‘Tsunami’ Besar Landa Myanmar: Ledakan Covid-19 dan Kelaparan

3089

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengatakan krisis kelaparan di Myanmar diprediksi akan meningkat hingga 6,2 juta orang kelaparan pada Oktober 2021. Kini PBB mengatakan membutuhkan dana untuk memberi makan masyarakat di Myanmar.

Program Pangan Dunia (WFP) PBB mengatakan kekurangan 70% dari US$ 86 juta atau Rp 1,2 triliun (asumsi Rp 14.300/US$) yang dibutuhkan selama enam bulan ke depan, karena Myanmar sedang mengalami banyak krisis.

WFP mengatakan gelombang besar infeksi Covid-19 melonjak di seluruh Myanmar semakin parah karena adanya krisis kelaparan, kenaikan harga makanan dan bahan bakar, kerusuhan politik, hingga kekerasan dan pengungsian.

 

“Kami telah melihat kelaparan menyebar lebih jauh dan lebih dalam di Myanmar,” kata direktur negara WFP Myanmar Stephen Anderson, dikutip dari AFP.

“Hampir 90% rumah tangga yang tinggal di permukiman kumuh di sekitar Yangon mengatakan mereka harus meminjam uang untuk membeli makanan; pendapatan sangat terpengaruh bagi banyak orang.”

WFP meluncurkan respons pangan perkotaan pada Mei, menargetkan dua juta orang di Yangon dan Mandalay, dua kota terbesar Myanmar. Sejauh tahun ini, 1,25 juta orang di Myanmar telah menerima bantuan makanan, uang tunai, dan nutrisi dari WFP.

Berbicara kepada wartawan di Jenewa melalui tautan video dari ibu kota Naypyidaw, Anderson mengatakan gelombang ketiga Covid-19 yang melanda negara itu “hampir seperti tsunami”, menciptakan “malapetaka besar” dan berdampak parah pada kehidupan masyarakat.

“Rakyat Myanmar menghadapi momen tersulit dalam ingatan hidup mereka. Sangat penting bagi kami untuk dapat mengakses semua yang membutuhkan dan menerima dana untuk memberi mereka bantuan kemanusiaan,” katanya.

Kini Myanmar masih berada dalam kekacauan serta kelumpuhan ekonomi sejak militer merebut kekuasaan dari pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021. Negara ini telah mengalami protes massal dan tanggapan militer yang brutal sejak terjadinya kudeta.

Sumber Berita / Artikel Asli : CNBC Indonesia

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here