Sebut Risma Harus Terima Kritik Meski Kasar, Mantan Jubir Gus Dur: Jika Tak Mau, Jangan Jadi Pejabat

451
Adhie Massardi

Mantan Juru Bicara Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Adhie Massardi, menyebut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini harus menerima kritikan meski berupa kata kasar.

Adhie menyebut jika seorang pejabat publik seperti Risma tak mau dikritik, maka lebih baik tak usah menjadi pejabat.

Dilansir Tribunnews.com, hal itu diungkapkan Adhie dalam APA KABAR INDONESIA MALAM yang diunggah di YouTube Talk Show tvOne, Rabu (5/2/2020).

Diketahui, Adhie yang juga merupakan aktivis melaporkan Risma ke Ombudsman lantaran sang wali kota melaporkan penghinanya, Zikria Dzatil ke polisi.

Adhie kemudian mengungkit bahwa Ombudsman dirancang oleh Gus Dur dan seharusnya bisa untuk mengontrol perilaku pejabat.

Namun, menurut Adhie, yang terjadi malah para pejabat memanfaatkan adanya UU ITE, yang mana media sosial memang kerap digunakan untuk sarana melontarkan kritikan.

“Bisa dijelaskan tuntutan kepada Ombudsman? Dan ini sebenarnya Bu Risma melaporkan si pelaku, Zikria, atas nama pribadi, bukan sebagai pejabat publik,” ujar presenter Putri Viola.

“Ombudsman dulu didesain oleh Gus Dur tahun 2000 itu untuk mengontrol perilaku pejabat publik,” jawab Adhie.

“Nah, saya melihat sejak munculnya Undang-Undang ITE, banyak sekali pejabat publik yang mengadukan atas nama pencemaran nama baik,” sambungnya.

Adhie menyebut seharusnya pejabat seperti Risma sudah menyerahkan hatinya untuk rakyat dan tahan hinaan.

Bahkan Adhie menganggap para pejabat harusnya tahan banting meski hinaan yang didapat berupa kata kasar.

Jika pejabat tak tahan dengan kritikan atau hinaan kasar, Adhie menyebut lebih baik tak usah menjadi pejabat.

“Padahal menurut saya, pejabat publik itu memang dipilih oleh publik sehingga hatinya harus 100 persen untuk publik,” jelas Adhie.

“Jadi ketika publik bermasalah atau dia sempat menghina atau mengkritik, ya dia terimalah sebagai bagian dari kritik, apapun bentuknya,” sambungnya.

“Walaupun mungkin agak kasar dan sebagainya?” tanya Putri.

“Tidak masalah. Ya itu konsekuensi dari pejabat publik. Jadi kalau tidak mau dihina, tidak mau dikritik ya jangan jadi pejabat publik,” jawab Adhie.

Adhie menganggap profesi sebagai pejabat publik sudah memiliki banyak keistimewaan dalam hidup sehingga hendaknya memaafkan orang yang menghinanya.

“Karena pejabat publik itu, pahalanya besar, dan kalau dia mengurus rakyat dengan benar pahalanya juga besar,” terang Adhie.

“Dapat privilege, keluarganya juga dapat privilige. Itulah sebabnya memberi maaf kepada pengritiknya apapun bunyinya itu enggak ada masalah,” imbuhnya.

Menurut Adhie, wajar-wajar saja kritikan dilontarkan orang seperti Zikria Dzatil lantaran kehidupan zaman sekarang memang tak bisa dilepaskan dari gadget atau media sosial.

“Era milennial saya perhatikan di masyarakat itu antara otak, hati, dan jari itu sudah menyatu dengan gadget,” kata Adhie.

Berikut video lengkapnya:

 

Risma Maafkan Zikria Dzatil

Dikutip dari Kompas.com, Risma sudah memaafkan Zikria Dzatil yang sebelumnya mengungkapkan permintaan maaf secara tertulis.

Setelah Risma memberi maaf, laporannya ke polisi tengah dikaji dan kemungkinan akan ada keringanan hukuman untuk Zikria Dzatil.

Kepala Polrestabes Surabaya Kombes Sandi Nugroho menyebut pihaknya tengah menindaklanjuti sesuai dengan aturan.

“Iya, (keringanan hukuman) akan kami kaji. Kami proses nanti, itu tugasnya Pak Sudamiran (Kasatreskrim),” ujar Sandi, Rabu (5/2/2020).

Sandi juga mengingatkan kasus penghinaan Risma ini agar menjadi pelajaran supaya warganet tak sembarangan melontarkan hinaan di media sosial.

“Maka dari itu, pandai-pandailah untuk menyaring (konten yang diunggah) sebelum men-share. Jangan mudah terprovokasi dengan isu yang belum jelas kebenarannya,” tegas Sandi.

.tribunnews.

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...