Relawan Temukan Selisih Angka Kematian Covid-19, Puluhan Ribu Kasus Tak Tercatat Pemerintah

300
COVID-19

Beberapa minggu terakhir ini, kasus positif Covid-19 di Indonesia mengalami kenaikan yang cukup tajam.

Indonesia juga menjadi sorotan dunia akibat lonjakan kasus aktif, hingga mengakibatkan sejumlah fasilitas kesehatan kewalahan dan tidak mampu menampung pasien di rumah sakit.

Namun, dalam beberapa hari ini, secara nasional kasus positif mengalami penurunan, semula 56.757 pada 15 juli menjadi 33.772 pada 21 juli, atau turun sebesar 40 persen.

Kabar lainnya, angka kesembuhan selama 7 hari terakhir juga menunjukkan adanya peningkatan, yaitu sebesar lebih dari 70 persen.

Meski begitu, tidak serta merta menjadi pencapaian yang baik sebab LaporCovid-19 sebuah komunitas yang menampung laporan warga, mengungkap adanya selisih hingga 20.000 kasus pada data kematian yang dilaporkan oleh pemerintah pusat dengan daerah.

Analis data LaporCovid-19 Said Fariz Hibban mengatakan angka kematian akibat Covid-19 yang mereka himpun dari kabupaten dan kota mencapai 98.014 per 21 Juli 2021.

Sementara itu, jumlah kasus kematian yang dilaporkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga 21 Juli 2021 berjumlah 77.583.

“Jadi disini gap-nya agak lebar, sekitar 20 ribu kasus lebih,” kata Said melalui konferensi pers virtual, Kamis, 22 Juli 2021.

Dia juga menjelaskan rentang data kematian ini lebih tinggi dibandingkan pada 25 Juni 2021 lalu, ketika Lapor Covid-19 mencatat selisihnya sebesar 12.955 kasus.

Salah satu inisiator LaporCovid-19 Ahmad Arif mengatakan, hal ini juga terlihat dari selisih data antara pemakaman dengan protokol Covid-19 dengan data kasus konfirmasi di daerah.

Adapun dia mencontohkan, angka kematian di Malang, Jawa Timur pada 19 Juli 2021 yang melaporkan tidak ada kasus kematian, sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman Anadolu Agency.

Sementara data pemakaman menunjukkan bahwa ada 26 orang yang dimakamkan dengan protokol Covid-19 pada hari yang sama, di mana sembilan orang di antaranya meninggal saat isolasi mandiri di rumah.

Dengan demikian, Arif menilai hal ini juga disebabkan oleh definisi kematian terkait Covid-19 yang ‘diutak-atik’ dalam pencatatan data.

“Padahal mengacu pada definisi WHO sudah jelas, yang meninggal dengan kondisi klinis Covid-19 walaupun belum terkonfirmasi positif oleh tes PCR seharusnya dicatat juga, kecuali ada penyebab lain yang lebih jelas seperti kecelakaan,” kata Arif.

Disamping itu, Kemenkes telah merilis jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia per Kamis, 22 Juli 2021 mencapai 3.033.339 orang.

Terjadi penambahan pasien positif Covid-19 sejumlah 49.509 orang dalam kurun waktu 24 jam. Sementara itu, sebanyak 36.370 orang dinyatakan sembuh dari infeksi virus corona, dan menyisakan 561.384 kasus aktif.

Adapun akumulasi pasien yang sudah sembuh dari infeksi per hari ini mencapai 2.392.923 orang. Sedangkan jumlah kasus kematian hingga sore kemarin mencapai 1.449 orang.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here