Tengku: Kalau Mau Salat Jum’at Saja Dilarang Gara-gara Umumkan Tempat, Banyak Khotib dan Kiai yang Mestinya Dilarang

216
Foto KH Tengku Zulkarnain | Twitter/ustadtengkuzul

Rencana calon presiden  Prabowo Subianto akan salat Jumat di Masjid Agung Semarang, Jawa Tengah, diumumkan melalui berbagai media komunikasi, mulai dari pamflet, poster, maupun media sosial.

Tetapi kemudian Ketua Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman) Hanief Ismail menyampaikan keberatan terhadap rencana salat Jumat yang akan dilakukan Prabowo Subianto di Masjid Kauman, Jumat (15/2/2019). Salah satu alasannya menilai adanya unsur politik dan pencitraan. Hal ini kemudian memicu perbincangan politik di media sosial.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Ustaz Tengku Zulkarnain melalui akun Twitter @ustadtengkuzul menyayangkan sikap pengelola Masjid Kauman. Menurut dia sikap keberatan tersebut tidak logis.

“Kalau mau sholat Jum’at saja dilarang gara-gara mengumumkan akan sholat di satu masjid tertentu, maka banyak khotib Jum’at dan para kiai yang mestinya dilarang karena juga mengumumkan akan sholat dan khutbah di masjid tertentu…
Segitunya ya demi pilpres… Hemmm…” kata dia.

Pernyataannya terkesan kurang sependapat kalau rencana Prabowo Subianto salat di Masjid Kauman dicurigai sebagai pencitraan. Tengku Zulkarnain kemudian menyampaikan argumentasinya tentang apa itu pencitraan di masjid.

“Menuduh seorang muslim mau sholat sebagai tindakan pencitraan di masjid? Pencitraan saat sholat adalah meminta pengurus masjid mengizinkan seseorang jadi imam di masjid yang didatangi. Dan meminta posisi imam mundur satu shof di belakang mihrab yang semestinya agar bisa dishoot,” kata dia.

Argumentasi lainnya yang disampaikan Tengku Zulkarnain menyebutkan mengimami orang lain di masjid yang bukan tempat dia musthauthin, hukumnya makruh. Apalagi menjadi imam di masjid jami’ yang Ada imam tetapnya, setelah orang kampung selesai salat berjamaah di sana juga makruh dalam mazhab Imam Syafi’i.

“Kenapa penasihat sang penguasa tidak beritahu?” katanya.

Koordinator juru bicara pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, melalui akun Twitter @Dahnilanzar menilai pernyataan komisinoer Komisi Pemilihan Umum Wahyu Setiawan yang dimuat media online VIVA dengan judul: KPU Ingatkan Prabowo Tak Boleh Kampanye di Tempat Ibadah.

“Mas Wahyu @KPU_ID agaknya statement ini tendensius, Pak @prabowo tahu etika dan aturan. Beliau bisa shalat dimana saja itu benar. Tapi mengeluarkan statement mengingatkan salah satu calon untuk sesuatu yang tidak dilakukan itu tak elok. Kecuali bahasa anda mengingatkan kedua pihak,” kata dia.

Ketika itu, Wahyu Setiawan dimintai tanggapan soal kasus di Masjid Kauman dan dia mengatakan pada dasarnya semua warga boleh ibadah di mana pun. Yang dilarang itu, kata dia, ketika tempat ibadah dijadikan tempat kampanye.

Dahnil Anzar Simanjuntak juga menanggapi pernyataan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Johnny G. Plate yang dimuat CNN Indonesia dengan judul TKN Duga Prabowo Jumatan di Masjid Kauman Bukan untuk Ibadah. Menurut dia pernyataan tersebut berbahaya bagi kelangsungan keberagaman di Indonesia.

“Agaknya, statement ini tak elok dan berbahaya. Stoplah “lompat pagar.” Pernyataan ini berbahaya dan bisa menjadi ancaman serius bagi keberagaman, anda mengurusi niat ibadah orang yang berbeda agama dengan anda bang Jhoni. Mohon diingatkan Pak @jokowi timsesnya,” kata dia. [] akurat

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here