Tim Gabungan Kasus Novel Baswedan Sudah Dibentuk, Lah Kok Polisi Malah Saling Lempar

354
Novel Baswedan di Gedung KPK

JAKARTA – Mabes Polri telah membentuk tim gabungan untuk menindaklanjuti kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Surat perintah pembentukan tim gabungan ini terbit pada Selasa (8/1/2019) dan diteken langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Sayangnya, antara Mabes Polri dan Polda Metro jaya terkesan saling lempar tanggungjawab.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, pihaknya memang berbagi tugas dengan Polda Metro Jaya yang menangani kasus tersebut.

“Kalau taktis-teknis, Polda Metro Jaya yang tanggung jawab,” kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta, Selas (15/1/2019).

Namun Dedi mengaskan, bahwa pihaknya sampai saat ini masih bekerja secara maksimal dalam menangani kasus Novel Baswedan.

Oleh karena itu, ia meminta kepada masyarakat agar memberikan waktu dan kesempatan kepada pihaknya untuk menuntaskan kasus tersebut.

“Jadi tolong berikan kesemptan kepada Tim Gabungan yang sudah dibentuk oleh Kapolri untuk bekerja secara maksimal,” harapnya.

Dedi juga menekankan bahwa pihaknya bekerja dengan profesional berdasarkan prosedur hukum yang berlaku.

“Yakin akan bekerja dengan profesional dan proses pembuktian secara ilmiah akan menjadi dasar,” ungkap Dedi.

Sementara Kabid Humas Polda Metro Jaya Argo Yuwono yang dikonfirmasi terkait perkembangan kasus penyiraman penyidik KPK, Novel Baswedan, malah enggan berkomentar panjang.

Sebaliknya, Argo malah meminta agar hal itu ditanyakan langsung ke Mabes Polri.

“Tanya aja ke Mabes ya,” singkat Argo.

Untuk diketahui, berdasarkan Surat Tugas Kapolri dengan nomor Sgas/3/I/HUK.6.6./2019 jumlah anggota Tim gabungan mencapai 65 orang.

Mereka terdri dari KPK sebanyak enam orang, perwakilan pakar tujuh orang dan sisanya 52 dari kepolisian.

Dalam tim ini Kapolri Jendral Tito Karnavian tertulis sebagai Penanggung Jawab.

Beberapa nama tokoh yang masuk dalam tim ini. Antara lain, Indriyanto Seno Adji (Wakil Ketua KPK Februari-Desember 205/Guru Besar UI) dan Hermawan Sulistyo (akademisi).

Selain itu juga ada Hendardi (Setara), Poengky Indarti (mantan Direktur Eksekutif Imparsial), Ifdhal kasim (Komnas HAM 2007-2012), dan sejumlah nama lainnya.

Sementara, Komnas HAM akhir tahun lalu telah menyelesaikan laporan hasil pemantuan terhadap kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan.

Salah satu hasilnya, Komnas HAM merekomendasikan agar Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian segera membentuk tim gabungan.

Komnas HAM juga merekomendasikan KPK membuat langkah langkah hukum dalam kasus penyerangan terhadap Novel.

(fir/pojoksatu)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here