Turki Jadikan Hagia Sophia sebagai Masjid, Paus Francis Akui Sangat Sedih

216
Paus Francis dalam Misa Jumat Agung untuk memperingati Sengsara dan Wafat Yesus, di Basilika Santo Petrus, Vatikan (10/4/2020). Foto sebagai ilustrasi.[AFP/Pool/Andrew Medichini].

Paus Fransiskus mengungkapkan kesedihannya atas keputusan Presiden Turki Recep Thayyib Erdogan untuk menjadikan mantan katedral era Justinus, yakni Hagia Sophia, menjadi masjid.

“Saya memikirkan Hagia Sophia dan saya sangat sedih.” ungkap Paus Francis menjelang akhir khotbah di Lapangan Santo Petrus, disadur dari Al Jazeera, Senin (13/7/2020).

Pernyataan tersebut adalah reaksi pertama Vatikan terhadap keputusan Turki untuk mengubah monumen era Bizantium kembali menjadi masjid.

Rasa kecewa juga diungkapkan oleh Patriark Bartholomew, pemimpin spiritual Kristen Ortodoks sedunia yang berbasis di Istanbul.

Dewan Gereja Sedunia juga telah meminta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk membalikkan keputusannya.

Pada hari Sabtu (11/7), Presiden Erdogan menolak kecaman internasional atas keputusan untuk mengubah status landmark Istanbul Hagia Sophia dari museum menjadi masjid.

“Mereka yang tidak mengambil langkah melawan Islamofobia di negara mereka sendiri … menyerang keinginan Turki untuk menggunakan hak-hak kedaulatannya,” ujar Presiden Erdogan pada upacara yang ia hadiri melalui konferensi video.

Hagia Sophia di Istanbul, Turki. (Murat Demirkan/Pixabay)
Hagia Sophia di Istanbul, Turki. (Murat Demirkan/Pixabay)

Akhir Geopolitik

Hagia Sophia dibangun 1.500 tahun yang lalu sebagai katedral Kristen Ortodoks dan diubah menjadi masjid setelah Ottoman menaklukkan Konstantinopel, sekarang Istanbul, pada tahun 1453. Pemerintah Turki sekuler memutuskan pada tahun 1934 untuk menjadikannya museum.

Presiden Erdogan pada hari Jumat (10/7) secara resmi mengubah status bangunan bersejarah tersebut kembali menjadi masjid dan menyatakan terbuka untuk ibadah umat Islam.

Uskup Hilarion, yang mengepalai departemen Gereja Ortodoks Rusia untuk hubungan gereja eksternal, menggambarkannya sebagai “pukulan bagi Kekristenan global”.

Dewan Gereja Dunia, yang mewakili 350 gereja Kristen, mengatakan telah menulis surat kepada Erdogan untuk mengungkapkan “kesedihan dan kecemasan” mereka.

Kepala Gereja Ortodoks Yunani, Uskup Agung Ieronymos, menggambarkan keputusan Erdogan sebagai “instrumentalisasi agama untuk tujuan partisan atau geopolitik”.

Hagia Sophia resmi menjadi masjid. (Anadolu Agency/Elif Ozturk)
Hagia Sophia resmi menjadi masjid. (Anadolu Agency/Elif Ozturk)

“Kemarahan dan kesombongan tidak hanya menyangkut Gereja Ortodoks dan Kristen tetapi semua umat manusia yang beradab … terlepas dari agama,” tambah Ieronymos.

Erdogan mengatakan Hagia Sophia – yang dikenal sebagai Ayasofya di Turki – akan tetap terbuka untuk umat Muslim, Kristen, dan pengunjung.

“Pintu Hagia Sophia akan tetap terbuka untuk pengunjung dari seluruh dunia,” kata Fahrettin Altun, pembantu pers Turki.

“Orang-orang dari semua denominasi agama dipersilakan untuk mengunjunginya – sama seperti mereka dapat mengunjungi masjid lain, termasuk Masjid Biru.” tambahnya.

UNESCO melalui Komite Warisan Dunia akan meninjau status Hagia Sophia, dan keputusan Turki menimbulkan pertanyaan tentang efek pada nilai universal sebagai situs penting yang melampaui batas dan generasi.

Sumber Berita / Artikel Asli : Suara

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...