Video ‘Provinsi Garis Keras’ Mahfud MD Tuding Said Didu Provokator: Lihat Dong Videonya

1394

JAKARTA – Video pernyataan Mahfud MD yang menyebut Prabowo-Sandi menang di provinsi garis keras menjadi sorotan publik dan warganet.

Tak sedikit yang lantas memprotes pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut. Video itu sendiri merupakan potongan dari wawancara di sebuah televisi nasional.

Akibatnya, mahfud pun dicap sebagai provokator dan menuao protes. Salah satunya dari anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Refsizal.

Melalui akun Twitter miliknya, @refrizalskb, politisi asal Sumatera Barat itu melontarkan protes.

“Pak MMD bilang di Jabar, Sumbar, Aceh & Sulsel; Islam Garis Keras se olah2 anti Keberagaman. Apakah ada di Sumbar Gereja dirusak & dibakar?” cuitnya kepada Mahfud.

Hal itu lantas dijawab Mahfud, juga melalui akun Twitter miliknya, @mohmahfudmd, Minggu (28/4/2019).

“Pak Refrizal, krn Anda teman sy maka sy jelaskan. Anda blm melihat video yg sy katakan shg responnya buru2,” buka Mahfud.

Guru Besar Hukum Tata Negara itu menyebut Refrizal terprovokasi dengan cuitan Said Didu. Mahfud juga menekankan kata ‘dulu’ dalam pernyataannya yang dipermasalahkan itu.

“Anda terprovokasi oleh @msaid_didu , hahaha.? Saya bilang, Pak Jkw kalah di provinsi yg “dulunya” adalah tempat garis keras dlm keagama. Makanya Pak Jkw perlu rekonsiliasi,” jelasnya.

Pria kelahiran Madura, Jatim itu lantas menjelaskan dua alasan kenapa ia menyampaikan kata ‘dulu’ dalam pernyataan tersebut.

Pertama, yakni keberadaan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, PRRI di Sumatera Barat, GAM di Aceh, dan DI/TII Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.

“Lht di video ada kata “dulu”. Puluhan tahun terakhir sdh menyatu. Maka sy usul Pak Jkw melakukan rekonsiliasi, agar merangkul mereka,” jelasnya lagi.

Karena itu, ia pun balik mempertanyakan dimana letak kesalahannya dalam pernyataan yang ia sampaikan itu.

“Pak Refrizal, generasi yg lahir sejak tahun 1970-an bnyk yg tdk tahu bhw “dulu” ada itu. Sekarang sih tidak,”

“Dimana salahnya sy mengatakan itu? Itu kan sejarah? Makanya sy usul agar Pak Jkw merangkul mereka dgn rekonsiliasi segera agar pembelahan tdk berlanjut sampai 2024,” cuitnya lagi.

Di sisi lain, Mahfud menuding bahwa pernyataan tersebut sengaja dimanfaatkan dan digoreng sedemikian rupa oleh Said Didu.

“Isu tersebut menjadi panas dan digoreng ke-mana2 krn bnyk yg hanya membaca pertanyaan Pak @msaid_didu tanpa melihat videonya. Padahal VT diposting jg di situ,” katanya.

Ia juga mengungkap bahwa Said Didu sama sekali tak mencantumkan kata ‘dulu’ dalam cuitannya.

“Pertanyaan dlm cuitan Pak Said itu tak memuat dua kata kunci yakni kata “DULU” dan usul “REKONSILIASI”. Lht dong videonya,” pungkasnya.

Berikut pernyataan Mahfud MD terkait ‘provinsi garis keras’ dalam potongan video yang beredar di media sosial:

Kemarin itu sudah agak panas dan mungkin pembelahannya sekarang kalau lihat sebaran kemenangan ya mengingatkan kita untuk lebih sadar segera rekonsiliasi.

Karena sekarang ini kemenangan Pak Jokowi ya menang dan mungkin sulit dibalik kemenangan itu dengan cara apapun.

Tapi kalau lihat sebarannya di beberapa provinsi-provinsi yang agak panas, Pak Jokowi kalah.

Dan itu diidentifikasi tempat kemenangan Pak Prabowo itu adalah diidentifikasi yang dulunya dianggap provinsi garis keras dalam hal agama.

Misal Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan sebagainya, Sulawesi Selatan juga.

Saya kira rekonsiliasinya jadi lebih penting untuk menyadarkan kita bahwa bangsa ini bersatu karena kesadaran akan keberagaman dan bangsa ini hanya akan maju kalau bersatu

(ruh/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...