Surat Terbuka Kepada Panglima TNI dan Kapolri

847

SURAT TERBUKA KEPADA PANGLIMA TNI dan KAPOLRI.

Oleh : Anton Permana.

Kepada Ykh ;
Bapak Panglima TNI berserta Kepala Staf Angkatan dan Jajaran Dibawahnya.
Bapak Kapolri berserta Kapolda dan Jajaran Dibawahnya.

Bahwasanya, hari ini kita telah menyaksikan bersama perhelatan akbar Pemilu dan Pilpres yang berjalan cukup sukses dari segi keamanan fisik dan keributan. Alhamdulillah, ini sebuah bukti bahwa bangsa Indonesia sudah matang dalam berdemokrasi.

Tapi apakah itu sudah cukup ? Apakah Pemilu dan Pilpres sudah bisa kita anggap selesai dan tuntas ? Tentu belum dan masih sangat jauh kalau kita anggap selesai melihat perkembangan terakhir.

Justru sekarang ini muncul bibit baru permasalahan yang tidak bisa dianggap remeh. Secara dimensi keamanan fisik dan kasat mata, memang pemilu berjalan damai. Namun, sangat banyak catatan buruk yang sampai sekarang menghantui proses penyelenggaraan pemilu ini yang bisa menjadi bom waktu dan siap meledak kapan saja. Bom waktu yang kalau tidak diantisipasi, cegah dini, tangkal dini, bisa menjadi pintu konflik yang serius. Yaitu buruknya tata kelola penyelenggaraan pemilu baik dari luar negeri maupun dalam negeri.

Dimulai dari aparat penyelenggara yang tidak netral dan terang-terangan mendukung salah satu paslon, sampai kepada pendistribusian logistik, surat suara tercoblos, kotak suara rusak, surat suara kurang, masyarakat banyak tidak bisa memilih, arogansi aparat, dan banyak lagi permasalahan terjadi dilapangan yang terindikasi semua terjadi dalam rangka penyuksesan salah satu paslon.

Dan yang paling krusial juga adalah, mengenai quick count di televisi yang jauh dari kondisi real dilapangan. Quick Count yang seakan dipaksakan untuk membentuk opini (framing) pemenangan kepada salah satu calon. Dengan alibi science dan ilmiah, tetapi mereka diduga telah memperkosa dan merusak suasana demokrasi bangsa ini. Ini tidak terjadi sekarang saja, tapi sudah acap terjadi sejak zaman Pilkada DKI, Jabar, dan Jateng.
Lembaga survey dan quick count yang seharusnya netral dgn konsepsi ilmiahnya, sekarang malah menjadi dewa penentu kemenangan paslon. Parahnya, penentuan ini berujung kepada siapa yang berani bayar mahal, maka mereka akan siap melacurkan intelektualitasnya.

Bapak Panglima. Bapak Kapolri Yang kami hormati dan muliakan.

Sebagai institusi profesional yang mempunyai jaringan sampai keseluruh pelosok negeri. Kami rakyat Indonesia tidak meragukan lagi kemampuan Bapak tentang membaca dan penguasaan informasi dilapangan.

Kami yakin Bapak tentu lebih tahu apa yang kami tidak tahu. Bapak tentu lebih luas pengetahuannya dari kami rakyat biasa. Tetapi yang kami ragukan hanyalah kenetralitasan prajurit Bapak dilapangan. Ketidak berpihakkan Prajurit Bapak untuk tidak ikut politik praktis dalam mendukung salah satu kubu. Untuk itu pada kesempatan ini izinkan kami menyampaikan beberapa hal sebagai berikut :

1. Kami berharap TNI-Polri tetap setia kepada sumpah prajurit, yaitu setia kepada negara bukan penguasa. Dengan cara, pastikan institusi TNI-Polri Netral dalam segala bentuk aktifitas politik praktis.

2. Kepada Polri untuk tidak tebang pilih dalam penegakan hukum, tidak ikut mengintimidasi masyarakat yang berbeda pilihan dengan penguasa sekarang ini. Dan tidak memberikan dukungan dalam bentuk apapun kepada para politisi.

3. Kepada TNI. Tentara itu lahir dari rakyat dan untuk rakyat. Dan bersama rakyat TNI kuat. Untuk itu, kami berharap doktrin ini jangan hanya sekedar jargon pemanis spanduk atau baliho ditengah kota. Mari tunjukkan kebersamaan TNI dalam mengawal proses penyelenggaraan pemilu sekarang ini dengan memberikan rasa aman, dan ketenangan kepada masyarakat. Yaitu TNI hadir bersama rakyat pada momen momen krusial perhitungan suara hari ini.

4. TNI-Polri hidup dari uang rakyat. Dididik, dilatih, disekolahkan, diberi fasilitas, semua dari uang rakyat. Pangkat dan jabatan juga hadiah dari rakyat. Semua itu berasal dari NEGARA. Dan kedaulatan tertinggi Negara itu ada ditangan rakyat. Bukan penguasa yang hanya bersifat sementara dan dipilih secara demokratis secara berkala.

5. Sekarang ini, rakyat sedang dipertontonkan oleh prilaku politik yang sangat merusak tatanan demokrasi kita. Bumi pertiwi sedang diperkosa. Para pengkhianat negara sedang bergentayangan untuk merampok kedaulatan negara ini untuk kepentingan politik pribadi dan kelompoknya. Itu semua di mulai dari proses pemilu dan pilpres ini.

Untuk itu kami berharap, TNI-Polri peka terhadap ini. Jangan tutup mata dan hati Bapak Bapak semuanya. Jangan bohongi hati nurani Bapak. Kami rakyat biasa saja bisa dengan jelas melihat ini semua dengan terang benderang. Kami yakin Bapak Bapak seharusnya lebih tahu dari pada kami. Dan kami juga sangat berharap Bapak Bapak tidak termasuk dalam bahagian dari itu semua. Kalaupun sudah terlanjur masuk, keluarlah segera sekarang juga.

6. Kami berharap Bapak tidak perlu berpihak kepada salah satu paslon. Tapi berpihaklah kepada kebenaran. Berpihaklah kepada kepentingan negara. Jangan terseret dengan rayuan para politisi yang menggiurkan. Jangan mau diperalat penguasa serta politisi untuk menjadi ‘alat kekuasaan’ mereka dengan alasan apapun. Loyalitas Bapak adalah kepada negara. Sesuai dengan sumpah prajurit Bapak selama ini.

7. Jangan biarkan rakyat galau dan larut dalam perpecahan yang semakin mendalam. Jangan biarkan para politisi berakrobat, menari nari memainkan trik politiknya dengan sewenang wenang. Kasihan rakyat Indonesia yang menjadi korban provokasi mereka.

Lihatlah sekarang ini wajah rakyat Indonesia yang lelah dan haus serta ingin sebuah perubahan yang lebih baik terhadap bangsanya. Jangan biarkan kegembiraan demokrasi ini rusak oleh tangan jahat para politisi yang sibuk mengadu domba dan memecah belah bangsa. Maling teriak maling. Fitnah sana sini, dan membuat tipu daya yang sangat membahayakan keutuhan bangsa ini.

8. Jangan pernah percaya dengan politisi Pak. Sekarang karena Bapak punya jabatan atau ‘diberi’ jabatan Bapak mereka sanjung dan beri fasilitas, tapi jangan harap nanti setelah Bapak tidak menjabat lagi. Karena tidak ada kawan abadi dalam politik. Yang ada hanya kepentingan. Belajarlah dari sejarah bagaimana PKI mengkhianati bangsa ini dengan biadab. Setelah menguasai Istana, setelah itu mereka fitnah tentara dengan isu dewan jendral, lalu mereka bantai dengan sadis para senior dan orang tua Bapak, lalu mereka ganti ideologi negara ini dengan komunisme.

Untung ketika itu rakyat dan tentara segera bergerak serentak. Allah masih sayang dengan bangsa Indonesia. Sehingga Indonesia masih utuh sampai sekarang. Untuk itu jangan biarkan sejarah ini berulang kembali. Seekor keledai pun tak mau terperosok masuk lubang untuk yang kedua kalinya.

9. Jangan Diam Pak. Jangan bisu. Jangan tutup mata batin Bapak melihat kekacauan yang sedang dimainkan oleh para politisi. Mana data inteligent Bapak yang hebat ? Mana laporan kondisi teritorial prajurit Bapak (Babinsa/Babinkamtibmas) yang terlatih itu ?

Bersuaralah Pak. Berikan hak kami tentang arti sebuah ketenangan. Ingat pangkat jabatan serta bintang yang ada di pundak Bapak. Bintang itu melambangkan Bapak adalah wakil Tuhan bagi muka bumi ini. Bagi rakyat. Dan bagi bumi pertiwi.

Mana semangat bhayangkari dan patriot sejati yang selalu Bapak suarakan ? Kami butuh tindakan nyata Bapak. Bukan baliho salam komando Bapak dengan tongkat komando semata. Tapi aksi nyata untuk menjadi penengah kegalauan yang terjadi ditengah masyarakat. Lerai masyarakat yang bertikai. Beri pemahaman bahwa demokrasi adalah sarana bukan tujuan untuk mencapai kesejahteraan.

Demokrasi adalah proses pergantian kepemimpinan yang konstitusional. Bukan provokasi isu pergantian ideologi Pancasila, buat negara khilafah, atau isu pembodohan lainnya.

10. Ayo bangun Bapak. Dengarkan jeritan rakyatmu. Pekalah dengan suara kebatinan para prajuritmu. Kami yakin Bapak sudah tahu bagaimana kondisi sejatinya dilapangan hari ini. Mari selamatkan bangsa ini yang sudah terlalu dekat kedepan pintu perpecahan. Perpecahan ini kalau dibiarkan bisa menjadi pemicu konflik bahkan perang saudara. Kalau ini sampai terjadi, maka Bapak Bapak lah yang paling bertanggung hawab atas semua ini. Baik didunia maupun diakhirat kelak. Dan ingatlah Pak. Jabatan itu hanya sementara. Kekuasaan itu dipergilirkan oleh Yang Maha Kuasa. Pada akhirnya Bapak juga akan kembali kepada rakyat. Karena setiap orang itu ada masanya, dan setiap masa itu ada orangnya. Dan semoga Bapak meninggalkan sejarah yang baik bagi masyarakat dan anak cucu Bapak kelak dikemudian hari dengan predikat membanggakan.

11. Terakhir kami sampaikan. Agar Bapak berani untuk mengatakan yang benar itu adalah benar. Yang salah itu adalah salah. Kepada siapapun. Walaupun kepada kepala negara sekalipun. Walaupun kepada para senior atau politisi yang memberi fasilitas kepada Bapak sekalipun. Karena kepentingan negara kita, diatas kepentingan pribadi dan jabatan. Jadilah seorang pemimpin kami yang terhormat Pak. Tanhana Dharma Mangrava, tidak ada kebenaran yang mendua. Setialah kepada merah-putih. NKRI harga mati.

Demikian surat terbuka ini sengaja kami tulis dari lubuk hati yang paling dalam. Sebagai bagian dari keluarga besar TNI. Sebagai anak TNI. Anak Bapak. Sebagai rakyat yang bangga mencintai dan sangat menghormati Bapak, dan berharap agar Bapak Bapak kembali berdiri ditengah, menjadi penjaga NKRI sejati.

Dan semoga apa yang kami sampaikan ini dapat diterima dengan baik dan bijaksana. Mohon maaf lahir dan batin. Terimakasih.

Bravo TNI-POLRI. NKRI HARGA MATI ! Indonesia Jaya !

Jakarta, 18 April 2019.

(Penulis adalah keluarga besar TNI-Polri, kader FKPPI dan Alumni PPRA Lemhannas RI angkatan LVIII tahun 2018).

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here