Rustam Ibrahim dan Ferdinand Hutahaean Angkat Bicara soal Aksi Bela Pertamina

543

Kadiv Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean dan Direktur LP3ES Rustam Ibrahim turut mengomentari aksi bela Pertamina terkait akuisisi Pertagas oleh PGN.

Dilansir TribunWow.com, hal tersebut tampak dari laman Twitter mereka yang diunggah pada Rabu (11/7/2018).

Ferdinand Hutahaean mengatakan jika dirinya akan mendukung aksi tersebut.

Menurut Ferdinand, kebijakan yang dibuat pemerintah terhadap Pertamina justru semakin membuat Pertamina berdarah-darah.

• Lima Amanat Presiden Joko Widodo kepada Polri

@LawanPoLitikJKW: Pagi ini saya mendapat kiriman foto2 PERLAWANAN dari sahabat2 ku Forum Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB).

Mrk melawan kebijakan Pemerintah thdp @pertamina yg semakin membuat Pertamina berdarah2.

Aku berdiri bersama kalian kawan..!!

Sementara itu, Rustam Ibrahim mengatakan jika Pertamina merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sehingga tugas dari Pertamina adalah kesejahteraan rakyat, bukan untuk mencari untung saja.

Lebih lanjut, Rustam Ibrahim meminta agar para karyawan tidak egois.

@RustamIbrahim: Mau berdarah-darah kek, Pertamina itu BUMN, milik NEGARA yang salah satu hak hidupnya adalah untuk KESEJAHTERAAN RAKYAT.

Bukan untuk mencari untung semata.

Makanya karyawan Pertamina jangan egois.

Kalau harus subsidi ya disubsidi.

Kalo hanya mau untung ya swastakan saja.

Lebih lanjut, Rustam Ibrahim mengatakan jika karyawan Pertamina harus meniru ASN yang gajinya biasa-biasa saja.

@RustamIbrahim: Karyawan BUMN kok mau gaji dan bonus gede.

Harusnya tiru ASN yang gajinya biasa2 saja.

Mau gaji dan bonus gede jadi karyawan swasta.

Itu namanya tidak punya kepedulian dengan kesejahteraan rakyat.

Diberitakan Kompas.com, PT Perusahaan Gas Negara tbk (PGN) telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan Pertamina.

Penandatanganan CSPA antara Pertamina dan PGN merupakan kelanjutan dari proses integrasi PGN untuk mengakuisisi Pertagas.

Hal ini sebagai tindak lanjut pendirian holding BUMN migas pada 11 April 2018.

“Satu demi satu tahapan proses integrasi antara PGN dan Pertagas ini kami lalui dan pada hari ini kami mencatatkan sejarah baru dengan penandatanganan CSPA,” ujar Sekretaris Perusahaan PGN, Rachmat Hutama melalui keterangan tertulis, Jumat (29/6/2018).

Dengan penandatanganan CSPA ini, PGN menjadi pemilik mayoritas Pertagas sebanyak 51 persen.

Melalui integrasi ini, holding BUMN Migas diharapkan menghasilkan sejumlah manfaat.

Di antaranya menciptakan efisiensi dalam rantai bisnis gas bumi sehingga tercipta harga gas yang lebih terjangkau kepada konsumen, meningkatkan kapasitas dan volume pengelolaan gas bumi nasional, serta meningkatkan kinerja keuangan holding BUMN migas.

Selain itu, akusisi ini mampu meningkatkan peran holding migas dalam memperkuat infrastruktur migas di Indonesia serta menghemat biaya investasi dengan tidak terjadinya lagi duplikasi pembangunan infrastruktur antara PGN dan Pertagas.

Dengan mengakuisisi Pertagas, PGN tidak lagi memiliki kompetitor.

Direktur Keuangan PGN Said Reza Pahlevy mengatakan, selama ini perseroan dan Pertagas bersaing mendapatkan pelanggan dalam menyuplai gas.

“Potensi ke depan bisnis gas itu, untuk PGN terutama, tidak akan lagi ada head to head sama Pertagas. Kompetisi sudah hilang,” ujar Reza di Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Dikutip Tribunnews, Direktur PGN Jobi Triananda Hasjim juga mengajak semua karayawan Pertagas untuk bekerjasama dalam mencapai target yang ditetapkan pemerintah.

Menurut Jobi, sinergi seluruh karyawan PGN dan Pertagas mutlak diperlukan mengingat kedua perusahaan sudah resmi bergabung sebagai ujung tombak bisnis gas PT Pertamina.

“Integrasi Pertagas ke PGN merupakan milestones baru dari sejarah industri gas bumi Indonesia. Sinergi kedua perusahaan di sektor hilir gas bumi yang tadinya berkompetisi, mulai saat ini akan bahu membahu dalam melakukan ekspansi dan investasi demi mengejar target yang lebih besar lagi,” ujar Jobi.

Jobi menuturkan, jika semua keuntungan juga akan kembali ke Pertamina.

“Makanya ayok kita bersama-sama, mengembangkannya bersama-sama. Toh ujung-ujungnya, semua benefit akan kembali ke Pertamina. Karena sekarang 57 persen saham PGN di Pertamina. Jadi apa yang kita perjuangkan ini demi kebaikan Pertamina,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait dengan keraguan sejumlah pihak, termasuk Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (SPPB) akan dampak positif dari pembentukan holding BUMN Migas, Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Herman Khaeron meminta seluruh pihak fokus pada tujuan integrasi kedua perusahaan semata-mata hanya untuk tumbuh bersama, lebih efisien, terintegrasi, dan efektif melayani masyarakat.

Manajemen PGN menurutnya harus berbicara secara langsung dengan Serikat Pekerja untuk menghilangkan kekhawatiran para pekerja.

“Tentu ada yang khawatir bakal terjadi perbedaan perlakuan di Pertagas dari sebelumnya anak usaha yang sejajar dengan PGN menjadi cucu usaha Pertamina,” kata Herman.

Namun, ia memastikan tidak ada hal yang mencemaskan bagi para pekerja Pertagas dari aksi korporasi tersebut.

“Hanya ada beberapa saja yang memanasi, mengompori, yang saya kira kita harus diniatkan untuk membangun bangsa agar lebih efisien dan lebih baik,” ungkap Herman. (TribunWow.com/Lailatun Niqmah)

.tribunnews.

 

 

 

Comments

comments

Loading...