Rizal Ramli: Sri Mulyani Sudah Menyerah Selamatkan Rupiah

785
Sri Mulyani

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia, Rizal Ramli menyebut Menteri Keuangan, Sri Mulyani sudah menyerah untuk menyelamatkan rupiah.

Hal tersebut ia ungkapkan melalui akun Twitter pribadinya @RamliRizal pada Kamis (11/10/2018).

Rizal Ramli menyebut bahwa dari awal kondisi rupiah selalu ‘over-rated’, tidak cukup canggih dan selalu ‘Behind the Curve’

Lantaran kondisi tersebut, Rizal Ramli mengungkapkan tidak aneh jika makro ekonomi Indonesia meningkat dua tahun terakhir.

“Sri Mulyani Sudah Menyerah Selamatkan Rupiah .. Memang dari awal ‘over-rated’, tidak cukup canggih dan selalu“Behind the Curve”. Tidak aneh resiko makro ekonomi Indonesia meningkat 2 tahun terakhir,”tulisnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, kondisi rupiah yang semakin melemah terhadap dollar AS disebabkan faktor eksternal.

Ia memastikan pelemahan rupiah tak ada kaitannya dengan musibah gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah.

“Tidak (berhubungan dengan bencana). Saya lihat dominasi hari ini mayoritas berasal dari luar yang sangat dominan pada saat yang lalu. Kita lihat sentimen kemarin adalah Italia yang defisitnya besar,” kata Sri Mulyani di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/10/2018) yang dilansir dari Kompas.com.

“Sekarang Italia komitmen menurunkan defisit APBN, lalu ada sentimen yang lain. Mayoritas ini masalah eksternal,” tambah dia.

Sri Mulyani memastikan, pemerintah terus bekerja agar faktor-faktor eksternal tersebut tak membuat rupiah semakin anjlok.

Menurut dia, Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter sudah melakukan langkah-langkah bauran kebijakan.

Pemerintah dari sisi fiskal juga terus akan melaksanakan berbagai langkah yang sebelumnya sudah diputuskan bersama sebagai langkah mengantisipasi pelemahan rupiah.

Salah satunya dengan memonitor impor barang.

“Utamanya impor barang konsumsi dan diproduksi dalam negeri, 1.147 itu nanti akan kami lihat laporannya setiap minggu dan posisi terakhir sudah menunjukkan penurunan,” kata mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini.

Pemerintah, lanjut dia, juga terus menggenjot penggunaan biodiesel 20 persen (B20) untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.

“Tapi, kita akan lihat karena akhir September terjadi kenaikan dan kami akan lihat. Dengan adanya bencana seperti ini, akan ada kebutuhan, dan kami akan melihat apa yang sifatnya temporer dan sifatnya tren atau kecenderungan,” ucap Sri Mulyani.

Rizal Ramli Ingatkan Krisis keuangan

Sebelumnya Rizal Ramli mengingatkan agar warganet tidak melupakan sejarah mengenai krisis keuangan yang pernah dialami oleh Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Rizal Ramli dalam unggahan Twitter pribadinya @RamliRizal pada Kamis (11/10/2018).

Dirinya menuliskan bahwa pada awal tahun 1997 menjelang krisis moneter, International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia memuji kehebatan ekonomi Indonesia.

Rizal Ramli juga menyampaikan bahwa setelah pujian tersebut, krisis mulai terjadi di Indonesia pada Oktober 1997.

Hal tersebut ia sampaikan untuk menanggapi pernyataan Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde yang mengatakan bahwa kondisi perekonomian Indonesia excellent atau luar bisa.

Rizal Ramli mengingatkan untuk tidak melupakan sejarah, sehingga persoalan krisis moneter pada 1997 tidak terulang untuk kedua kalinya.

“Awal 1997 menjelang krisis moneter, IMF & Bank Dunia puji2 kehebatan ekonomi Indonesia. Oct 1977, krisis mulai terjadi di Indonesia. Jangan lupa sejarah, supaya tidak jadi korban untuk kedua kalinya. Director IMF Lagarde: Ekonomi Indonesia Excellent,” tulis Rizal.

Diketahui, Direktur Pelaksana IMF, Christine Lagarde memberikan pernyataan soal kondisi perekonomian Indonesia.

Hal tersebut tampak dari video yang diunggah di laman twitter @MurtadhaOne, Selasa (9/10/2018).

Pada video tersebut, tampak Christine Legarde memberikan pujiannya kepada pemerintah atas perekonomian Indonesia yang sudah kuat dan sehat.

Christine Legarde bahkan mengakui bahwa Indonesia tidak membutuhkan bantuan pinjaman dari IMF.

“Pertanyaan kedua yang kita tanyakan apakah Indonesia mau menerima pinjaman dari IMF?

Karena IMF adalah badan yang selalu memberikan pinjaman apabila sebuah negara mengalami suatu permasalahan dalam neraca pembayaran mereka.

Dan jawabannya adalah tidak, karena ekonomi Indonesia berada di tangan yang sangat baik sekali.

Presiden, Menteri Keuangan, Pak Luhut, dan semua orang menjalankan semua upaya yang paling baik sekali agar Indonesia berada di tangan yang baik,” ujar Christine Lagarde dalam bahasa Inggris.

 

(TribunJateng.com/Wor Seto)

tribunnews

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here