Teringat Kontrak Politik Jokowi, Warga Kampung Akuarium Tolak Mentah-mentah Paket 01

687

Pembawa Pesan Jokowi Terhalang Jejak Politik dan Luka Warga Kampung Akuarium

Warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara menolak mentah-mentah bingkisan dari seorang ibu dan anak yang mengaku sebagai pembawa pesan. Mereka membawa bingkisan berisi kalender, pena, dan lainnya. Ada pula atribut kampanye capres dan cawapres nomor urut 01, Jokowi– Ma’ruf Amin.

Ingatan warga kembali muncul saat mengetahui isi bingkisan dari sang pembawa pesan berupa atribut kampanye Jokowi. Pilu penggusuran yang dilakukan pada April 2016 masih membekas.

Seperti disampaikan seorang warga bernama Eti. Pada 2012, Jokowi meneken kontrak politik tidak akan menggusur Kampung Akuarium. Meskipun penggusuran dilakukan oleh Gubernur DKI saat itu Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, tapi warga tetap kecewa terhadap Jokowi.

“Ya itu intinya itu, kezaliman yang terjadi pada kami 3 tahun ini sampai sekarang masih ingat, itu yang buat kita menolak (bingkisan). Kita minta bantuan pun saat mau digusur tidak ada respons sebagai presiden untuk menolong rakyatnya,” katanya saat ditemui merdeka.com, Kamis (28/2).

Warga lainnya, Dharma Diani juga punya cerita tentang jejak politik Jokowi di Kampung Akuarium. Dia mengaku pernah berdialog langsung dengan Jokowi. Bahkan, warga di Kampung Akuarium sempat menaruh harapan kepada mantan Walikota Solo itu.

“Saya pelaku sejarah, di mana Jokowi mau jadi gubernur jadi presiden datang bawa kartu KJP, saya dialog langsung, bawa susu dan biskuit, bawa baju seragam sekolah. Ini kan tanda keperhatian ada sesuatu yang jadi jual kami, ada suara kami, pada saat pemilihan itu 95 persen bahkan lebih suara Jokowi menang di kampung ini,” kata Diani.

Saat itu, Jokowi datang dengan penuh percaya diri dan membawa kontrak politik kepada warga. Namun Jokowi justru dinilai tak peduli saat warganya dalam kesengsaraan.

“Di sini dia mengantar kertas kontrak politik di (Jakarta) Utara. Dia bilang tidak akan gusur dan sebagainya. Memang tidak digusur sama Pak Jokowi tapi digusur Pak Ahok. Tapi yang kita tahu Pak Jokowi jadi gubernur, Ahok itu wakilnya. Dan tahu banget kontrak politik itu ya kan. Akhirnya kami bilang kami menolak Ahok, kami juga menolak Jokowi tanpa embel-embel politik apapun,” katanya.

Terpisah, Wakil Ketua Umum TKN Abdul Kadir Karding mengakui, Kampung Akuarium adalah basis massa dan suara capres nomor urut 02, Prabowo Subianto. Namun dia yakin di kampung itu ada pula yang masih menerima Jokowi.

“Jadi tidak satu kampung menolaknya. Satu dua yang menolak dan lebih banyak yang menerima, itu prinsipnya,” ucap Karding kepada merdeka.com.

Menurutnya, hal itu biasa terjadi dan wajar dalam dunia politik. Dalam demokrasi, orang memiliki pandangan dan sikap sendiri yang tak bisa dipaksakan. Sehingga Karding mengapresiasi kehadiran relawan Jokowi yang mengaku sebagai pembawa pesan di Kampung Akuarium.

“TKN menghargai kerja keras para relawan dalam rangka mengkampanyekan hal yg positif dari Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin,” tutupnya. [noe] merdeka

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here