Sudah Diangkat, Lha Kok Black Box Lion Air JT-610 Malah Dimasukan dalam Air Laut?

1061

JAKARTA – Tim SAR Gabungan memastikan, benda berwarna oranye yang diangkat dari dasar perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, adalah black box Lion Air JT-610.

Penemuan dan pengangkatan kotak hitam pembuka tabir tragedi itu dilakukan oleh tim penyelam dari TNI AL.

Benda yang terletak di bagian ekor pesawat itu dinilai sangat penting keberadaannya.

Pasalnya, sari benda tersebut, nantinya akan didapatkan jawaban berkenaan penyebab pasti pesawat nahas tersebut.

Sesaat setelah diangkat dari permukaan air, kotak hitam itu langsung dimasukkan ke dalam kotak plastik yang berisi air laut.

Pangkoarmada I Laksamana Muda TNI Yudo Margono menjelaskan, hal itu memang sengaja dilakukan pihaknya.

Hal itu untuk menjaga agar black box tetap dalam kondisi yang baik dan tidak rusak.

“Saat ini dalam keadaan utuh dan harus tetap direndam dengan air laut agar kondisinya tidak rusak dan berkarat,” kata Yudo saat dikonfirmasi, Kamis (1/11/2018).

Yudo menyatakan, kotak hitam itu ditemukan sekitar 500 meter dari lokasi pesawat saat hilang kontak.

Saat ini, sambungnya, kotak hitam itu sudah dibawa untuk diserahkan kepada Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

“Black box sudah dibawa ke Kapal Riset Baruna Jaya milik BPPT dan selanjutnya akan dibawa ke KNKT untuk pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.

Terpisah, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan, pengangkatan kotak hitam tak bisa dilakukan sembarangan.

Kotak hitam yang terendam air laut harus segera dimasukkan ke dalam peti berisi air agar tak rusak.

“Black box yang kena air garam bisa karatan. Biar tak bersinggungan (dengan udara luar), tetap harus direndam,” ujar Soerjanto.

Soerjanto menjelaskan, kotak hitam itu sendiri sudah didesaign sedemikian rupa hingga sangat tahan banting dan tahan api.

Kendati dibakar dengan api dengan panas 1.000 derajat celsius sekalipun atau ditimpa benda seberat dua ton sekalipun.

Untuk diketahui, black box memiliki dua bagian.

Yakni flight data recorder seberat 13 kilogram dan cockpit voice recorder seberat 11 kilogram.

Kedua benda ini berada di bagian kanan ekor pesawat.

Meski sudah ditemukan, jawaban dan isi data di dalam kotak hitam itu tidak bisa langsung dibuka.

Setidaknya dibutuhkan waktu satu tahun untuk bisa membuka jawaban dari dalam kotak hitam tersebut.

“(Butuh waktu) Satu tahun. Itupun kalau tidak diperlukan manufaktur di Amerika. Biasanya memerlukan waktu lebih lama,” bebernya, di Jakarta, Selasa (30/10/2018).

Ony menjelaskan, proses yang memakan waktu lama dalam mencari penyebab kecelakaan adalah menganalisis datanya.

Prosesnya adalah, setelah blackbox ditemukan, KNKT lalu membaca data yang ada di dalam black box tersebut.

Untuk bisa membaca data dimaksud, dibutuhkan waktu paling lama dua jam.

“Baca data cukup cepat, untuk download data sebetulnya cepat. CVR (Cockpit Voice Recorder) teknologi terkini itu 2 jam. Kalau alatnya sesuai kurang lebih satu jam,” jelasnya.

“Kalau tidak sesuai kita perlu download data dari blackbox selama dua jam secara penuh,” sambungnya.

Namun data yang sudah dapat dibaca itu masih juga harus dilakukan analisis, evaluasi dan membandingkan data-data di blackbox dengan data lain.

Sehingga, waktu yang dibutuhkan pun memakan waktu lama.

“Dengan sangat menyesal tidak mungkin dalam waktu dekat,” ujarnya.

Dia mengatakan dalam lingkup internasional pun juga dilakukan proses penyesuaian data mengenai sensor dan semua yang menyangkut spesifikasi akan diperiksa satu per satu.

Proses tersebut sama seperti yang dilakukan pada pesawat AirAsia jenis airbus yang jatuh 2014 lalu.

“CVR dari cuma empat channel. Kita mendengarkan seperti di studio musik tapi untuk FDR data yang terakhir biasanya pesawat terbaru diatas 2015 mungkin 1.400 parameter,”

“AirAsia kemarin jumlahnya 1.400 parameter jenisnya airbus, pesawat ini generasinya sama dengan Boeing 737 max-8,”

“Pesawat ini generasinya sama dengan airbus kemungkinan parameternya sama, apakah sesuai dengan spek aslinya, sensornya bekerja dengan baik sampai kita lihat seluruh profil yang ada,” jelasnya.

Ony menegaskan, lembaga internasional memberikan waktu satu tahun untuk menyelidiki penyebab kecelakaan.

Akan tetapi, dalam jangka waktu satu bulan KNKT diwajibkan membuat preliminary report yang berisi apa saja yang didapatkan dalam proses investigasi ini.

“Kita usaha semaksimal mungkin mengumpulkan. Satu bulan kita kumpulkan data yang ada. Seluruh pihak terkait kita hubungi dan kolek datanya. Preliminary report,”

“Setelah itu kita dapat data pilot, kondisi cuaca, bentuk serpihannya, itu yang nanti akan ditemukan,” tuturnya.

(JPG/ruh/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...