Tanggapi Pidato Prabowo di Boyolali, PSI: Capres Ini Tunjukan Siapa Dirinya

288
Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni | ISTIMEWA

Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSIRaja Juli Antoni turut menanggapi pidato Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto di Boyolali, Jawa Tengah.

Menurut dia, apa yang dilakukan oleh Prabowo di Boyolali mencerminkan prilaku buruk Ketua Umum Gerindra tersebut. Bahkan dalam akun Twitternya Raja Juli mengatakan, pencitraan yang dilakukan Prabowo tak sanggup tutupi keburukannya.

“Capres ini terus menunjukan siapa dirinya. Bedak dan ginju yg dipoleskan konsultan penampilan tdk mampu menutupi tabiat buruk nya,” kata dia melalui akun resmi Twitternya, @AntoniRaja.

Ia juga turut membandingkan kejadian sebelumnya, yang mana Prabowo juga pernah memarahi ibu-ibu. Oleh karena itu, dirinya sangat menyayangkan dengan apa yang dilakukan Prabowo tersebut.

“Setelah memarahi ibu-ibu, kini wajah rakyat ia hinakan. Muka rakyat jadi bahan candaan. #SaveMukaBoyolali,” sambungnya.

Berikut isi pidato Prabowo Subianto:

“Seorang presiden RI, sayap-sayap, sebagai contoh para purniawan perjuang Indonesia Raya,

Singa-singa tua yang turun dari gunung untuk membela negara dan bangsa kita walaupun mereka giginya sudah ompong.

Giginya ompong semangatnya masih menyala-nyala.

Tapi terutama yang saya rasakan dukungan dari emak-emak yang miltan

Saudara-saudara ini yang merasakan, karena keadilan dan kemakmuran adalah tuijuan kita merdeka.

Keadilan dan kemakmuran tujuan mendirikan banga Indonesia.

Keadilan dan kemakmuran adalah tujan kita merdeka

Keadilan dan kemakmuran adalah mendirikan bangsa Indonesia.

Saya tanya ke saudara-saudara, apakah saudara-saudara sudah merasakan keadilan dan kemakmuran atau belum?

Saudara-saudara saya hari ini didampingi oleh ketua umum partai Amanat Nasional, Pak Zulkifli Hasan tapi kebetulan beliau juga sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan RI (MPR RI) pemegang perwakilan perwakilan rakyat yang tertinggi di Republik Indonesia.

Saya kenal Pak Bibit Waluyo sudah lama, sebenarnya beliau adalah senior saya, Beliau yang dulu mlonco saya yang mengembleng saya, karena dulu saya taruna yang nakal, kalau nggak nakal, saya nggak jadi jenderal.

Dulu kita tentara bukan di belakang meja, bukan tentara di kota, kita tentara di lapangan.

Seharusnya kami pensiun, seharusnya kita istirahat tapi kami melihat bahwa negara dan bangsa masih dalam keadaan tidak baik, saya memberi usia saya untuk bangsa ini, saya memberi jiwa dan raga saya untuk bangsa ini.

Tapi begitu saya lihat Jakarta, saya melihat hotel-hotel mewah.

Gedung-gedung menjulang tinggi.

Sebut aja hotel paling mahal di dunia, ada di Jakarta.

Ada Rich Carlton, ada Waldorf Astoria, ngomong aja kalian nggak bisa sebut dan macem-macem itu semua.

dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul?

(betul, sahut hadirin yang ada di acara itu).

Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang boyolali ini.

Saya sebagai prajurit, kok negara saya bukan untuk rakyat saya, untuk apa saya berjuang, apakah saya berjuang agar negara saya milik orang asing, saya tidak rela, saya tidak rela,

Karena itu saya melihat rakyat saya masih banyak yang tidak mendapat keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan, buka itu cita-cita Bung Karno.”[] akurat

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here