Yang se-Grup WA sama Penyebar Video Azan Jihad Pilih Sembunyi apa Siapkan Pengacara? Sudah Ketahuan Loh…

380
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus

JAKARTA – Polda Metro Jaya masih terus melakukan pengembangan atas kasus video azan jihad ‘hayya ‘alal jihad’.

Itu setelah penyidik berhasil menangkap H, yang menyebarkannya melalui media sosial Instagram.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengungkap, video azan jihad itu kali pertama didapat H dari sebuah grup Whatsapp yang diikutinya.

Grup WA itu, kata Yusri, bernama Forum Muslim Cyber One (FMCONews).

“Pelaku masuk di grup WA FMCONews,” ungkap Yusri di Mapolda Metro Jaya, Kamis (3/12/2020).

Dalam grup WA itu, ujarnya, terdapat sejumlah video sejumlah orang yang mengumandangkan azan yang kalimatnya dirubah menjadi ajakan jihad.

“Jadi, video itu dibagikan dengan disertakan kalimat-kalimat seruan untuk melakukan aksi jihad,” beber Yusri.

H kemudian mengambil video tersebut dan mengunggahnya melalui akun Instagram @hashophasan.

“Kemudian pelaku menyebarkannya secara masif dengan narasi provokatif.

Berdasarkan penyelidikan, H masuk ke dalam grup WA itu sejak 2017 lalu.

Saat ini, pihaknya masih terus mendalami terkait grup WA FMCONews tersebut.

Mulai dari jumlah orang yang bergabung, peran dan tujuan penyebaran video azan jihad.

“Kami masih dalami grup FMCONews itu, semua siapa yang ada di dalam grup tersebut. Karena ini sudah membuat kegaduhan. Ini provokasi,” kata Yusri.

Pelaku sendiri dalam kesehariannya berprofesi sebagai kurir keliling dokumen di sebuah perusahaan ekspedisi swasta di Jakarta.

Dijelaskan mantan Kabid Humas Polda Jabar ini, penangkapan terhadap H dilakukan untuk mencegah kegaduhan dari dampak video tersebut.

Untuk itu, ia memastikan, pihaknya akan gencar melakukan patroli siber untuk mencari konten-konten yang berpotensi membuat kegaduhan.

Selain itu, Yusri juga mengimbau agar masyarakat bisa bijak dalam bermedia sosial.

“Jangan sampai ada media sosial yang membuat kegaduhan, secara penegakan hukum kita lakukan tindakan tegas,” ingatnya.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 28 ayat 2 Jo pasal 45A ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Dengan ancaman pidana penjara paling lama enam tahun,” tandas Yusri.

Sumber Berita / Artikel Asli : Pojoksatu

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...