Sindiran Halus Pelatih AS Soal Zohri yang Bingung Cari Bendera, ‘Harusnya Bendera Polandia Dibalik’

1922
Muhammad Zohri

Selebrasi Lalu Muhammad Zohri saat memenangkan kejuaraan dunia lari 100 meter di Finlandia menyita perhatian publik.

Yakni saat Zohri bersujud di lintasan lari usai menjadi juara dunia.

Dalam video yang beredar, Zohri bersujud selama beberapa detik.

Sikapnya itu seolah menunjukkan rasa kebersyukurannya kepada Tuhan atas prestasi yang telah ditorehnya.

Selepas bersujud, Zohri pun langsung bangkit kembali dan berlari ke arah pewarta.

Namun selepas itu, ada peristiwa yang membuat publik Indonesia terhenyak.

Yaitu momen ketika Zohri berlari kesana kemari demi mencari bendera Indonesia.

Zohri kebingungan mencari tim officialnya
Zohri kebingungan mencari tim officialnya (Youtube)

Dalam video yang beredar memang terlihat Zohri menengok ke segala arah untuk mencari timnya.

Namun dalam sebuah foto justru terlihat Zohri sedang meletakkan bendera merah putih di pundaknya.

Publik pun sempat lega dan akhirnya tak lagi mempermasalahkan soal insiden bendera itu.

Zohri saat mengangkat bendera merah putih
Zohri saat mengangkat bendera merah putih (Youtube)

Tapi beberapa waktu kemudian, sindiran dari seorang pelatih asal Amerika Serikat menjadi perbincangan publik.

Pelatih yang berasal dari University of Virginia itu mengungkapkan bahwa seharusnya ada pihak yang memberikan Zohri bendera Polandia saja.

Sebab warna bendera Polandia sama dengan bendera Indonesia yakni merah dan putih. Tinggal dibalik saja.

Hal tersebut dituliskan Mario Wilson dalam balasan postingan yang diunggah akun resmi IAAF.

“Someone should’ve given him a Polish flag then reverse it

(Seseorang seharusnya memberikan dia (Lalu) bendera Polandia lalu dibalik),” tulis Mario Wilson.

Penjelasan itu pun banyak menuai respon dari warganet Indonesia.

Klarifikasi soal bendera Zohri dari KBRI Finlandia

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Finlandia memberikan klarifikasi terkait insiden Lalu Muhammad Zohri yang kebingungan mencari bendera Merah Putih seusai memenangi perlombaan 100 meter.

Zohri sedang menjadi perbincangan di berbagai linimasa setelah memenangi lomba lari 100 meter putra Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia, Rabu (11/7/2018).

Namun, euforia tersebut sedikit ternoda dengan adanya insiden yang dialami Zohri.

Setelah finis terdepan, pemuda 18 tahun asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu tampak kesulitan mencari bendera kebangsaan yang biasanya jadi simbol perayaan bagi para pelari.

Sementara itu, dua pelari asal Amerika Serikat yang finis setelah Zohri, Anthony Schwartz dan Eric Harrison, justru langsung mendapatkan bendera negara mereka.

Terkait insiden tersebut, Duta Besar Indonesia untuk Finlandia, Wiwiek Setyawati Firman, memberikan klarifikasi.

Melalui keterangan tertulisnya, Wiwiek menjelaskan pihaknya tak punya akses masuk ke arena untuk memberikan bendera, terkecuali wartawan televisi.

“Sangat banyak media Amerika Serikat (AS) yang siap meliput di garis finis. Mereka sudah bawa bendera mereka karena mereka yakin AS selalu menang di sprint 100 meter,” tulis Wiwiek.

“Media Indonesia satu pun tidak ada yang hadir. Jadi, tidak ada media kita yang meliput di garis finis. Sementara para pelatih duduk di tribune, tidak boleh masuk ke lintasan. Bagaimana pelatih bisa cepat masuk ke garis finis berikan bendera, dibanding wartawan-wartawan AS yang memang sudah siap siaga meliput di garis finis?”

Selain itu, Wiwiek juga memastikan tidak ada pakem atau aturan yang mengharuskan atlet mendapatkan bendera negaranya setelah finis.

Tidak adanya pakem tersebut, kata Wiwiek, sudah dinyatakan pelatih dari Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI).

“Hanya Superman-lah yang bisa loncati pagar masuk ke lintasan untuk berikan bendera di garis finis dengan cepat,” tulis Wiwiek.

Wiwiek pun menegaskan, KBRI Finlandia dan masyarakat Indonesia di Tampere selalu mengawal tim dari PB PASI.

(*)

Tribunnews

 

 

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.