Wamenag Minta Hentikan Perdebatan Ucapan Salam

251
Zainut Tauhid Sa’adi

 JAKARTA – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi meminta semua pihak menghentikan perdebatan masalah ucapan salam.

Pihaknya khawatir, perdebatan tersebut nantinya bisa menimbulkan kesalahpahaman dan mengganggu keharmonisan kehidupan umat beragama.

Demkian disampaikan Zainut Tauhid melalui keterangan tertulisnya, Selasa (12/11/2019).

 

“Kami menghargai adanya berbagai pandangan dan pendapat baik yang melarang maupun yang membolehkan, semua itu masih dalam koridor dan batas perbedaan yang dapat ditoleransi,” ujarnya.

Menurutnya, semua pihak hendaknya membangun pemahaman yang positif (husnut tafahum), mengembangkan semangat toleransi (tasammuh) dan merajut tali persaudaraan (ukhuwah).

Baik persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (wathaniyyah) maupun persaudaraan kemanusiaan (basyariyyah).

Pihaknya juga mengimbau para pemimpin umat beragama, baik internal maupun antarumat beragama agar melakukan dialog untuk membahas dan mendiskusikan masalah tersebut.

 

Dengan cara kekeluargaan sehingga masing-masing pihak dapat memahami permasalahannya secara benar.

Spirit kerukunan umat beragama harus diwujudkan melalui sikap dan perilaku keberagamaan yang santun, rukun, toleran, saling menghormati, dan menerima perbedaan keyakinan kita masing-masing.

Sebelumnya, MUI Jawa Timur mengimbau umat Islam dan para pemangku kebijakan atau pejabat untuk menghindari pengucapan salam dari agama lain saat membuka acara resmi.

Imbauan tersebut termaktub dalam surat edaran bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang ditandatangani oleh Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori dan Sekretaris Umum Ainul Yaqin.

Dalam surat itu, MUI Jatim menyatakan bahwa mengucapkan salam semua agama merupakan sesuatu yang bidah, mengandung nilai syuhbat, dan patut dihindari oleh umat Islam.

 

“Mengucapkan salam pembuka dari semua agama yang dilakukan oleh umat Islam adalah perbuatan baru yang merupakan bidah, yang tidak pernah ada di masa lalu. Minimal mengandung nilai syubhat, yang patut dihindari,” demikian penggalan bunyi surat tersebut.

(jpnn/ruh/pojoksatu)

Comments

comments

Loading...