Rocky Gerung Sindir Kedunguan Buzzer yang Kaitkan Isu Laut Natuna Utara dengan Taliban

314
Rocky Gerung

Pengamat politik Rocky Gerung menyindir kedunguan buzzer Istana yang mengaitkan isu Laut Natuna Utara dengan Taliban.

Rocky Gerung menilai buzzer seolah tak mengerti bahwa telah terjadi pergeseran paradigma Amerika Serikat tentang Taliban yang tak lagi dikaitkan dengan isu radikalisme karena tidak adanya arahan dari ‘kakak pembina’.

“Itulah kedunguan buzzer sebetulnya yang nggak ngerti bahwa shifting paradigm-nya udah terjadi. Paradigma radikal udah selesai, karena itu Amerika Serikat bersiap untuk melakukan perimbangan kekuatan baru di kawasan. Tapi buzzerbuzzer ini nggak di-brief oleh ‘kakak pembina’ sehingga dia masih masuk dengan ide itu, Talibanisme,” kata Rocky Gerung sebagaimana dikutip Kabar Besuki dari kanal YouTube Rocky Gerung Official pada Senin, 20 September 2021.

Rocky Gerung mengatakan, penyakit kedunguan yang diderita oleh buzzer disebabkan oleh masuknya asupan informasi dari Istana yang kerap dinilai menyesatkan.

Tak mengherankan jika Rocky Gerung menilai buzzer masih berkutat dengan isu Taliban yang sudah tak lagi dipersoalkan oleh Amerika Serikat, yang kini negara adidaya tersebut justru lebih concern terhadap isu Laut Natuna Utara.

“Jadi kedunguan buzzer ini tergantung pada suplai informasi dari Istana, dan informasi Istana gak nyampe ke buzzer. Jadi buzzer masih menggoreng isu Taliban, Amerika nanya ‘Ngapain? Gw udah keluar dari situ nggak ada lagi istilah Taliban, gw lagi dihadapkan pada soal bahaya China di skala dunia dan baru di-contain di kawasan Asia Tenggara yang paling rentan’,” ujarnya.

Rocky Gerung menilai, hal seperti itu semakin menunjukkan bahwa buzzer hanyalah sekelompok orang yang berbicara berdasarkan pesanan user yang membutuhkan tanpa adanya daya kritis, sementara user yang menggunakan jasa buzzer tersebut juga tak memiliki sikap tegas (dalam hal ini Istana).

“Bagian ini betul-betul menunjukkan buzzer ini betul-betul disuruh-suruh aja oleh penggunanya. Jadi bukan orang yang bisa berpikir, nah yang bisa berpikir justru nggak bisa ucapkan pikirannya karena juga nggak punya posisi,” katanya.

Rocky Gerung juga berpendapat, sejauh ini Presiden Jokowi juga sering dinilai gagap dalam berbicara di forum internasional.

Dia juga mengatakan, banyak kalangan menunggu kehadiran Menhan Prabowo Subianto untuk berbicara mengenai sikap Indonesia dalam menghadapi isu terkini Laut Natuna Utara khususnya ketika Amerika Serikat, Inggris, dan Australia membentuk pakta pertahanan bersama yakni AUKUS.

“Kita juga tahu bahwa presiden juga nggak bisa bicara di forum internasional, sehingga publik internasional menunggu ‘Yang mesti bicara siapa tuh?’. Orang menganggap, ya akhirnya Pak Prabowo yang mesti kasih semacam exposure bahwa China Selatan itu rada-rada aman Indonesia karena Indonesia punya Frigate untuk mencegah ekspansi China Selatan,” ujar dia.

Rocky Gerung menegaskan bahwa dunia internasional sangat menunggu peranan Indonesia untuk memberi kepastian terkait sikap dalam menghadapi isu terkini Laut Natuna Utara.

Rocky Gerung agar Indonesia tak menerapkan ‘diplomasi cengeng’ yang memperlihatkan seolah-olah bebas aktif namun justru terseret dalam pusaran konflik antara AUKUS dan China.

“Jadi Indonesia tetap dituntut untuk memberi kepastian, jangan masuk dalam diplomasi yang terlalu cengeng seolah-olah bebas aktif padahal sebetulnya harus ada keputusan,” tuturnya.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here