keamanan di wilayah tertentu bisa sangat rapuh terhadap aksi spontan massa.
Kasus ini juga memicu diskusi tentang tanggung jawab aparat keamanan dalam mengantisipasi kerusuhan dan memastikan perlindungan warga sipil termasuk figur publik.
Jika anggapan bahwa rumah tokoh publik bisa dijarah leluasa benar, maka menjadi catatan penting untuk evaluasi sistem pengamanan perkotaan.
Para warga di sekitar kawasan Tanjung Priok menyebut bahwa kerusuhan tersebut terjadi sangat cepat dan tidak sempat ada peringatan dari petugas sekitar.
Sejumlah saksi menyatakan bahwa massa bergerak dari beberapa titik dan memblokade akses jalan menuju lokasi.
Hingga laporan ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari pihak Ahmad Sahroni terkait detail kronologis versi resminya.
Pihak kepolisian juga belum merilis kronologi lengkap atau temuan awal penyelidikan publik.
Pertanyaan kunci yang kini berkembang adalah apakah ada unsur provokasi atau penyusupan di balik kerusuhan.
Dan bagaimana aparat akan menindaklanjuti pelaku penjarahan yang identitasnya belum diketahui secara terbuka.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

