RI Dibanjiri Baja Impor, Ini Komentar Pedas Bos Krakatau Steel

642
Produk baja dari Krakatau Steel
Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) Silmy Karim mengatakan masalah utama industri baja nasional terletak pada industri baja hilir. Pada industri baja hilir tingkat utilisasi atau pemanfaatan kapasitas produksi terpasang rendah yang rata–rata mencapai 43%. Persoalan banjir impor baja juga jadi perhatian serius Presiden Jokowi.

“Kita saat ini mengimpor banyak produk–produk hilir baja. Ini akan mematikan industri hilir, belum Krakatau Steel,” kata Silmy di Jakarta seperti diikutip CNBC Indonesia, Jumat (13/12/2019).

Ia meluruskan pandangan yang menganggap KRAS penghasil utama bahan konstruksi. KRAS merupakan penyuplai baja untuk industri.

“Orang suka salah berpikir bahwa KS itu besi beton, konstruksi beton, nggak. KS itu kuat untuk supply baja untuk industri,” sambungnya.

Silmy mengatakan utilitas bisa dimaksimalkan dengan menutup keran impor. Silmy optimistis setelah melihat pencapaian KRAS yang memecahkan rekor produksi baja lembaran panas (Hot Rolled Coil/HRC) mencapai 203.315 ton pada Oktober 2019. Kemudian bulan lalu, KRAS rekor CRC yang merupakan turunan HRC sekitar 70 ribu ton.

“Artinya kalau kita maksimal capacity […] sekitar 3,5 juta ton, kalau kita bisa full utilisasinya, impor bisa kita kurangi, ini akan menyehatkan pabrik baja di Indonesia,” kata Silmy yang juga Ketua Umum Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesian Iron & Steel Industry Association/IISIA).

Ia mengatakan negara di belahan dunia sedang menjaga industri dalam negeri untuk kepentingan negaranya. Silmy mengaku sedang memperjuangkan penyelesaian yang mendera industri baja nasional dengan Kementerian/Lembaga terkait.

“Indonesia itu tumbuh pertumbuhan ekonomi terus naik, permintaan demand baja naik, masak kita mau nonton impor?” katanya. [ljc]

Bos Krakatau Steel Sebut RI Kebanjiran Impor Baja

Jakarta – Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim bicara soal industri baja nasional. Impor yang berlebihan menurutnya menjadi masalah yang menghambat industri baja nasional untuk tumbuh.

Silmy menilai saat ini impor di Indonesia kelebihan impor, bukan cuma baja, beragam komoditas juga menurutnya kelebihan impor. Jalan keluar mengurangi impor menurutnya adalah dengan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri.

“Karena kita tahu bahwa saat ini impor kita itu luar biasa. Mengganti impor itu salah satunya dengan menumbuhkan industri,” ucap Silmy ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Kamis (28/11/2019).

Silmy menyatakan Indonesia memiliki pangsa pasar yang besar, baik baja maupun komoditas lainnya. Jumlah permintaan konsumen tidak jadi soal. Saat, negara lain jumlah permintaan konsumennya turun Indonesia menurutnya justru bertumbuh pesat.

“Kalau dari sisi demand itu nggak ada isu, Indonesia sebagai negara yang berkembang pesat demand itu naik. Di mana negara lain demand itu turun, cuma problem kita impornya juga tinggi,” ucap Silmy.

Silmy sendiri hari ini baru saja rapat dengan petinggi Kementerian BUMN, Wakil Menteri Budi Gunadi Sadikin dan Staff Khusus Menteri M. Ikhsan. Dalam rapat itu dia memberikan laporan soal update bisnis dan restrukturasi utang pihaknya.

Selain laporan, Silmy juga bercerita soal komitmen Kementerian BUMN mendorong industri baja nasional. Katanya, BUMN akan mencoba mengupayakan beberapa hal untuk dikerjasamakan dengan kementerian lain dalam rangka penyehatan industri baja nasional.

“Jadi nanti BUMN akan melihat kemungkinannya apa yang bisa diupayakan bersama-sama kementerian lain dalam menyehatkan industri baja nasional,” ucap Silmy.

Comments

comments

Loading...