Sindiran Jokowi, Antara Humor Tinggi dan Kiat Jaga Koalisi

305
Jokowi-Surya Paloh

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyindir Ketum Partai NasDem Surya Paloh yang melakukan pertemuan dengan Presiden PKS Sohibul Iman. Sindiran itu kemudian dianggap sebagai humor tinggi Jokowi dan kiat menjaga koalisi.

Sindiran Jokowi itu terlontar saat Jokowi hadir di acara HUT ke-55 Golkar di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (6/11/2019). Di atas mimbar, Jokowi sontak menyapa Paloh dibarengi dengan sindiran.

“Bapak Surya Paloh yang kalau kita lihat malam hari ini lebih cerah dari biasanya. Sehabis pertemuan beliau dengan Pak Sohibul Iman di PKS. Wajahnya cerah setelah berangkulan dengan Pak Sohibul,” kata Jokowi.

Sapaan Jokowi ke Paloh itu pun sontak membuat tamu undangan tertawa. Jokowi juga menyinggung soal rangkulan Paloh ke Sohibul Iman yang dinilainya tak biasa. Apalagi, Jokowi mengaku tak pernah dirangkul seerat itu oleh Paloh.

“Saya tidak tahu maknanya, tapi rangkulannya tidak seperti biasa. Tidak pernah saya dirangkul seperti itu,” kata Jokowi.

Jokowi bahkan sempat bertanya kepada Paloh terkait alasannya bertemu dengan Sohibul. Dia bertanya karena NasDem masih berada di koalisi, sedangkan PKS di luar koalisi.

“Tapi jawabnya lain waktu. Saya tanya dong karena beliau masih di koalisi pemerintah,” ucapnya.

Paloh langsung merespons sindiran Jokowi itu. Dia menilai Jokowi hanya bercanda dan memiliki selera humor tinggi.

“Masa kalian nggak tanggap? Pak Jokowi itu sense of humor yang tinggi, ha-ha-ha…,” kata Paloh di Hotel Sultan.

Paloh merasa tetap gembira menerima respons Jokowi. Dia mengatakan komunikasinya dengan Jokowi tetap dijaga, meski juga menjalin hubungan dengan partai di luar koalisi.

Bahkan, Paloh tak menanggap ucapan Jokowi sebagai peringatan. Menurutnya, ucapan hubungan dirinya dengan Jokowi baik.

“Saya nggak merasa itu, kalau itu dianggap suatu warning, ya saya pikir itu terlalu naif kita. Sayanglah kemajuan berdemokrasi jauh sudah kita miliki ya kan? Suasana batiniah yang begitu baik yang sudah kita miliki,” ucap Paloh.

Ketua DPP NasDem Willy Aditya menilai hubungan Paloh dan Jokowi sudah seperti kakak dan adik. Jadi ucapan Jokowi ke Paloh dianggap lumrah. Willy juga menganggap guyonan Jokowi ke Paloh sebagai bagian dari proses mencairkan suasana politik.

“Kalau politik kita isinya pantun, guyon dan itu adalah suatu tradisi yang jauh lebih baik atau sehat karena mampu merespon satu sama lain. Artinya kan nggak sehat kalau sesuatu terjadi kemudian diam-diaman. Itu lebih nggak sehat. Gitu ya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Willy menjelaskan Paloh sebelumnya juga telah menyampaikan kepada Jokowi bahwa partainya ingin menjalin silaturahmi dengan semua parpol dan tokoh politik. Dia pun menegaskan tak ada saling terbawa perasaan (baper) dalam relasi keduanya.

“Jadi kalau misalnya ada kritikan, itu kritikan yang membangun segala macam, bukan suatu hal yang baperan dan Pak Jokowi melontarkan itu kepada Bang Surya itu suatu hal yang baik-baik saja ketimbang satu sama lain baper itu nggak sehat,” sambung dia.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, mengatakan sindiran Jokowi itu juga dinilai sebagai sebuah upaya meminta kejelasan dalam koalisi. Hendri menduga sindiran itu menunjukkan bahwa Jokowi sedang deg-degan atas pertemuan kedua tokoh tersebut. Apalagi, kini beberapa partai sudah melakukan manuver. Tak terkecuali partai yang ada dalam koalisi, seperti NasDem.

“Jadi kalau pertanyaannya kenapa Jokowi deg-degan? Ini kan periode kedua dia, biasanya menteri-menteri itu, parpol itu loyalnya sampai tahun ketiga. Tahun keempat dan kelima udah cari panggung sendiri. Nah ini mungkin Jokowi khawatir NasDem akan bermanuver di tahun ketiga-keempat pemerintahannya. Apalagi itu bermanuvernya dengan oposisinya (PKS) dia gitu,” ucap Hendri Satrio kepada wartawan, Kamis (7/11).

Selain itu, Hendri menduga-duga sindiran Jokowi ini bisa jadi terkait dengan agenda Jokowi pada 2024 yang masih disimpan. Menurutnya, ada kiat Jokowi menyindir Paloh untuk menjaga koalisi. Kaitannya mungkin bisa berhubungan dengan amandemen konstitusi hingga soal agenda pencalonan putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, di Pilwalkot Solo. Meski menurutnya hal ini masih jadi misteri.

“Jadi pertanyaannya sebetulnya apakah ada agenda yang disimpan Jokowi terkait 2024, apakah ada kaitannya dengan GBHN amandemen UUD 1945 yang bisa mengubah beberapa pasal, termasuk periode presiden dan pemilihan presiden. Apakah kekhawatiran ini juga ada kaitannya dengan pencalonan Gibran sebagai Wali Kota Solo? Ini misterinya kan banyak kekhawatiran Jokowi ini,” ungkapnya.
(idn/dnu) detik

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...