Varian Delta Plus Sedang Naik Daun, Zubairi Djoerban: Khawatir Tak Mempan dengan Obat antibodi Monoklonal

300
Ketua Satgas Covid-19 IDI, Prof. Zubairi Djoerban. /Instagram.com/@profesorzubairi.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan Varian Delta Plus kini sedang naik daun.

“Itu jadi perbincangan di mana-mana. Bahkan variannya telah ditemukan di Indonesia. Apakah kecepatan penularannya lebih cepat dan lebih berbahaya ketimbang varian Delta ‘asli’?,” katanya, Minggu, 1 Agustus 2021.

Jawabannya, lanjut dia, belum diketahui pasti. Sebab datanya masih sedikit.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) masih memasukkan informasi Delta Plus ke kelompok Delta.

Demikian pula WHO, kata dia, yang belum jelas menyatakan Delta Plus ini lebih berbahaya atau menular.

“Apakah Delta Plus bisa menembus pertahanan orang yang mempunyai antibodi alami atau yang telah divaksinasi? Belum cukup data juga menjawab itu. Masih sedikit informasinya,” katanya.

“Apakah varian ini bisa menurunkan efikasi vaksin yang sudah diberikan? Belum cukup data juga,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengatakan, untuk varian Delta ‘asli’ memang bisa menurunkan efikasi vaksin.

“Contoh paling gampang adalah Amerika, yang notabene 50 persen lebih warganya sudah divaksinasi. Apa yang terjadi di Amerika? Ketika vaksinasi masif, kasusnya memang turun drastis. Tapi kemudian naik lagi,” ujarnya.

Sekarang, lanjut dia, jumlah kasus baru di Amerika dalam seminggu terakhir, menempati posisi pertama dunia—meski sudah melakukan vaksinasi lebih dari 50 persen warganya.

“Apakah naiknya kasus Covid-19 di Amerika karena Delta Plus? Belum ada informasi soal itu. Yang jelas, varian Delta yang diketahui saat ini lebih menular dari virus yang menyebabkan MERS, SARS, Ebola, flu biasa, flu musiman, dan cacar. Demikian kata CDC,” sebutnya.

“Lalu, apa yang harus dikhawatirkan dari Delta Plus ini?” katanya.

Ia mengatakan, hal yang sebenarnya menjadi isu para ahli adalah kekhawatiran Delta Plus yang bisa mengganggu pengobatan untuk pasien Covid-19–yang membutuhkan terapi obat antibodi monoklonal.

“Antibodi monoklonal ini bagus banget dan bisa selamatkan nyawa pasien Covid-19. Sebab itu obat ini mendapat izin emergency use authorization.”

“Nah, varian Delta Plus ini dikhawatirkan tidak mempan dengan obat antibodi monoklonal sehingga akan mengurangi hasil pengobatannya,” tandasnya.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Galamedia

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here