Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Gibran Sudah RI 2, Masa Masih Jadi Wakil Lagi? Jokowi Harusnya Dorong Langsung ke RI 1 di 2029

Penulis: Rina Syafri

Sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka telah menempati posisi tertinggi kedua dalam struktur pemerintahan.

Pengalaman ini bukan sekadar simbolis—ia telah masuk dalam ruang pengambilan keputusan nasional, memahami dinamika kekuasaan, dan berinteraksi langsung dengan tantangan kenegaraan.

Sebelum menjabat sebagai RI 2, Gibran telah melalui proses kepemimpinan yang konkret sebagai Wali Kota Solo.

Selama menjabat di Solo, ia menunjukkan kapasitas manajerial, kemampuan komunikasi publik, dan ketegasan dalam mengambil keputusan.

Dengan rekam jejak tersebut, Gibran bukanlah figur yang baru muncul dalam politik nasional, melainkan pemimpin muda yang telah melalui proses bertahap dan terukur.

Maka ketika Joko Widodo, ayah sekaligus mantan Presiden RI, menginstruksikan relawan untuk mendukung Prabowo-Gibran dua periode, saya justru melihat itu sebagai langkah mundur bagi Gibran.

Mengapa harus mengulang peran yang sudah dijalani?

Jika Gibran sudah dipercaya sebagai RI 2, logika politiknya adalah naik ke RI 1, bukan bertahan sebagai pendamping.

Arahan dua periode terkesan lebih mengamankan posisi Prabowo, sementara Gibran hanya menjadi pelengkap narasi keberlanjutan.

Padahal, jika Jokowi ingin menjaga warisan politiknya, mendorong Gibran sebagai calon presiden 2029 adalah langkah yang lebih visioner.

Relawan Jokowi seharusnya diarahkan untuk membangun fondasi politik Gibran sebagai pemimpin utama, bukan sekadar pengikut.

Gibran punya modal: elektabilitas, pengalaman, dan jaringan.

Yang ia butuhkan sekarang adalah ruang mandiri, bukan bayang-bayang Prabowo.

Debat capres dan cawapres tahun 2024 menjadi bukti lain bahwa Gibran memiliki kapasitas komunikasi politik yang matang.

Dalam forum debat tersebut, Gibran tampil berapi-api, menyampaikan visi dan misi dengan artikulasi yang jelas, serta mampu menjawab tantangan dengan tenang dan terstruktur.

Penampilannya saat itu ramai diperbincangkan di berbagai media sosial, bahkan menjadi sorotan publik sebagai figur muda yang siap tampil di panggung utama.

Jika arahan ini tidak dikoreksi, bukan tidak mungkin Gibran akan kehilangan momentum dan hanya dikenang sebagai wakil yang tak pernah diberi kesempatan penuh untuk berdiri sendiri.

Jokowi harusnya tahu: patron sejati bukan yang menahan, tapi yang melepaskan.(*)

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved