Viral PKKMB Online UNESA, Ernest Prakasa dan Dokter Jimmie Cuit Soal Ospek dan ‘Gangguan Jiwa’

193

Beredar video di media sosial memperlihatkan kegiatan ospek virtual di sebuah kampus di Jawa Timur, Universitas Negeri Surabaya.

Video tersebut tersebar pada Senin Sore, 14 September 2020 di media sosial.

Terlihat seorang mahasiswa baru (maba) tengah dibentak-bentak oleh senior karena tidak mengenakan ikat pinggang atau sabuk.

“Ikat pinggang diperlihatkan, ga dibaca tata tertibnya? ujar salah seorang senior perempuan.

Video berdurasi 30 detik memperlihatkan kegiatan ospek atau Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) di Unesa tahun 2020 tersebut diunggah oleh akun twitter @skipberat.

Dikutip KabarLumajang.com dari PortalSurabaya.com, pihak kampus melalui Humas Universitas Negeri Surabaya, Vinda Maya, mengakui adanya kesalahan dalam hal koordinasi pelaksanaan PKKMB, salah satunya di Fakultas FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan)

Pihak UNESA juga tidak menyetujui bila ada kekerasan dalam pelaksanaan PKKMB.

Viralnya video PKKMB FIP ini akan dijadikan sebagai evaluasi pihak internal kampus.

“Kami sepakat tidak menyetujui adanya kekerasan. Maka, hal ini akan menjadi catatan penting bagi kami, kami juga akan melakukan evaluasi, dan kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang memberikan kritik dan saran,” jelas Humas Unesa, Vinda Maya.

Sebagai bentuk evaluasi, Universitas Negeri Surabaya akan memanggil panitia ospek terkhusus panitia PKKMB FIP Unesa untuk dimintai keterangan terkait kronologi kejadian ini.

Terkait sanksi, jika panitia terbukti bersalah, pihak UNESA akan menyelesaikan kasus ini secara internal dan kekeluargaan.

Sebelumnya diketahui kegiatan PKKMB ini dilakukan secara serentak di 7 Fakultas Universitas Negeri Surabaya.

Namun hanya 4 Fakultas yang melakukan live streaming YouTube saat proses ospek berlangsung, salah satunya FIP.

Terlepas dari berita yang beredar mengenai ospek virtual di UNESA, beberapa public figure memberikan komentarnya terkait ospek.

Ernest Prakasa komedian dan filmmaker turut serta nimbrung bercuit mengenai ospek.

Ospek sering jadi kesempatan bagi manusia2 insecure nihil prestasi untuk mencicipi setitik kebanggaan hidup dengan merendahkan manusia lain,” cuitannya di akun Twitter @ernestprakasa seperti dikutip KabarLumajang.com, 15 September 2020.

Dalam sebuah thread Twitter tersebut, Ernest terkenang mengenai masa-masa ospek saat masih kuliah.

“Salah satu dr segelintir oknum yg berani cuek ga dateng ospek sama sekali di angkatan gw itu @d99. Ketika ospek selesai & kuliah dimulai, baru nongol sikampret. Kita pun bingung, ORANG INI SIAPA?!,” tulisany

Selain Ernest, Jiemi Ardian, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta juga ikut bercuit membahas mengenai ospek yang dipandang dari sisi kejiwaan.

Berikut salinan thread cuitan Dokter Jiemi yang membahas mengenai budaya ospek dengan gaya bentak-bentak bagi kesehatan mental.

“Jujurlah wahai kating, OSPEK marah marah yang kamu buat itu bukan tentang mendidik adik tingkat. Kamu buat OSPEK marah marah itu buat hiburanmu dan memuaskan ego mu yang ingin terlihat hebat.

Pendidikan? Bukan, itu keegoisan dan kemalasan mencari jalan menguatkan yang lebih baik

Nggak usah bicara soal “dunia lebih berat”, karna dunia bisa lebih ringan kalau saling dukung, bisa lebih indah kalau saling rangkul.

Tapi dunia bisa jadi berat, kalau orang orang di dalamnya sibuk dengan egonya yang minta dikasi makan segede godzila kaya Yth Kating Pemarah

Ini baru namanya melatih mental, dasari perencanaan tindakan dengan bukti ilmiah. Jangan cuma “katanya” atau “menurut saya”, tapi ada buktinya.

Adakah bukti penelitian soal OSPEK marah marah dapat melatih mental? Sepertinya teman-teman tau jawabannya.

Kalau ada SATU dari seratus yang diOSPEK marah marah itu kena gangguan jiwa, itu sudah TERLALU BANYAK

Dan dia begitu bukan karena lemah, tapi karena kalian meneruskan budaya kekerasan

Buat kalian kating yang berani melakukan yang benar, hentikan budaya kekerasan ke adik tingkat.

Kalian si enak, abis maaf maafan sama adek tingkat terus seakan ga terjadi apa apa

Tapi yang ngalamin trauma itu menderita lama. Situ mah enak Saepudin, abis OSPEK ketawa, saya nih jadi ngobatin trauma dia bertaun taun setelahnya

Jadi please, berhenti yuk ga ilmiah gini.”
***

Sumber Berita / Artikel Asli : pikiran rakyat

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...