Reuni 212 Bentuk Kekecewaan kepada Jokowi, Prabowo-Sandi Punya Peluang

370

AKARTA – Jumlah massa aksi reuni 212 tahun ini diklaim oleh pihak panitia jauh melebihi jumlah aksi 212 yang digelar pertama kali pada 2016 lalu.

Aksi 212 yang menuntut pemenjaraan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas tuduhan penistaan agama itu disebut mencapai tujuh juta orang.

Kali ini, aksi yang menghadirkan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sebagai tamu kehormatan itu berjumlah delapan juta orang.

Hal itu menjadi gambaran bahwa publik kecewan terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM), Bin Firman Tresnadi.

Menurutnya, kekecewaan publik itu bukan hanya pada satu aspek kehidupan saja. Melainkan juga menyangkut hukum dan ekonomi.

Pada aspek hukum, kata dia, masyarakat kecewa pemerintah yang begitu ‘telanjang’ mempraktekkan keberpihakannya kepada para pendukung Jokowi.

“Contoh kasus proses hukum terhadap para pendukung petahana cenderung mandeg,” ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL (grup PojokSatu.id), Senin (3/12/2018).

Namun, untuk kasus yang menyangkut kubu oposisi begitu cepat direspon.

“Tapi sebaliknya terhadap orang-orang yang kritis relatif cepat,” lanjut dia.

Sedangkan di bidang ekonomi, menurut dia, kebijakan pemerintah Jokowi seringkali tidak pro rakyat.

“Umat melihat paket kebijakan Jokowi yang terakhir, di mana UKM boleh dikuasai asing merupakan ancaman bagi mereka,” terangnya.

Selain itu, ia memandang bahwa banyaknya massa aksi itu menunjukkan bahwa KH Ma’ruf Amin yang digaet menjadi pendamping Jokowi ternyata juga tidak berpengaruh.

Dengan kata lain, Ma’ruf Amin yang ditarik Jokowi sebagai cawapres gagal menghilangkan kekecewaan umat Islam.

Mayoritas umat Islam yang hadir di Reuni 212 adalah mereka yang merasa penegakan hukum dan kebijakan ekonomi era Jokowi tidak pro rakyat.

“Ini bukan soal figur, ini persoalan rasa keadilan di masyarakat,” katanya.

Karena itu, ia menilai Ma’ruf Amin maupun tokoh lain dianggap tak mampu memenuhi rasa dahaga umat akan keinginan rasa keadilan.

“Keinginan adanya perubahan tak bakal mampu membendung mobilisasi,” tekannya.

Lebih lanjut, Bin Firman mengakui bahwa Reuni 212 memang tak ada kaitan langsung kepada perolehan suara elektoral pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di ajang Pilpres 2019 nanti.

Namun demikian, jika mobilisasi peserta aksi ini juga diarahkan untuk mengawal saat proses pemilihan seperti Pilgub DKI 2017 lalu, maka akan memberi efek yang signifikan.

Kala itu, massa terlibat dalam pengawasan aktif di tempat pemungutan suara (TPS) dengan memotret dan menyebarkan hasil perhitungan TPS sampai mencegat orang-orang yang akan melakukan pembagian sembako.

“Jika tak diarahkan untuk bagaimana massa terlibat aktif dalam proses elektoral, maka akan sia-sia belaka,” pungkasnya.

(jpg/ruh/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...