Saksi Ungkap Ada Empat Saham Grup Bakrie yang Menurunkan Nilai Aset Jiwasraya

388
Sidang pembacaan dakwaan perkara dugaan korupsi pengelolaan dana dan penggunaan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) untuk enam orang terdakwa di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada Rabu (3/6/2020). | ANTARA/Desca Lidya Natalia

Saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada persidangan kasus PT Asuransi Jiwasraya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Faisal Satria Gumay, mengungkapkan bahwa ada empat Saham Grup Bakrie yang ikut mengerek penurunan Aset Investasi Jiwasraya yang akhirnya menimbulkan kerugian.

Menurut Faisal yang menjabat sebagai Kepala Divisi Investasi Jiwasraya itu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam hasil auditnya menyebutkan bahwa Jiwasraya berinvestasi di instrumen Saham maupun Reksa Dana Saham yang tidak berkualitas atau tidak memiliki potensi untuk bertumbuh optimal.

“Untuk produk Reksa Dana, Asuransi Jiwasraya memegang Reksa Dana SahamReksa Dana pendapatan tetap dan Reksa Dana terproteksi,” ungkapnya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (13/7/2020).

Faisal juga menyebutkan bahwa ada beberapa Saham yang ada dalam semua underlying instrument Reksa Dana yang dipegang Jiwasraya, salah satunya adalah Saham PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR).

Berdasarkan analisa, Faisal menjelaskan, pada 2014 lalu Asuransi Jiwasraya menempatkan dana di Reksa Dana Saham yang produknya dibuat berdasarkan permintaan Jiwasraya dan mendapatkan kesepakatan bersama dengan Manajer Investasi (MI).

“MI diminta untuk membikinkan produk khusus untuk AJS (Asuransi Jiwasraya),” ujarnya.

Faisal mengatakan, penurunan Aset Investasi pada Reksa Dana Saham yang dimiliki Jiwasraya merupakan imbas dari kesepakatan-kesepakatan yang terjadi sejak 2014 tersebut.

“Sekarang, kondisi Reksa Dana Saham yang dipegang AJS itu adalah imbas dari acc (accord/kesepakatan) yang sebelum-sebelumnya,” katanya.

Faisal menemukan fakta bahwa ada 24 emiten yang sahamnya menjadi basis Reksa Dana milik Jiwasraya mengalami penurunan harga hingga menyentuh level terendah di angka Rp50 per lembar.

“Dari 24 Saham itu, ada dua emiten yang delisting dari Bursa Efek Indonesia,” ungkapnya.

Yang menarik dari fakta persidangan yang disampaikan Faisal tersebut, ternyata ada empat emiten yang merupakan perusahaan dari Grup Bakrie, yakni PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Selain empat Saham tersebut, Faisal merincikan SahamSaham Rp50 per lembar berikutnya antara lain BTEK, JGLE, SMRU, ARMY, ARTI, BIPI, BORN, CNKO, ELTY, HADE, IIKP, KBRI, MTFN, MYRX, RIMO, SIMA, SUGI, TRAM dan TMPI.

“Dua Saham yang sudah delisting adalah PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT) dan PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP),” ujarnya.[]

Sumber Berita / Artikel Asli : Akurat

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...