Sejarah, ITB Resmi Dipimpin Rektor Perempuan Pertama Kali, Ini Rekam Jejaknya

10172
Reini D Wirahadikusuma dilantik sebagai perempuan pertama yang jadi Rektor ITB. Foto ist

BANDUNG – Institut Teknologi Bandung (ITB) resmi dipimpin seorang Rektor perempuan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Ia adalah Profesor N R Reini D Wirahadikusuma yang adalah Guru Besar dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB.

Terpilihnya Reini juga merupakan hal bersejarah bagi ITB karena ini adalah kali pertama kampus itu dipimpin oleh rektor perempuan.

Usai pelantikan, Reini menyadari dia memiliki tanggung jawab besar sebagai Rektor perempuan pertama ITB.

“Mengenai Rektor pertama wanita itu, saya juga belum terlalu ini ya. Masih blank, masih blank saja gitu,” jelasnya, usai pelantikan di ITB, Senin (20/1).

Akan tetapi, ia menuturkan mendapat banyak masukan, baik dari rekan maupun kolega.

Rektor ITB Reini D Wirahadikusuma

Rektor ITB Reini D Wirahadikusuma

“Saya menyadari ya, setelah disampaikan berkali-kali, teman-teman yang menelepon selalu menyampaikan tersebut, bahwa it’s a big deal ya. Betul itu dan saya juga paham,” terangnya.

Reini bercerita bahwa selama dia bekerja menjadi dosen hingga meraih gelar profesor, semua itu dia lakukan karena ingin jadi role model.

Dia mengakui bahwa kiprahnya ini tak lepas dari peran keluarga, terutama suami dan anak-anak.

Reini merupakan wanita kelahiran Jakarta 25 Oktober 1968. Reini sebelumnya merupakan staf pengajar di program studi Teknik Sipil di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB.

Sarjana teknik sipil dengan pengutamaan Rekayasa Struktur dan Geoteknik itu setelah lulus dengan predikat cum laude pada 1991 menjadi pengajar di almamaternya sejak 1992.

Reini lalu melanjutkan studi hingga meraih gelar Master in Engineering dari Purdue University, Amerika Serikat pada tahun 1996.

Setelah itu, Reini melanjutkan studi S3 di universitas yang sama hingga lulus 1999.

Reini juga tercatat menjabat menjadi Ketua Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi di ITB hingga 2023 mendatang.

Motivasi dirinya menjadi Rektor adalah sebagai ungkapan syukur berkiprah di ITB selama 25 tahun lebih.

“Saya ingin memberi lebih baik lagi kepada ITB, agar ITB menjadi tempat yang nyaman bagi mahasiswa, dosen, tenaga pendidikan, dan stakeholder lainnya,” terangnya.

Dengan pendekatan Human Capital Management, tenaga kependidikan dan staf profesional didorong memperkuat fungsi-fungsi manajemen institusi.

“Sedangkan dosen lebih fokus pada peran sebagai ujung tombak riset unggulan,” jelasnya.

(arf/pojoksatu)

Comments

comments

Loading...